Pandemi Covid-19: Panggung Politik Populisme Menuju Kepentingan 2024

Pembelajar Kajian Ilmu Politik Pemerintahan
Pandemi Covid-19: Panggung Politik Populisme Menuju Kepentingan 2024 23/06/2021 100 view Politik istockphoto.com

Hadirnya pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya menjadi ancaman bagi keamanan kesehatan terhadap manusia. Namun, secara politis, pandemi Covid-19 telah menciptakan ruang dan panggung bagi aktor populis untuk menyongsong kepentingan di 2024. Aktor-aktor populis menjadikan situasi pandemi Covid-19 sebagai strategi politik dalam meningkatkan popularitasnya.

Tak bisa dielakkan jika momen seperti ini sebagai jalan untuk mengumpulkan benih-benih kepercayaan publik yang kemudian benih tersebut akan tiba masanya ditranformasikan menjadi dukungan suara dalam kepentingan 2024.

Kita sering melihat bagaimana aktor-aktor populis tampil dalam nuansa pandemi Covid-19 yang sedang kita hadapi bersama saat ini. Setiap aktor populis di masing-masing daerah semuanya berlomba-lomba untuk menciptakan kebijakan yang pro rakyat. Banyak agenda-agenda kebijakan yang dicanangkan yang secara tidak langsung ada agenda terselubung. Seolah-olah para populis berkamuflase dengan kehidupan dan realitas yang terjadi di masyarakat. Mereka merasa tahu dan mengalami apa yang sedang dirasakan oleh masyarakat.

Tak jarang juga jika banyak aktor populis yang mengambil kebijakan dalam pandemi Covid-19 berseberangan dengan pemerintah pusat. Secara sederhana kebijakan-kebijakan para populis di saat pandemi Covid-19 merupakan bagian dari cara kerja politik populisme. Kebijakan-kebijakan yang dikampanyekan aktor populis menjadi langkah awal untuk membangun relasi yang lebih dekat dan memahami rakyat, pro rakyat, dan menempatkan diri di luar elit yang korup, memperlihatkan jika mereka ada untuk berjuang demi rakyat.

Populisme di Balik Elektabilitas

Isu politik populisme memang bukan sesuatu yang baru dalam kajian politik. Namun, pandemi Covid-19 telah memberikan wajah baru bagaimana populisme itu bekerja. Hal itu bisa dilacak bagaimana kinerja populisme selama pandemi Covid-19 memberikan gambaran tentang kepentingan mereka di tahun 2024.

Sebagaimana dikutip dari data survei yang dilakukan oleh LSI tanggal 17 Juni 2021 menampilkan persentase elektabilitas kandidat capres 2024. Prabowo Subianto menduduki peringkat wahid dengan angka 23, 5%. Sementara Ganjar Pranowo 15, 5%, Anies Baswedan 13, 8 %, Sandiaga Uno 7, 6%, Airlangga Hartarto 5, 3%, AHY 3, 8% dan Puan Maharani sebesar 2%.

Walaupun agenda 2024 masih tiga tahun lagi, namun membangun politik populisme harus terus menerus dan tidak berhenti. Walaupun elektabilitas tersebut adalah sesuatu yang dinamis, namun peta survei dari berbagai lembaga survei yang dilakukan menempatkan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo sebagai kandidat terkuat dalam kepentingan 2024.

Nama-nama kandidat capres tersebut sebetulnya hanya bagian kecil untuk membingkai politik populisme di masa pandemi Covid-19. Masih ada seperti Tri Risma, Ridwal Kamil, Emil Dardak, dan lainya. Namun sampai hari ini memang Prabowo dan Ganjar dalam berbagai survei menjadi kandidat yang sangat berhasil memainkan popularitasnya di tengah publik.

Probowo dua kali berival dengan Joko Widodo pada Pilpres 2014 dan 2019. Kekalahan yang dialami Prabowo secara tidak langsung telah menciptakan popularitasnya sebagai figur politik. Apalagi saat ini Prabowo dinilai menjadi menteri yang berprestasi dalam membawai sektor pertahanan di Indonesia. Tentu ini akan menambah tingkat popularitas Prabowo sebagai modal dalam kepentingan 2024.

Ganjar Jawara Baru?

Tidak diragukan lagi bahwa Ganjar menjadi rival terkuat Prabowo dalam kepentingan di 2024 mendatang. Sebagai Gubernur Jawa Tengah dua kali periode Ganjar sudah lihai bagaimana memainkan peran politiknya. Dalam berbagai lembaga survei yang dirilis di masa pandemi Covid-19 ini popularitas Ganjar menuju kepentingan 2024 bukan omong kosong.

Menariknya Ganjar yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah mulai dilirik berbagai partai politik sebagai tiket untuk kepentingan politiknya.

Permainan politik populisme orang nomor satu di Jawa tengah ini sudah dibangun sejak lama. Artinya citra popularitasnya terbangun tidak begitu saja. Misalnya saja terlihat bagaimana Ganjar merespon gejolak demontransi yang menolak RUU Omnibus Law tahun lalu. Gejolak demonstrasi yang melibatkan mayoritas mahasiswa seluruh Indonesia di berbagai daerah. Tak sedikit kepala daerah yang kewalahan merespon tuntutan pendemo hingga akhirnya banyak peristiwa pertempuran antara aparat militer dan mahasiswa. Berbagai fasilitas publik dan perkantoran juga rusak akibat ini. Namun ada situasi berbeda yang terjadi di Jawa Tengah. Orang nomor satu di Jawa Tengah ini justru tampil sebagai lidah rakyat dengan cara elegan serta membaur bersama dengan pendemo. Hingga akhirnya demo pun berjalan dengan lancar damai tanpa kerusuhan.

Situasi yang dilakukan oleh Ganjar menuai beragam pujian dari masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini berangkat dari banyaknya pemimpin daerah yang tidak mampu merespon tuntutan pendemo secara humanis. Inilah sebetulnya popularitas Ganjar mulai dilihat oleh masyarakat di seluruh Indonesia sebagai pemimpin yang mengayomi.

Situasi tersebut oleh Ganjar terus dibangun dengan berbagai kebijakan dalam menanggulangi pandemi. Misalnya seperti kebijakan “Jateng di Rumah Aja” dan “Jogo Tonggo” menjadi program canangan Ganjar. Walaupun di berbagai daerah di Jateng memang ada yang tak terkendali, namun itu tidak menurunkan elektabilitas Ganjar.

Gerakan politik populisme Ganjar yang telah memiliki peta dukungan publik nampaknya tidak semulus di internal partai. Justru dengan menterengnya peringkat Ganjar di berbagai lembaga survei menciptakan gejolak politik baru. Perseteruan Ganjar dan Puan yang memiliki kepentingan di 2024 sebetulnya bukan barang baru.

Pasca persoalan tersebut muncul di publik justru masyarakat semakin kritis terhadap bagaimana elit politik itu bermain kuasa. Di saat yang sama Ganjar sebagai elit tampil pro rakyat yang dianggap tidak memiliki kuasa.

Memang, terlalu prematur juga jika masih tiga tahun sudah membicarakan kepentingan politik tahun 2024. Namun dalam politik, kepentingan itu tidak ada yang terlalu awal, karena memang kepentingan adalah hal yang sangat rekontruktif. Itu alasan mengapa banyak aktor populis mulai membangun gerakan dan kerja populisnya dalam menyongsong abad baru 2024 mendatang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya