Optimalisasi Renewable Energy Indonesia Di Kancah Dunia

Admin The Columnist
Optimalisasi Renewable Energy Indonesia Di Kancah Dunia 15/11/2020 241 view Lomba Esai pixabay.com

Artikel berikut merupakan artikel pilihan Terfavorit karya Toni Setiawan dalam lomba esai dan opini kerjasama PPI Tainan dan The Columnist.id dengan tema "Optimalisasi Generasi Emas Indonesia Pasca Pandemi". 

Lomba diselenggarakan sejak Juli 2020-November 2020 dan telah melewati dua tahap penilaian yaitu penjurian tahap pertama oleh The Columnist dan tim ahli, dan penjurian tahap kedua yaitu penilaian publik melalui voting pada instagram PPI Tainan. 

Kepada pemenang, kami ucapkan selamat! Dan kepada pembaca, kami sampaikan 'Selamat Membaca!'

Energi terbarukan atau yang biasa disebut green energy, adalah salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan. Dimasa yang akan datang, khususnya dalam kendaraan listrik, insfrastruktur dan kebutuhan rumah tangga akan sangat bergantung dengan tenaga listrik. Menurut CNBC Indonesia (2018) Indonesia adalah penghasil tambang nikel urutan ke-8 dan urutan ke-2 dalam cadangan nikel terbesar di dunia. Ini berarti Indonesia menyumbangkan cadangan nikel sebesar 17% dari total nikel di dunia.

Jika Indonesia berhasil mengolah nikel menjadi baterai Li-Ion maka penyimpanan energi listrik tidak akan menjadi masalah dimasa depan, telebih jika dikombinasikan dengan tenaga surya/ sinar matahari. Kelebihan Indonesia berada dijalur equator atau yang biasa disebut garis khatulistiwa sangat menguntungkan karena sinar matahari berlangsung selama 6 bulan penuh.

Berdasarkan data dari Solar.com (2020), keluaran tenaga listrik dari solar panel berkisar antara 16-20%. Tenaga solar panel lebih ramah lingkungan daripada menggunakan tenaga batu bara untuk pembangkit listrik. PLN (Perusahaan Listrik Negara) hingga saat ini masih menggunakan bahan bakar batu bara untuk menghasilkan listrik di Indonesia. Berdasarkan data dari Kontan.co.id, pada tahun 2020 PLN membutuhkan bata bara sebesar 106 Juta MT, ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan sebesar 10,41% dari tahun 2019.

Tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah mau atau tidak menggunakan material green energy yang ramah lingkungan, meskipun berat di awal terutama untuk aspek infrastruktur. Kendala terbesar dalam dunia listrik memang dalam tempat penyimpanan, seperti yang kita ketahui bahwa Baterai Li-Ion (atau yang biasa kita sebut power bank) harganya relatif mahal, dan kapasitas penyimpanan yang minim dikarenakan bahan baku nikel yang mahal dan teknologi pengolahan nikel yang sangat sulit.

Taiwan adalah salah satu negara penghasil semikonduktor yang paling berhasil didunia. Taiwan mengetahui dan paham bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mengalahkan kendaraan listrik keluaran Jepang dan Korea. Karenanya Taiwan lebih memilih untuk menggali potensi dalam dunia pembuatan semikonduktor sehingga berhasil menorehkan prestasinya dalam membuat bahan semikonduktor dalam sembilan tahun terakhir. Apabila Indonesia meniru Taiwan, saya yakin dan optimis Indonesia dapat membuat dirinya dikenal di dunia.

Akhir Juni lalu, saya tidak sengaja berbincang dengan seorang teman dari Taiwan yang kebetulan memiliki professor sedang melakukan penelitian bahan bakar alternatif untuk diesel yang biasa disebut biodiesel. Ternyata, Indonesia sudah dikenal dengan B-30, sedangkan di Taiwan sendiri masih meneliti B-02. Hal ini cukup mengejutkan untuk saya karena alasan kebijakan di Taiwan dan efek kedepannya untuk mesin diesel sendiri.

Satu lagi yang menarik dari Indonesia mengenai sumber energi terbarukan adalah B-100 yang saat ini sedang dikembangkan dan diuji. Apabila pengujian  berhasil dan dapat diterapkan pada kendaraan diesel, saya yakin Indonesia akan dikenal dimata dunia dengan bakar yang ramah lingkungan. Semoga saja itu cepat terwujud dan dapat diterima di berbagai negara maju.

Menurut data dari Investor.co.id (2020) bahan bakar B-100adalah bahan bakar yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pesawat terbang. Apa arti penting dari hal tersebut? Kedepan, Indonesia tidak perlu import ataupun hutang ke luar negeri untuk membeli avtur. Hal ini dapat menekan konsumsi import dan cadangan kas negara sehingga dapat dialokasikan untuk keperluan lain. Menurut cnbcindonesia.com (2019), konsumsi avtur dalam lima tahun terakhir tumbuh dengan laju rata-rata 7,8% per tahun (CAGR), dan pada 2018 konsumsi avtur telah mencapai 5,72 juta kilo liter.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah, tinggal bagaimana kita sebagai anak muda, generasi penerus bangsa dapat mengoptimalkan ini semua dan membuat kebijakan yang dapat digunakan untuk membuat Indonesia lebih maju. Dibandingkan dengan Singapura, negara ini tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah tapi mengapa negara Singapura bisa maju sekali? Jawabannya adalah terletak pada kepercayaan orang dalam menginvestasikan uang masyakaratnya untuk pemerintah, sehingga pemerintah dapat menarik investor luar negeri untuk bisa membangun negaranya.

Jadi, apa yang dapat Indonesia lakukan untuk menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan? Jawabannya terletak pada kebijakan pemerintah dalam mengoptimalkan sumber daya alam untuk menghasilkan energi terbarukan, seperti pengolahan nikel menjadi baterai Li-Ion, solar panel, dan bahan bakar alternatif B-30 ataupun B-100. Belajar dari negara Taiwan dan Singapura, saya rasa Indonesia dapat menumbuhkan ekonomi dan menyumbangkan energi ramah lingkungan di kancah dunia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya