Polemik Kakek Suhud Baim Wong

Statistisi Muda di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Riau
Polemik Kakek Suhud Baim Wong 18/10/2021 549 view Opini Mingguan instagram.com/baimwong

Mendengar nama Baim Wong, sudah tidak asing lagi di telinga saya. Dulu, selain pencinta sinetron dan infotainment, saya juga acapkali menonton konten Youtube termasuk milik Baim Wong.

Tahun 2018-2019 adalah masa saya paling rajin menonton konten-konten dari channel Youtubers Indonesia. Sebut saja, "The Sungkar Familymilik keluarga Zaskia Sungkar dan "Rans Entertainment" miliknya Raffi Ahmad. Bahkan bukan hanya artis, saya juga kerap menonton konten-konten orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Sharing pengalaman dari mereka membuat saya serasa hidup di sana juga.

Namun, saya lupa persisnya kenapa saya saat ini sudah jarang sekali bahkan nyaris tidak pernah menonton konten-konten tersebut. Mungkin karena ada rasa bosan atau pun kesadaran diri yang terlalu banyak melalaikan waktu. Bahkan mendengar kasus Baim Wong baru-baru ini ramai dihujat di dunia maya pun tidak membuat saya tergerak untuk menonton vlognya.

Saya hanya membaca berita tentang Baim Wong yang kebetulan lewat di beranda saya. Sampai akhirnya ada peluang menulis opini di thecolumnist.id dengan tema tersebut. Mau tidak mau saya harus menonton konten yang viral ini untuk melihat cerita dari dari kacamata saya sendiri.

Sebenarnya kasus ini sudah antiklimaks. Karena saat tulisan ini ditulis, Baim Wong sudah mendatangi kakek Suhud untuk meminta maaf dan kakek Suhud pun sudah memaafkan. Istilahnya case close.

Namun, tidak ada salahnya kita menelaah kembali sebagai pembelajaran ke depannya. Untuk itu kita mencari tahu kronologi kejadian versi dari keduanya agar pembahasan ini adil dan tidak memojokkan sebelah pihak.

Ketika awal Baim Wong membuat konten berbagi, sebenarnya saya sudah mengkhawatirkan hal ini terjadi. Bahkan saya sempat mengkhawatirkan keselamatan Baim Wong dan keluarga.

Pilihannya mencari pundi-pundi rupiah melalui konten berbagi di Youtube tentunya membuat orang tertarik untuk mendapat pertolongan serupa dari sang Youtuber. Ditambah lagi di masa pandemi, pengangguran dan tingkat kemiskinan meningkat siginifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada periode Agustus 2020, jumlah angka pengangguran meningkat 2,67 juta orang. Dengan demikian, jumlah angkatan kerja di Indonesia yang menganggur menjadi sebesar 9,77 juta orang. Situasi diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di mana sebelumnya berhasil ditekan di angka 5,23 persen menjadi meningkat 7,07 persen.

Selain itu peningkatan jumlah pengangguran pun turut membuat jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan. Pada 15 Juli 2021, BPS merilis laporan bahwa pada Maret 2021 sebesar 10,14% atau sebanyak 27,54 juta penduduk Indonesia berstatus miskin. Tingkat kemiskinan Maret 2021 ini sedikit turun dari September 2020, namun masih lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum pandemi pada September 2019.

Berdasar data-data tersebut maka sangat wajar banyak masyarakat yang kesulitan ekonomi terutama sejak pandemi. Berbagai cara yang bahkan tidak pernah terpikirkan ditempuh untuk bertahan hidup. Mulai dari terlibat pinjaman online (pinjol) sampai melakukan kriminalitas. Bahkan, ada yang mempertaruhkan rasa malu untuk meminta-minta.

Memang kakek Suhud berdalih bukan dalam rangka mengemis kepada Baim Wong melainkan menawarkan dagangannya. Tetapi cara si kakek dengan terus mengejar Baim Wong agar membeli dagangannya juga tak ada bedanya dengan mengemis. Mengemis agar dagangannya dibeli.

Terlebih, apa yang dilakukan oleh kakek Suhud membahayakan sekali. Berdasarkan versi Baim Wong, ia dibuntuti dalam perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumahnya. Sebagai pengguna motor, saya dapat memaklumi kemarahan Baim Wong. Apalagi kondisinya saat itu ia sedang membawa motor dengan tangan satunya memegang sang putra yang masih balita.

Sampai di situ kita dapat menyimpulkan yang dilakukan kakek Suhud adalah salah. Namun kita coba memahami, kebutuhan mendesak apa yang sedang membebani pundak sang kakek sehingga gigih mengejar Baim Wong, terlepas dari keterangan tetangganya yang mengatakan bahwa kakek Suhud sebenarnya bukan orang susah. Kita tidak pernah tahu. Bahkan orang yang nampak perlente sekalipun bisa saja terlilit hutang atau pun kebutuhan lainnya yang kita tidak ketahui.


Namun, sayangnya reaksi Baim Wong terlalu berlebihan ketika sampai di rumah. Selain memarahi sang kakek ia juga membagi-bagikan uang kepada pengemudi ojek online di hadapan sang kakek. Mungkin niatnya ingin memberitahu bahwa ia tidak suka dipaksa memberi uang. Melainkan ia yang akan datang berbagi rezeki. Namun, cara baim inilah yang membuatnya dikecam netizen.

Berbagai ungkapan seperti tidak elok memberi makan kepada orang kenyang di depan orang lapar dan tidak ada adab kepada orang yang lebih tua diarahkan kepada Baim Wong. Selain itu ada juga yang sinis karena Baim Wong menyebut kakek Suhud pengemis, padahal si kakek berniat menjual dagangannya.

Netizen menuding justru Baim Wonglah pengemis sebenarnya. Karena meminta netizen untuk menjadi pengikut channel Youtubenya, juga mengemis like dan komentar netizen. Dengan begitu pundi-pundi uang dari iklan Youtube akan terus mengalir ke rekeningnya.

Reaksi berlebihan Baim Wong inilah yang memantik kemarahan netizen. Jika sebelumnya ia bisa menolak halus orang-orang yang datang ke rumahnya untuk meminta pekerjaan ataupun uang. Kali ini, yang dilakukan Baim Wong seperti menunjukkan sifat aslinya.

Bahkan ada selebritas yang sengaja mengambil keuntungan dari keriuhan ini dengan sengaja mengundang si kakek. Berharap si kakek melaporkan Baim Wong atas penghinaan yang dilakukannya apalagi tanpa menyamarkan wajah kakek Suhud di konten Youtubenya.

Setelah kena hujat netizen, Baim Wong belum langsung minta maaf. Tapi ia membuat vlog semacam klarifikasi kejadian sebenarnya. Ia merasa sudah berlaku benar. Dan ia tidak mau mengikuti apa yang netizen inginkan hanya agar netizen senang. Ia ingin menjadi dirinya sendiri bukan pencitraan.

Toh video yang viral tersebut juga berasal dari konten Youtubenya. Kalau hanya buat pencitraan kepada netizen, bisa saja ia menghapus adegan tersebut. Namun ia memang secara sadar ingin menunjukkan kepada netizen bahwa hal-hal tersebut memang kerap terjadi di kehidupannya. Itu hanya sebagian kecil saja yang ditampilkan. Bahkan ada yang lebih parah dari pada responnya ke kakek Suhud. Dan di vlog klarifikasi tersebut Baim Wong menegaskan ia tidak memaksa netizen agar menyukainya.

Namun entah angin apa yang akhirnya membuat Baim Wong meminta maaf kepada kakek Suhud. Apakah akhirnya ia menyadari kesalahannya karena terlalu berlebihan. Atau karena tidak mau masalah ini terus berkepanjangan dan dirinya menjadi bual-bualan netizen. Atau bahkan karena akhirnya menyadari bahwa ia butuh netizen, butuh netizen menyukainya karena dari sanalah ia mencari uang.

Kalau saya menilai mungkin selain karena tidak tahan dengan komentar netizen, Baim Wong sudah mulai bisa berfikir jernih. Bisa jadi sikapnya yang berlebihan tersebut dipicu karena kelelahan. Apalagi saat itu istrinya hendak melahirkan. Walaupun untuk sekelas Baim Wong tentu banyak asisten yang membantu, psikologis seorang suami yang istrinya akan melahirkan bisa saja tidak tenang.

Terbukti setelah beberapa hari setelah kejadian tersebut ia akhirnya meminta maaf. Dan tindakannya berbesar hati mau meminta maaf patut diapresiasi. Begitu juga dengan kakek Suhud juga memberi maaf dan minta maaf kembali karena tidak tahu situasi dan kondisi.

Dari kejadian tersebut, dapat disimpulkan bahwa membuat konten berbagi di media sosial sangat riskan terjadi hal-hal seperti itu. Yang lebih menyeramkan lagi bisa saja mengundang kriminalitas. Jikalaupun ingin membuat konten seperti itu, harus ada bodyguard yang menemani kemana pun. Dan bukan hanya untuk mengamankan sang Youtuber tapi juga anggota keluarganya.

Lebih aman sebaiknya membuat konten kreatif lainnya dari pada konten berbagi yang menjual penderitaan orang lain untuk diupload dengan tujuan komersil. Berbagi rezeki memang tidak salah, namun menjadikannya sebuah konten dan meraup untung darinya saya rasa juga tidak bijak.

Orang juga tahu bahwa pendapatan dari menjual penderitaan orang lain itu jauh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk berbagi. Maka, tidak perlu marah ketika privasi anda sebagai Youtuber dilanggar dengan dalih manusiawi. Sebab anda sendiri pun kurang memanusiakan objek yang anda jual penderitaannya.


“Orientasi bisnis bukan hanya untuk mencari uang, tapi bagaimana memanusiakan manusia”(anonim).

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya