Jalan Panjang Memerdekakan Generasi Klik

Mahasiswa Sanata Dharma
 Jalan Panjang Memerdekakan Generasi Klik 15/04/2022 119 view Pendidikan pixabay.com

Pandemi Covid-19 membawa terobosan model pendidikan baru yaitu pendidikan digital. Pendidik dan peserta didik tidak lagi berinteraksi secara luring tetapi memberdayakan fasilitas teknologi (internet, smartphone, PC, dan lain-lain) dalam pembelajaran jarak jauh. Hal tersebut merupakan angin segar bagi dunia pendidikan kita karena menciptakan banyak kemudahan, efisiensi serta efektivitas dalam kegiatan belajar. Pendidik hanya sebagai fasilitator bagi para peserta didik. Namun, perlu disadari bahwa pendidikan berbasis digital justru menghasilkan generasi klik. Lalu, pertanyaan yang muncul ke permukaan adalah apakah pendidikan digital mampu mengantar peserta didik pada merdeka belajar? Ataukah mereka malah dijajah oleh teknologi sehingga hanya sekadar menjadi generasi klik?

Generasi Klik di Tengah Merdeka Belajar

Sejalan dengan inovasi pendidikan digital, Nadiem Makarim menggarisbawahi konsep merdeka belajar selama pandemi Covid-19. Beliau menegaskan bahwa merdeka belajar adalah konsep yang mengharuskan insan pendidikan untuk mandiri belajar. Insan pendidikan dapat merdeka dalam berpikir sehingga dapat mengasah kekritisan (Kompas.com, 27 Agustus 2020).

Konsep merdeka belajar dapat dilihat dalam model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning Model) bagi gen-Z yang dikembangkan oleh Howard Barrows (1969) di McMaster University di Kanada. Pembelajaran berbasis proyek merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Peserta didik secara konstruktif melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan. Peran guru dan tutor sangat penting dalam memfasilitasi dan mengarahkan proses pembelajaran. (LPMPJatim: 2021). Dapat dikatakan bahwa peserta didik memiliki kontrol dan tanggung jawab besar atas proses belajarnya sendiri. Peserta didik tidak hanya berpaku pada diktat atau materi yang diberikan guru atau dosen tetapi secara mandiri menggali informasi dari internet di luar sekolah atau kampus. Peserta didik dapat memperkaya dirinya dengan beragam informasi ilmu pengetahuan yang didapat. Dengan bermodalkan smartphone dan kuota internet, mereka dapat menjangkau kedalaman ilmu pengetahuan.

Di pihak lain, kita juga perlu menyadari bahwa arus informasi yang tidak terbendung justru menjadi petaka bagi atmosfer pendidikan kita. Membanjirnya informasi dalam dunia digital membuat peserta didik malah hanya sekedar menjadi generasi klik. Budi Hardiman dalam bukunya yang berjudul Aku Klik maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital (Kanisius, 2021) menegaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran konsep cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada) oleh premo ergo sum (aku klik, maka aku ada). Artinya, ‘aku’ ada atau sungguh-sungguh hidup jika ‘aku’ eksis dalam dunia digital. Dalam hal ini ego bertindak yang mana setiap orang lebih menunjukkan citra dirinya dalam dunia digital dibanding dalam dunia nyata. Manusia bertransformasi dari homo sapiens menjadi homo digitalis karena merasa bahwa dirinya benar-benar ada dalam dunia digital (atau dunia maya) dibandingkan dunia nyata (Hardiman: 2021).

Konsep cogito ergo sum yang sebenarnya adalah tempat bertumpunya pendidikan dicederai oleh komunikasi digital semu akibat fiksi dan fakta yang susah dipisahkan. Dalam hal ini, kita dibuat tidak berdaya dengan percampuran informasi yang tidak terbendung. Dalam aktivitas menggali informasi, kita sebagai peserta didik terjebak dalam kubangan generasi manusia klik yang lebih mengandalkan jari dibandingkan nalar kritis. Keberhasilan proses belajar seolah ditentukan oleh jari yang selalu mengklik dalam dunia digital yang maha luas. Pergerakan jari seakan-akan memberikan kuasa lebih atas rasionalitas berpikir. Hal tersebut turut melahirkan kedangkalan berpikir. Inovasi teknologi membuat kita hanya mengandalkan jari untuk mengklik tanpa berpikir secara mendalam mengenai substansi informasi. Akibatnya, mental instan tidak terhindari. Kita acapkali menelan begitu saja informasi dari internet tanpa memikirkan kebenaran informasi yang ada. Misalnya, dalam mengerjakan tugas, kita bertendensi mengcopy paste jawaban dari internet tanpa melihat substansi dan menguji kebenaran informasi. Alhasil, kekritisan dan pisau analisis kita akan suatu masalah menjadi tidak tajam.

Generasi klik juga ditandai dengan krisis moralitas dan semangat kerja kolaboratif. Dalam dunia digital kita menjadi manusia penuh klise yang susah untuk berpikir kritis. Transparansi informasi dunia digital sekarang ini memungkinkan kita termakan informasi hoaks, isu SARA, dan ujaran kebencian. Eksesnya adalah kita akan mudah terprovokasi dan berujung pada perilaku intoleransi dan radikalisme yang membuyarkan moralitas insan akademik. Di lain pihak, semangat kerja kolaboratif dilengser oleh ego dan ambisi untuk mengalahkan dan bahkan menghancurkan orang lain.

Merawat Nalar Kritis: Upaya Memerdekakan Generasi Klik

Merdeka belajar dalam pendidikan digital mesti dibarengi upaya merawat nalar kritis. Merawat nalar kritis merupakan langkah awal dalam memberikan penilaian dan kesimpulan atas informasi tertentu. Nalar kritis membuat kita mampu mengonsumsi suatu informasi berdasarkan rasionalitas berpikir untuk membuat suatu keputusan dengan pisau analisis yang tajam. Kita tidak serta merta percaya akan suatu informasi, tetapi secara kritis dan skeptis melihat kebenaran serta bias dalam informasi tersebut. Bernalar kritis membantu kita dalam menghasilkan keputusan dan keberpihakan atas isu masalah tertentu. Dalam hal ini kita berusaha berpikir logis untuk menemukan hubungan antara ide-ide. Berpikir logis menandakan adanya kemerdekaan berpikir untuk menemukan langkah solutif atas suatu masalah.

Merawat nalar kritis bukanlah proses sekali jadi dan membutuhkan waktu untuk menjadikannya sebagai kebiasaan baru dalam pendidikan. Merawat nalar kritis diawali dengan identifikasi masalah secara rinci untuk menemukan pokok permasalahan yang harus diselesaikan. Identifikasi masalah mengharuskan kita mendulang informasi sebanyak mungkin tentang masalah yang terjadi. Informasi-informasi tersebut mesti diperiksa sedetail mungkin untuk menemukan indikasi hoaks dan bias informasi. Pada aras ini, kita mesti memeriksa sumber informasi dan basis-basis dalam informasi tersebut. Kemudian, kita bisa membuat kesimpulan serta pernyataan sikap dan dikomunikasikan kepada pihak terkait. Dalam konteks pendidikan digital, upaya merawat nalar kritis diformulasikan dalam bentuk literasi digital. Literasi digital menjadi upaya memberdayakan fasilitas digital untuk mencetak insan akademik yang mampu berpikir kritis. Literasi digital mensyaratkan pemanfaatan teknologi digital dalam menularkan informasi yang benar dan tidak menyesatkan publik. Literasi digital membuat kita tidak hanya sekadar mengambil informasi dari internet tetapi secara masif memeriksa informasi tersebut untuk membuahkan kesimpulan yang logis.

Strategi merawat nalar kritis adalah melatih berpikir kritis dan mengimplementasikannya dalam ranah praktis. Buah dari merawat nalar kritis adalah pemikiran kritis dan logis yang menjadi sumbangan berarti bagi kemajuan bangsa. Spiritualitas kepemudaan yang kritis, kreatif, inovatif, dan visioner perlu diasah secara masif. Kita perlu bergerak secara humanis dan bermoral untuk menyumbangkan ide konstruktif demi kemajuan bangsa. Salah satunya adalah menjadi penyambung lidah masyarakat dalam mengkritisi kebijakan pemerintah. Pada ranah yang lebih praktis, kita bisa menjadi agen perubahan dalam memberantas korupsi di Indonesia. Misalnya, pemberdayaan nilai kejujuran dalam lingkungan sekolah atau kampus dengan menghindari perilaku mencontek, plagiat, dan menghindari nepotisme. Kita juga dapat secara giat mengikuti pendidikan anti korupsi melalui kegiatan-kegiatan edukatif seperti seminar/webinar, diskusi, dan dialog. Selain itu, kita mesti berpartisipasi dalam berbagai macam perlombaan yang berintensi memupuk semangat anti korupsi seperti perlombaan karya tulis (artikel, esai, dan karya ilmiah), perlombaan seni (teater, lukisan, lukisan, lagu, tarian, dan sejenisnya), perlombaan debat, dan lain-lain.

Di era digital, kita sebagai generasi penerus bangsa dapat menjadi patron dalam memberdayakan fasilitas teknologi untuk menunjukkan kepedulian sosial. Misalnya, secara intensif melakukan galang dana melalui penyebaran poster di media-media sosial. Dalam hal ini, kita tidak sekadar menjadi generasi klik yang terjebak dalam ironi solidaritas maya. Ironi solidaritas maya dibuktikan dengan hanya mengklik emoji suka, komen, dan lain-lain pada ruang digital tanpa adanya empati. Kita juga perlu hadir di tengah-tengah penderitaan kaum lemah dan turut membantunya.

Pada galibnya, kita sebagai generasi milenial harus menjadi patron dalam pemberdayaan fasilitas teknologi. Pemberdayaan teknologi mesti berpegang teguh pada nalar kritis dan nilai moral agar tidak terjebak menjadi generasi klik. Kita harus memiliki kontrol atas teknologi dan tidak boleh dijajah olehnya. Kekritisan, humanisme, dan moralitas adalah pegangan teguh dalam memanfaatkan teknologi demi kemajuan bangsa Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya