Solusi Pendidikan Seks Melalui Pendidikan Fitrah Seksualitas

Solusi Pendidikan Seks Melalui Pendidikan  Fitrah Seksualitas 05/07/2021 90 view Opini Mingguan theconversation.com

Pembahasan tentang pendidikan seksual bagi anak tidak akan habis-habisnya. Munculnya metode-metode baru seringkali menjadikan orang tua mengalami kesulitan dalam memberikan pengertian pendidikan seksual kepada anak-anak.

Dunia pendidikan dan pengasuhan kembali mendapatkan ujian. Seorang artis ibu kota berpendapat bahwa salah satu bentuk pemberikan pendidikan seksual terhadap anaknya adalah dengan menemani anak menonton film porno. Tentunya statement ini mengejutkan banyak pihak. Dengan angka kekerasan seksual dan penyimpangan seksual yang semakin tinggi, tentunya peran orang tua sangat penting dalam memberikan informasi yang benar dan baik tentang pendidikan seksual dan mencegah timbulnya kekerasan dan penyimpangan seksual itu sendiri.

Idealnya dalam sebuah pengasuhan anak, pendidikan seksual diberikan oleh orang tua. Jika orang tua, karena sesuatu dan lain hal tidak dapat membersamai kehidupan anak-anaknya, maka sudah sewajarnya digantikan oleh sosok dewasa lain yang dapat menggantikan peran orang tua seperti kakek, nenek, paman dan bibi.

Pendidikan seksual dalam budaya kita di Indonesia masih dianggap hal yang tabu bagi orang tua secara terang-terangan memberikan informasi kepada anak-anaknya. Informasi seksual yang diberikan hanya sebatas pengenalan anggota tubuh dan perbedaan perlakuan terhadap jenis kelamin yang berbeda. Pemahaman pendidikan seksual itu sendiri didapat oleh orang tua hanya berdasarkan pengalaman pribadi, tanpa adanya usaha menambah pengetahuan dengan belajar melalui membaca atau berdiskusi.

Jika ada orang tua yang melakukan tindakan antimainstream seperti yang dilakukan oleh artis tersebut, sudah tentu akan timbul pandangan yang pro dan kontra. Bagi yang berpendapat pro menjelaskan bahwa sumber informasi yang valid adalah orang tua, daripada si anak mendapatkan dari luar tanpa penjelasan, terutama dampak dari kegiatan seksual yang tidak disaring.

Sedangkan bagi pendapat kontra mengatakan bahwa banyak cara memberikan informasi pendidikan seksual secara lebih beradab. Beradab di sini tentunya dari contoh yang dilihat adalah film porno, seharusnya bisa juga menonton informasi tentang pendidikan seksual bukan sebuah film. Apapun alasannya, artis tersebut telah berusaha melaksanakan perannya sebagai orang tua, memberikan informasi dari pintu pertama si anak.

Menurut pemahaman saya pribadi, pendidikan seksual ini yang harus dikuatkan adalah kedua orang tuanya. Ayah dan ibu terlebih dahulu sudah mempunyai pemahaman yang mendalam tentang seksualitas sehingga saat memberikan pemahaman kepada anak-anak dapat dipertanggungjawabkan.

Ayah dan ibu mempunyai kewajiban yang sama dalam memberikan pemahaman seksual terhadap anak. Ayah menjelaskan tentang kemaskulinitas dan ibu memberikan pemahaman tentang feminimitas. Karena pendidikan seksual itu bukan hanya tentang kegiatan seksual yang dalam bayangan anak-anak adalah sebuah hubungan fisik antara laki-laki dan wanita dewasa. Tetapi, pendidikan seksual adalah mengenal anggota tubuh yang berkaitan dengan aktivitas seksual dan dampak-dampak yang ditimbulkannya.

Dalam buku Fitrah Based Education (Santosa, 2018), menyebutkan, sosok ayah dan ibu harus ada sepanjang masa dalam mendidik anak-anak, sejak lahir sampai akil balig. Tentu tujuannya agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.

Pengertian fitrah seksualitas dalam buku tersebut adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati. Mendidik fitrah Seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya.

Jika kemudian muncul pertanyaan, seberapa penting mengajarkan pendidikan fitrah seksual sebagai pintu informasi untuk pendidikan seks? Jawabannya adalah sangat penting. Dengan memberikan pendidikan fitrah seksualitas, kita telah memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada anak bahwa pendidikan seksual berarti ilmu ini tidak terbatas pada aktivitas dan perilaku saja, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan serta dampak dari perilaku seksual.

Dalam pendidikan fitrah seksual, orang tua melaksanakan sejak anak berusia nol tahun, artinya banyak tahap yang harus dilakukan oleh orang tua sehingga dapat disebut sebagai sebuah pendidikan. Merawat kelekatan awal, menguatkan konsep diri berupa identitas gender, menumbuhkan dan menyadarkan potensi gender dan mengokohkan fitrah seksualnya merupakan tahap-tahap yang harus dilakukan kedua orang tua dalam memberikan pendidikan (fitrah) seksual kepada anak.

Idealnya, masih dari buku Fitrah Based Education, bahwa usia lima belas tahun merupakan masa yang telah sempurna untuk seorang anak memahami rasa, daya pikir dan bersikap sesuai jenis kelaminnya. Namun yang terjadi saat ini adalah usia lima belas tahun tersebut baru diberikan yang namanya pendidikan seks. Sehingga pemahaman yang diberikan hanya bersifat praktis tanpa ada pengetahuan dan rasa yang melekat pada diri anak. Tidak ada pemahaman dari dalam yang tumbuh dari diri anak tentang pengertian seksual itu sendiri.

Salah satu tujuan pemberian pendidikan seksual adalah untuk mencegah terjadinya penyimpangan seksual dan kekerasan seksual. Penyimpangan fitrah seksualitas sangat beragam, kasusnya tidak hanya terjadi di kalangan manusia liberal namun juga manusia relijius. Karena pada dasarnya setiap aspek fitrah adalah keniscayaan bagi manusia yang perlu mendapat saluran dan mendapat perhatian untuk dididik. Mereka yang berlebihan dalam menyalurkan dorongan seksualitasnya dengan mengumbar syahwatnya maupun berkekurangan atau berlebihan dalam membatasi dorongan seksualitasnya dengan pola hidup tidak menikah juga mengalami penyimpangan fitrah seksualitasnya.

Tujuan lain dari pendidikan seksualitas adalah mengenalkan peran seksualitas pada diri si anak. Anak paham perilaku dan sifat yang harus ditampilkan sesuai dengan identitas gender yang ada pada dirinya. Pengenalan peran seksualitas ini dapat bertindak sebagai kontrol sosial dalam masyarakat. Di mana jika perilaku dan rasa yang dimiliki tidak sesuai dengan identitas fisik gender yang telah ada, artinya pemahaman tentang pendidikan seksual tidak terpenuhi sempurna.

Pro dan kontra sebagai akibat penyataan artis ibu kota mungkin mengingatkan kita bahwa masih ada kekurangan kita sebagai orang tua untuk menjalankan peran kita dalam memberikan hak anak untuk mengerti dirinya sesuai dengan fitrahnya. Bisa jadi peristiwa ini membuat semakin banyak munculnya pemahaman tentang pentingnya memberikan pendidikan seksual kepada anak untuk menghindari hal-hal negatif sebagai penyertanya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya