Public Discourse: Pendidikan Bela Negara, Perlukah?

Admin The Columnist
Public Discourse: Pendidikan Bela Negara, Perlukah? 25/08/2020 820 view Public Discourse Youtube/TNI AL

Belum lama ini Kementerian Pertahanan mengusulkan pemberlakuan Pendidikan Bela Negara (PBN) bagi warga sipil. Tujuannya mulia, melatih kedisiplinan dan meningkatkan nasionalisme, terutama di kalangan anak muda. Dengan menggandeng Kementerian Pendidikan, Kemenhan rencananya menjadikan mahasiswa sebagai sasaran pertama program ini.

Adanya program ini disambut baik oleh Alberto Indrabayu. Baginya, pendidikan militer merupakan kewajiban bagi warga sebagai timbal balik atas apa yang telah mereka peroleh dari negara. Lagi pula pendidikan tersebut mengandung nilai-nilai yang luhur, diantaranya mengajarkan kepekaan sosial dan tanggung jawab.

Hal ini diamini oleh Irfan Bau. Menurutnya, saat ini kita sedang menghadapi serbuan arus globalisasi yang kerap melunturkan nilai-nilai cita rasa keadilan dan semangat cinta tanah air. Oleh karena itu, PBN sangat urgen dalam menghalau serbuan tersebut.

Akan tetapi menurut Iqbal dan Ahmad Nurhalim wujud cinta tanah air dan bela negara tidak bisa diseragamkan antara satu dengan yang lain. Petani, tentara, mahasiswa, presiden atau profesi lainnya memiliki peran berbeda, oleh karenanya manifestasi cinta dan bela negaranya juga tidak sama.

Selain itu, sebagian publik juga mengkhawatirkan tumbuhnya benih-benih militerisme melalui PBN. Hal ini setidaknya diungkapkan oleh Arsi Kurniawan, Wahyu Eka hingga Muhammad Akbar. Sehingga dikhawatirkan kehidupan bernegara kita akan kembali lagi ke zaman sebelum reformasi.

Lagi pula, jika alasannya penanaman karakter dan disiplin, menurut Deddy Kristian justru selama ini banyak masalah yang muncul dari sekolah-sekolah kedinasan dengan format semi militer. Kasus kekerasan senior terhadap junior bahkan hingga mengakibatkan kematian sudah beberapa kali terjadi.

Lalu bagaimana menurut kalian? Perlukah program Pendidikan Bela Negara seperti yang dicanangkan Kemenhan bagi warga sipil? Kami mengundang kalian untuk terlibat dalam diskusi konstruktif dengan menuliskan pendapat kalian di kolom komentar.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya