Pentingnya Peran Orang Tua pada Pendidikan Seks Anak

Ibu RT yang menyukai dunia kepenulisan
Pentingnya Peran Orang Tua pada Pendidikan Seks Anak 04/07/2021 78 view Opini Mingguan Pexels.com

Pendidikan seks saat ini bukanlah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Bahkan pembicaraan tentang seks bisa dimulai sedini mungkin. Mengapa demikian? Itu karena zaman telah berubah.

Semasa kuliah dulu, saya sangat menghindari pembicaraan yang berbau seks. Bukan berarti saya tidak perlu, tetapi rasanya aneh sekali membicarakan seks sebelum menikah. Berbeda dengan sekarang, perkara seks seperti telah menjadi makanan pokok. Bahkan beberapa televisi sudah mulai membuka pembicaraan dalam bentuk talkshow.

Pembelajaran yang seperti itu, pastinya didampingi para ahli dan sangat bermanfaat bagi para penonton, terutama orang tua dalam memahami permasalahan seks. Namun, kuantitasnya masih sangat sedikit sekali. Padahal dengan program seperti itu bisa menjadi filter tersendiri bagi para orang tua untuk menjaga dampak negatif dari tontonan yang ada.

Di sisi lain, lihatlah berapa banyak tontonan televisi yang menampilkan masalah seks ini. Mulai dari penggunaan pakaian yang merangsang, adegan yang menantang, atau kata-kata vulgar yang bebas dalam bentuk film atau berita artis. Betapa banyaknya tontonan komersil itu ditampilkan, termasuk yang tidak selayaknya dilihat oleh anak-anak.

Saya tidak menampikkan bahwa pendidikan seks itu memang perlu. Namun, sebagai orang tua, kita harus mengetahui bentuk pendidikan apa yang bisa kita berikan kepada anak-anak. Jangan berpikir bahwa pendidikan seks itu dapat diungkapkan dengan mudah dan gamblang. Usia yang berbeda dari tiap anak akan sangat berbeda cara penyampaiannya. Misalnya, anak saya yang berusia 3 tahun akan tertawa ketika tidak sengaja melihat perbedaan kelamin dia dan kakaknya.

Penyampaian pada anak usia 3 tahun dengan anak usia 8 tahun tidak akan sama. Saat seperti inilah sebagai orang tua kita harus banyak menggali ilmu dari para ahli yang bisa didapat dari buku atau media sosial lainnya. Namun, informasi yang didapatkan jangan ditelan mentah-mentah. Cermati dulu dan perkirakan respons yang diberikan bila kita melanjutkan informasi itu kepada anak. Jangan sampai kita salah tempat dan waktu

Keberadaan teknologi bisa saja membuat anak dan kita mendapatkan pengetahuan tentang seks. Kemajuan teknologi yang kebablasan membuat nilai pendidikan akan berkurang bila tidak didampingi oleh orang tua. Apalagi saat ini ada banyak games online yang dengan mudahnya diakses dan menampilkan gambar porno bahkan adegan mesum. Penggunaan Youtube bagi anak-anak dapat menjadi wadah yang salah untuk pendidikan seks bagi anak. Inilah yang harus diperhatikan oleh orang tua.

Terkadang gambar dan video dari Facebook, yang muncul tiba-tiba menggugah anak-anak untuk mengkliknya. Bukan itu saja, media sosial saat ini sangat semarak dengan hal-hal yang berbau seks. Namun, apakah semua media sosial itu harus dilarang penggunaannya?

Saya pun mempunyai anak. Bagi saya, mendidik anak di zaman sekarang terasa sangat sulit. Butuh ilmu yang banyak agar apa yang disampaikan bisa diterima oleh logika mereka. Seperti yang saya katakan tadi, kita tidak bisa menutup mata dari teknologi. Begitulah yang saya lakukan dengan anak-anak saya.

Apalagi saat ini pembelajaran daring banyak menggunakan fasilitas internet. Akses ke aplikasi Youtube juga sangat mudah. Bisa saja mereka mengetahui perkara seks dari Youtube.

Sebagai orang tua, saya sedikit takut dan cemas dengan masalah yang satu ini. Namun, sedini mungkin saya mengajarinya tentang seks. Pertama, saya memulainya saat mereka mulai menanyakan perbedaan alat kelamin laki-laki dan perempuan. Bisa juga saat mereka bertanya dari mana bayi lahir. Semua pertanyaan itu akan sulit saya jawab bila tidak ada ilmunya. Untuk itulah, saya harus banyak belajar dan bertanya kepada para ahlinya.

Kedua, jangan tinggalkan anakmu sendirian saat menonton TV bila kamu tidak yakin dengan apa yang ditontonnya. Ingat, setiap tontonan itu memiliki maksud dan tujuan. Anak yang masih kecil tidak akan mengerti apa yang menjadi tujuan dari tontonan itu. Di saat itu, saya akan mendampingi mereka. Jika tontonan itu tidak tepat ditonton oleh mereka, sata akan mencari tontonan lain yang lebih bermanfaat. Di saat menonton ini, kita bisa mendiskusikan tontonan itu bersama anak.

Ketiga, arahkan anak untuk tidak terlalu sering menonton. Alihkan tontonan itu dengan kegiatan positif lainnya. Misalnya, dengan bercerita, membaca buku, atau bermain di luar. Banyak hal yang bisa mereka lakukan.

Saya yakin, anak-anak itu butuh aturan dan perhatian. Bisa jadi mereka menonton bukan karena keinginan mereka. Mungkin mereka bingung untuk menentukan aktivitas lain yang bisa mereka lakukan selain menonton. Oleh karena itu, orang tua harus peka dengan kondisi seperti itu.

Ada baiknya penjadwalan aktivitas harian diberlakukan. Hal ini berguna agar anak tahu waktu dan kita dapat memberikan kegiatan positif bagi mereka. Ingat, anak-anak itu sangat rentan bila tanpa pengawasan. Seperti halnya siswa saya dulu, yang masih kelas 2 SD kecolongan menonton video porno dengan pamannya. Semua itu terjadi karena orang tua yang terlalu sibuk bekerja sehingga perannya teralihkan oleh pihak ketiga selain mereka.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya