Polemik Tes Wawasan Kebangsaaan KPK: Jangan Berislam Secara Sontoloyo

Admin The Columnist
Polemik Tes Wawasan Kebangsaaan KPK: Jangan Berislam Secara Sontoloyo 16/05/2021 697 view Iktirad Iyeng Pinterest.com

Ada mitos. Ada pencuri yang lebih licin dari belut keciprat oli. Kalaupun ia bisa tertangkap, ia sendiri yang memutuskan kapan mau keluar penjara. Boleh jadi, siang ini tertangkap, besok pagi sudah menghilang dari sel tahanan. Suka-sukanya saja. Begitulah mitos tersebut yang saya ketahui dari ayah saya.

Mitos ini terus berlanjut. Beberapa tahun kemudian giliran saya yang menceritakan mitos ini kepada anak saya. Tentu ceritanya sudah berkembang. "Engkau tahu, kakek mu dulu bercerita kalau ada pencuri yang bisa menghilang dari dalam penjara dan lenyap bak ditelan bumi. Tapi sekarang pencuri itu sudah keluar dari persembunyiannya untuk balas dendam. Ia buat mata aparat buta sebelah!". Mulut putri saya terngaga. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa si pencuri tersebut seberani itu. Itulah mengapa ia sangat ingin sekali bertemu Novel Baswedan di rumah sakit Singapura ketika kami mengunjungi negara itu beberapa tahun kemarin.

Lalu sekarang anda bisa menduga bagaimana mitos ini berkembang lagi. Bukan menyerang, tapi melenyapkan aparat dari kantornya dengan cara yang amat sumir. Bukan cuma 1, tapi 75 aparat!

***

Novel Baswedan beserta 74 pegawai lainnya tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Inilah berita terakhir tentang KPK. Padahal merekalah yang siang malam baku hantam menyelamatkan uang rakyat dari para pencuri.

Anda sebut saja nama jabatan mentereng di republik ini. Mulai dari ketua partai politik, ketua MK, bahkan ketua DPR yang merengek manja minta saham PT Freeport pernah mereka ringkus. Kalau sekadar kepala daerah atau menteri, ahh.. itu gak perlu dihitung. Sudah terlalu sering.

Logikanya, kalau koruptor yang memiliki kekuasaan saja berhasil mereka taklukkan, apalagi sekedar TWK. Tapi ternyata logika ini tak terjadi, mereka gagal lolos seleksi. Karena pertanyaan yang disodorkan pewawancara amat sukar.

Anda bayangkan saja. Betapa rumitnya pertanyaan "kenapa belum kawin" atau "mau gak jadi istri kedua saya?" dalam sebuah tes yang menguji cinta atau tidak cinta terhadap bangsa ini. Bukan perkara gampang membangun korelasi antara mau atau tidak mau dipoligami si pewawancara dengan pengetahuan tentang seluk-beluk bangsa ini. Begitulah.

Tapi sebetulnya saya tak ingin bercerita mengenai 75 pegawai KPK berdedikasi yang terancam syahid dihadapan pertanyaan-pertanyaan hokya-hokya TWK itu. Saya mau bercerita tentang anda yang tengah berbahagia setelah sebulan penuh berpuasa. Maklum, hari-hari ini masih dalam suasana lebaran.

Jadi bagaimana, sudah makan ketupat…? Apa lontong opor topping rendang? Sate..sate? Soto ayam?

Setelah sebulan berpuasa, ditutup dengan sepiring kuliner khas lebaran, mungkin anda merasa kok ya lengkap sekali hidup ini. Bisa berpuasa 30 hari. Ikutan taraweh saban malam. Berburu malam Lailatul Qodr (ssstt....orang kata, kalau yakin mendapat malam 1000 bulan jangan diomong-omongkan). Bahkan ritual mudik pun dilakukan walau kucing-kucingan dengan aparat. Pokoknya ibadah selama Ramadhan sudah puolll... "Tuhan sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak saya masuk surga..", hayoo..  ada kan di antara anda yang berpikir begitu.

Ya… ya.. ya. Semua itu memang kebahagian yang sempurna di penghujung Ramadhan ini. Keberhasilan berasyik-masyuk dengan tuhan, melupakan persoalan-persoalan duniawi, menenggelamkan diri ke urusan akhirat, sungguh beralasan untuk dirayakan. “Apalah dunia ini, hanya sementara. Makanya selama Ramadhan kita menyibukkan diri dengan urusan akhirat, lupakan persoalan duniawi!”

Kalau anda salah seorang yang berpikir demikian, maaf saja. Saya harus bilang cara berislam anda masih sontoloyo. Lantaran berislam lalu memisahkan persoalan ritual dengan persoalan dunia itu sama artinya dengan nganu… Karena islam juga berarti solusi. Berislam itu berarti melaksanakan ritual dan mengupayakan menyelesaikan persoalan kehidupan. Ada urusan menyembah tuhan, tapi juga harus mampu membetulkan kemungkaran yang terjadi di sekeliling kita.

Andai saja Islam berarti terpisah dari urusan duniawi, pastinya Nabi Muhammad SAW akan terus menetap di Gua Hira. Tak akan pernah Mbah Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa resolusi jihad: kewajiban melawan penjajah, mati melawan penjajah adalah syahid. Bahkan masyarakat Palestina cuma puasa, taraweh, dan tadarus sambil membiarkan Israel merebut Masjid Al-Aqsa.

Kenyataannya tidak demikian. Nabi Muhammad SAW keluar dari uzlahnya dan terlibat di beberapa perang. Mbah Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa resolusi jihadnya. Dan masyarakat Palestina bertaruh nyawa mempertahankan Masjid Al-Aqsa. Islam tak semata ritual menyembah tuhan saja, tapi siap bertaruh nyawa membetulkan yang keliru.

Tapi ya itu. Kalau cara anda berislam masih sontoloyo, wajar saja ritual agama tampak lepas dari persoalan TWK KPK. Dihadapan anda seolah ada dua pilihan, beribadah puol-puolan selama Ramadhan atau ikutan mengoreksi TWK KPK.

"Ya jelas dong, pilih ibadah ritual..", ucap anda dalam hati. Maklum, Ramadhan ada banyak pesta. Beribadah sedikit, pahalanya berlipat ganda. Bahkan beribadah cuma satu malam bisa mendapat pahala seribu bulan. Bayangkan saja jika anda berdoa di masa-masa itu, besar kemungkinan terkabul. Anak yang sehat, cerdas, soleh dan solehah, bisa. Diberi kekayaan, dijauhkan dari hutang dan kelaparan, sangat mungkin. Jadi semua tenaga, waktu, dan konsentrasi dicurahkan untuk ibadah ritual. Masalah TWK KPK, “ahh.. itu urusan duniawi..”.

Tapi apakah anda yakin itu pilihan tepat. Apakah benar agama terlepas dari persoalan sosial.

"Eits.. sebentar-sebentar mas.. maksud njenengan pripun..?"

Maksud saya begini. Apakah anda yakin beribadah saja selama Ramadhan pasti akan membuat hidup sejahtera dunia dan akhirat? Baiklah, kalau urusan akhirat, siapa yang tahu. Saya, anda, dan siapapun tidak akan bisa memastikan seseorang masuk surga atau neraka. Tapi jika terkait urusan duniawi, ini berbeda.

Kalau ke-75 pegawai KPK yang sudah memiliki reputasi ‘sempurna’ dibiarkan diberhentikan dari KPK hanya gara-gara seleksi TWK yang prikitiwww itu, jangan harap hidup anda bisa bahagia. Bagi anda yang bermobil mewah, bisa jadi akan sering ganti ban mobil lantaran jalanan di sekitar rumah rusak, habis dikorupsi. Bagi anda dari ekonomi lemah, jangan pernah lupa kalau koruptor tak pernah memiliki rasa empati terhadap rakyat miskin. Bansos bisa jadi disikat lagi. Belum lagi persoalan impor ini dan itu, lelang jabatan, dan sebagainya. Di “DO”-nya ke 75 pegawai KPK itu menyebabkan adanya kemungkinan hidup anda di dunia menjadi melarat karena koruptor bisa berpesta pora.

“Ya tinggal doa mas… Gampang..!”

Yahh.. yahhh bedoalah. “Ya tuhan… Lihatlah perilaku koruptor di negeri ini. Kirimlah juru selamat yang bisa menghentikan mereka”. Malaikat mungkin membalas, “Sontoloyo…! Sudah dikirim 75 juru selamat malah disia-siakan”.

Yang demikian itu adalah cara berislam yang menyedihkan. Karena kenyataannya islam tidak bisa lepas dari persoalan kehidupan. Islam hadir sebagai solusi bagi kehidupan. Seharusnya, semakin baik anda berislam, semakin sensitif terhadap persoalan publik yang sedang terjadi. Semakin tenggelam dalam ritual Ramadhan, semakin giat mengoreksi TWK KPK.

***

Tapi semua belum terlambat. Masih ada yang bisa anda lakukan supaya islam tidak putus hubungan dengan persoalan sosial dan politik. Tak perlu melakukan hal besar untuk turut mengoreksi TWK KPK yang nganu itu. Cukup "bergunjing".

Pertama, mulailah dari grup-grup pengajian. Anda bisa tulis "eh.. tes TWK KPK itu sebetulnya gimana sih...?", tambahkan saja emoticon favorit anda. Dari situ akan lahir banyak pergunjingan.

Kedua, anda bisa tanya ustadz-ustadzah di grup medsos masing-masing. "Ustadz..ustadzah, bagaimana hukum korupsi di dalam islam...?". Trus jangan lupa ditambahkan, "bagaimana menurut ustadz-ustadzah mengenai TWK KPK..? Ane butuh pencerahan".

Yang ketiga, jangan lupa japri saudara sebangsa yang berbeda keyakinan agama. Tanya saja, "bro.. sist.. di agama mu, korupsi itu boleh apa ndak boleh...?". Dan dengarkan penjelasan menarik dari mereka.

Dari cara-cara sederhana ini akan muncul gelombang perdebatan mengenai TWK KPK. Dari situ akan lahir banyak koreksi konstruktif. Itu saja. Tak sulit bukan?

Ketika kekhusyukkan ritual berbanding lurus dengan ghirah menyelesaikan persoalan sosial, kenikmatan akhirat akan beriringan dengan kebahagiaan di dunia. Demikianlah islam yang tak sontoloyo itu seharusnya.***

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya