Whistle-Blowing: Membuka Mulut, Membongkar Pembusukan Kebenaran di Ruang Publik

Mahasiswa
Whistle-Blowing: Membuka Mulut, Membongkar Pembusukan Kebenaran di Ruang Publik 02/04/2020 1604 view Politik Flickr.com

“Kita cenderung berjuang untuk menang, sampai akhirnya kita lupa bahwa yang seharusnya kita usahakan adalah memperjuangkan kebenaran.”

Kutipan di atas adalah salah satu penggalan dialog dalam sebuah serial India yang berjudul Veer Zaara yang pertama kali ditayangkan pada 2004 silam. Serial yang dibintangi oleh aktor kondang India, Shah Rukh Khan (Veer) ini selain bertujuan memformulasikan kisah cinta yang istimewa antara dirinya dan lawan perannya, Zaara, sekurang-kurangnya juga hemat saya memperkenalkan tiga bentuk kenyataan patologis yang hampir pasti mewarnai seluruh kehidupan manusia di belahan dunia mana pun.

Pertama, konservatisme budaya. Dialog ‘di muka’ yang terjadi di dewan tribunal negeri India ini sebetulnya menarasikan situasi kegalauan seorang pengacara perempuan ketika dirinya mesti berjuang mati-matian mempertahankan pembelaannya terhadap kliennya di forum peradilan.

Fatalnya, situasi ini mesti ‘dialami’ kaum perempuan lantaran masyarakat setempat bahkan hukum yang terlampau ‘mendewakan’ kebudayaan patriarkat. Alih-alih menyuarakan kebenaran, perempuan justru menelan pil pahit lantaran menjadi korban perilaku diskriminatif dan stereotip negatif terhadap golongannya.

Kedua, perempuan disubordinasi. Implikasi praktis dari konservatisme berlanjut pada perilaku subordinatif. Subordinasi terhadap perempuan, misalnya, semakin nampak dengan dinafikannya peran mereka dalam ranah hukum. Suara perempuan bukanlah penjamin kebenaran, sekalipun yang disuarakan de facto adalah benar. Sebaliknya laki-laki justru selalu diminati dalam keseluruhan peran dan mendapat supremasi hukum sebagai pelanggeng tugasnya, sekalipun yang disuarakan sekadar menyampaikan ‘pembenaran’ dan bukan kebenaran.

Ketiga, adanya kecurigaan yang besar terhadap sesama golongan yang berimplikasi pada kurangnya kepercayaan satu terhadap yang lain. Dapat dibayangkan sendiri apa yang terjadi ketika kekuatan ‘penghancur’ seperti yang ‘diperankan’ di atas berjalan beriringan dan dikemas menjadi strategi perpolitikan dalam kehidupan nyata. Crushing power-nya barangkali lebih menyakitkan dari pada cemeti Apartheid yang pernah mencambuki perpolitikan sebuah negeri nan gersang, Afrika Selatan, pada tahun 1948 silam.

Memahami sekilas penggalan cerita dalam serial di atas yang hemat saya mengerucut pada dua konflik sekaligus, manifes dan laten, penonton akan tersadarkan dengan rangkaian kejadian serupa yang tak pelak juga hadir dalam percaturan perpolitikan Indonesia. Melalui medium serial itu, setidaknya masyarakat (kita) akan tersadarkan dengan berberapa kenyataan berikut.

Pertama, pembusukan nilai dan makna kebenaran acapkali dibidani oleh konservatisme dan solidaritas buta dari sekelompok orang atau golongan. Konservatisme dan solidaritas buta melahirkan sikap ekslusif terhadap kelompok lain. Ini adalah kecenderungan naif yang umumnya muncul ketika sebuah kelompok atau golongan ‘mempertahankan’ dengan mutlak norma-norma yang berlaku dalam kelompoknya tanpa filterisasi yang autentik. Sikap konservatif memungkinkan ketertutupan terhadap nilai dan norma baru yang berasal dari luar diri dan kelompoknya.

Kedua, pembusukan terhadap nilai dan makna kebenaran bisa pula lahir akibat adanya superioritas golongan .‘Kebenaran’ dengan demikian dapat dengan mudah dipelintir oleh orang-orang yang mempunyai privilese, lalu serentak menciptakan sekat pemisah bagi ‘yang lain’ untuk tidak mengatakan kebenaran.

Di sinilah kebenaran dipertanyakan, apakah ia adalah tujuan perjuangan hidup semua orang atau sekadar produk olahan kelompok-kelompok tertentu yang dengan sesuka hati membuat pewatas yang kadang mengerdilkan dan bahkan mendepak makna kebenaran?

Pandangan Machiavelli pada aras ini benar bahwa ‘siapapun yang berkuasa selalu bisa melenyapkan lawan-lawannya (dalam hal ini lawan yang memperjuangkan kebenaran) lewat jalan yang tampaknya legal’.

Ketiga, aktus kecurigaan terhadap kelompok-kelompok tertentu meniscayakan pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat kelompok itu.
Kebenaran sebetulnya adalah tema klasik. Perdebatan seputar ‘kebenaran’ atau verum telah berlangsung berabad-abad sebelumnya dan menjadi tema menarik di antara filsuf-filsuf yang tidak pernah puas mempertanyakan segala sesuatu. Kaum idealis, misalnya, melihat kebenaran sebagai persesuaian antara putusan dan hukum-hukum imanen dari akal budi, atau pertalian antara pikiran dan dirinya sendiri.

Emile Durkheim, sosiolog berkebangsaan Perancis mengartikan kebenaran sebagai sesuatu yang diterima dan dipercayai orang pada umumnya, atau dengan kata lain sesuatu dikatakan sebagai ‘benar’ bila sesuatu tersebut sepakat diterima dan disepakati orang banyak. Di sini ada semacam konspirasi dan matematisasi terhadap kebenaran, seolah kebenaran adalah angka-angka yang dapat disusun menjadi bilangan-bilangan tertentu seturut minat dan interest sekelompok orang.

Lebih dari itu, ‘kebenaran apabila orang banyak meyakini itu benar’, seperti yang dikonsepkan Durkheim, hemat saya bukan merupakan definisi yang proporsional sebab jika demikian kebenaran tidak lebih dari sekadar sebuah komoditas pasar bebas yang dapat diperjualbelikan sesuka hati dan besar kemungkinan bahwa definisi kebenaran sekadar lahir dari emosi yang labil.

Kebenaran adalah persoalan pragmatis, bukan masalah emosi. Definisi umum tentang kebenaran adalah persesuaian antara kata terucap dengan realitas yang nampak. Sejalan dengan itu, definisi serupa pula yang dipegang teguh penulis dalam keseluruhan tulisan ini.

Pembusukan terhadap makna dan nilai kebenaran adalah satu tema aktual yang serentak mengundang sikap mawas diri dan pandu-pandu objektif yang dapat dijadikan pedoman hidup dan paradigm berpikir bagi masyarakat. Manusia memiliki akal budi dan rasionalitas, sehingga memiliki tanggungjawab untuk sebuah kebenaran yang universal dan nilai-nilai kebaikan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pandu objektif sekaligus paradigma berpikir yang penulis tawarkan adalah spirit whistle-blowing. Whistle-blowing yang secara harfiah berarti ‘meniup peluit’ adalah suatu semangat yang memungkinkan semua orang dari setiap golongan terlibat secara humanis sebagai pejuang kebenaran dan menolak kebohongan.

Whistle-blowing diawali dengan suatu kesadaran bahwa pembelaan terhadap kebenaran adalah perjuangan kemanusiaan, bukan perjuangan kelompok tertentu, dan bahwa kenyataan pembusukan terhadap kebenaran sendiri adalah bentuk patologi sosial yang turut menciptakan keterjajahan dalam tubuh masyarakat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya