Solidaritas Pangan Jogja Menolak Penghargaan

Pegiat HAM
Solidaritas Pangan Jogja Menolak Penghargaan 05/12/2020 1021 view Lainnya Solidaritas Pangan Jogja

Pagi ini, Jumat, 4 Desember 2020 bertempat di Dapur Wonocatur, Solidaritas Pangan Jogja mengadakan konferensi pers sehubungan dengan adanya surat undangan dari Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menghadiri acara penerimaan kunjungan kerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI. Surat undangan tersebut dikirim sehari sebelumnya.

Komunikasi juga dilakukan melalui telepon untuk menginformasikan tujuan undangan tersebut yaitu bahwa SPJ berhak menerima penghargaan karena terpilih sebagai TOP 21 Inovasi Pelayanan Publik Penanganan COVID-19 Kemenpan-RB.

Setelah menerima surat undangan tersebut dalam pers rilisnya yang diberi judul yang utama adalah Penghargaan atas Solidaritas dari Rakyat untuk Rakyat!, para penanggungjawab dapur dan relawan, atas nama SPJ memutuskan untuk Menolak penghargaan TOP 21 Inovasi Pelayanan Publik Penanganan COVID-19 Kemenpan-RB serta menolak untuk hadir dalam acara penerimaan kunjungan kerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI pada Jumat, 4 Desember 2020 di Kantor Sekretariat Daerah, Pemerintah Kota Yogyakarta.

Dikatakan dalam pers rilisnya bahwa keputusan SPJ untuk menolak berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu, SPJ bukanlah sebuah bentuk pelayanan publik. Solidaritas Pangan Jogja adalah sebuah gerakan rakyat di masa pandemi untuk saling membantu sesama. Karena kami menilai, di saat yang sama pemerintah tidak mampu memberikan akses kesehatan, pangan dan jaminan kesejahteraan dalam bentuk apapun. Ini adalah bentuk protes atas diskriminasi yang terus-menerus dilakukan oleh pemerintah terhadap kelompok-kelompok masyarakat rentan. SPJ bergerak atas kepercayaan bahwa rakyat dapat mewujudkan kemandiriannya melalui aksi-aksi solidaritas.

SPJ bukan organisasi yang didukung oleh satu-dua pihak pemilik modal besar yang menjadi pemimpin. SPJ dihidupi oleh banyak orang lintas batas provinsi dan negara. Oleh karena itu, memberikan penghargaan kepada SPJ adalah tindakan salah alamat. Penghargaan harusnya diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia, yang saling membantu satu sama lain di masa sulit demi kehidupan.

Penghargaan yang dibutuhkan bukan berbentuk piala atau piagam, melainkan akses terhadap jaminan kesehatan, ketersediaan pangan, pekerjaan dan upah layak. Khususnya kepada kelompok masyarakat yang sering dilupakan: mereka yang tidak memiliki KTP, rumah, dan terpaksa harus terus berada di jalanan demi menyambung hidup. Dan SPJ tidak membutuhkan pengakuan pemerintah atas kerja sosial yang telah dilakukan selama ini. SPJ dapat bergerak karena kepercayaan masyarakat: donatur uang, donatur bahan makanan, relawan yang memberi tenaga dan waktunya dan kelompok petani yang terus mengirimkan sayur dalam jumlah besar dan rutin.

SPJ juga menambahkan bahwa meskipun saat ini SPJ sudah tidak lagi menerima dan mengelola donasi, namun semangat rakyat bantu rakyat berdasarkan kepercayaan dan solidaritas tetap terus bergulir melalui berbagai inisiatif masyarakat sipil.

Selain itu SPJ juga menyarankan bahwa daripada menghamburkan uang untuk memberi penghargaan semu di tengah krisis saat ini, SPJ menuntut pemerintah agar mengalokasikan dana dan bantuan penanganan Covid-19 sampai betul-betul diterima warga negara yang membutuhkan.

Di akhir pers rilisnya SPJ menegaskan bahwa kita semua berhak hidup layak dan bermartabat!

Penghargaan ini mengingatkan kembali pada perjalanan awal bersama SPJ. Pada masa awal pandemi, di tengah kepanikan dan kebingungan menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dalam arti tidak tahu apa yang sedang dihadapi. Belum ada kejelasan bentuk penyakit, penyebab serta pencegahannya. Namun korban terus berjatuhan.

Kepanikan merembet pada sirkulasi ekonomi dan akibatnya jelas, masalah pangan terutama menimpa kelompok rentan dengan penghasilan rendah. SPJ mengambil inisiatif dengan membagikan nasi bungkus. Seperti yang diutarakan oleh Dika dari Dapur Wonocatur, "Sedikit sharing lurs, era awal pandemi datang, segala aktivitas seolah digamangkan, terlebih negara tidak segera mengambil sikap, masyarakat semakin terhuyung huyung dalam kebingungan dan kecemasan. Terutama akar rumput yang face to face dengan keadaan demikian ini"

Sementara, beberapa memilih mengamankan diri, teman teman SPJ dan rekan-rekan lain justru memilih sikap untuk melawan, dengan bersolidaritas! Saya pribadi tak putus-putusnya berterima kasih atas kesadaraan ini. Teringat goresan pena Pram dalam Perawan Dalam Cengkraman Militer : "Mungkinkah seorang anak yang cengeng dalam perkembangannya barang dua puluh tahun kemudian bisa berubah jadi penentang dan pelawan?" Bisa! Penderitaan tak tertanggungkan bisa mengakibatkan tiga macam sikap: menyerah tanpa syarat, melawan, atau membiarkan diri hancur. Mulyati memilih melawan! Sekali lagi matur nuwun dan panjang umur kemanusiaan"

Koordinasi dilakukan setiap hari. Pada masa awal sempat terjadi kebingungan dalam pendistribusian karena mimimnya tenaga untuk membagikan nasi ke beberapa titik. Aku bahkan menggunakan gojek untuk membawa 100 nasi bungkus yang terbagi dalam 4 plastik besar ke dua lokasi. Rasanya masih terbayang membawa 4 plastik besar, yang terpaksa harus dibagi dalam dua kali pengangkutan. Ditambah membawanya sendirian ke lantai dua. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membuka pendaftaran relawan.

Seiring dengan bertambahnya relawan, lokasi pembagian juga bertambah. Dapur-dapur pun bertambah hingga 12 dapur. Kesibukan dimulai dari belanja di pagi hari, membagikan nasi di siang hari lalu memberi laporan distribusi serta menu hari itu.

Kesibukan dan kelemahan yang terbayar dengan suka cita karena berbagi rasa dan semangat, keakraban dan semangat solidaritas di dalam grup. Seminggu sekali ditambah dengan pergi ke Kulonprogo untuk mengambil sayur mayur dari teman-teman petani, Paguyuban Petani Lahan Pesisir atau PPLP yang mendonasikan produksi pertanian yang berlimpah sebagai bentuk solidaritas pada warga kota yang terdampak pandemi.

Masih terngiang kegembiraan saat berkumpul sejenak di siang hari sebelum melanjutkan membagi nasi atau saat rapat koordinasi antar dapur, saat bertemu dengan kawan-kawan PPLP, dan terutama, saat mengunjungi titik-titik pembagian. Ada rasa haru dan bersyukur bahwa di tengah pandemi kita masih bisa berbagi. Bukan pada nasi bungkusnya tapi pada sebentuk rasa yang melengkapi kemanusiaan kita.

Pandemi COVID-19 masih berlangsung, entah sampai kapan. Semoga segera teratasi. Pandemi pasti berakhir tapi semoga kemanusiaan kita tidak berakhir. Tanpa perlu menunggu perhatian Pemerintah atau pihak manapun, tak juga perlu mendapat penghargaan. Penghargaan itu untuk kita sendiri, menghargai kemanusiaan kita, menghormati rasa yang memang seharusnya ada. Semoga selalu ada hal-hal baik di tengah segala hal buruk. Panjang Umur Hal-hal Baik. Solidaritas Pangan Jogja, proud to be part of it.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya