Seminari Bukan Tempat Menciptakan Orang-Orang Cerdas

Milenial
Seminari Bukan Tempat Menciptakan Orang-Orang Cerdas 20/02/2022 207 view Pendidikan indoprogress.com

Dalam banyak kesempatan diskusi atau pun ngerumpi, banyak rekan maupun sahabat yang sering melontarkan sanjungan pada para ex-seminaris. Ex-seminaris, sebutan untuk mereka yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga calon imam Katolik (Seminari), banyak menjumpai pujian perihal kepribadian serta abilitas akademiknya. Umpatan sanjungan tersebut kerap diterima dengan alasan karena pernah belajar di seminari.

Bukan tanpa alasan, pendapat bahwa pendidikan di seminari melahirkan persona yang cakap akademik dan good attitude sering dilontarkan banyak insan (bukan eksklusif hanya dari Nasrani saja) itu lebih disebabkan oleh faktor empiris. Mereka cenderung secara kebetulan sering bertemu dan berinteraksi dengan para ex-seminaris yang memiliki kecakapan yang ideal. Sehingga, pandangan dan pendapat positif mereka tentang pribadi-pribadi yang masih, telah, maupun pernah belajar di seminari kuat melekat pada memori.

Secara umum, saya tidak dapat mengatakan bahwa pandangan orang tentang seminaris maupun ex-seminaris itu keliru. Pengalaman hidup, menempa ilmu, dan berkembang di seminari selama delapan tahun memberi saya sebuah gambaran secara gamblang bagaimana persemaian bibit persona yang cakap sikap dan akademik berlangsung baik.

Namun, itu semua tidak serta merta membangun narasi saya bahwa, dengan berada dan belajar di seminari, seseorang akan menjadi pribadi yang cerdas secara akademik maupun cakap secara attitude. Lebih tepatnya, saya berpendapat bahwa, dengan berada dan belajar di seminari, seseorang ‘seharusnya’ mampu menjadi pribadi yang cakap, baik akademik maupun nonakademik, serta memiliki good attitude. Seharusnya. Ada alasan masuk akal mengapa saya mengatakan ‘seharusnya’.

Dalam Optatam Totius (OT), salah satu dekrit Konsili Vatikan II tentang pembinaan imam, secara jelas mengungkapkan bahwa hendaknya pola pembinaan dan pendidikan para seminaris seimbang serta unggul dalam beberapa hal, yaitu unggul dalam bidang intelektual, unggul dalam emosional, dan unggul dalam hidup religius. Visi yang dibangun ini tidak lain mengarah pada pendidikan karakter yang baru santer digaungkan Presiden Jokowi pada Pemilu 2014 silam. Visi yang sama masih menjadi pegangan pola pembinaan sampai pada seminari tinggi dengan pelbagai inovasi yang disesuaikan dengan tuntutan zaman.

Perihal pembinaan imam, Konsili Vatikan secara terbuka memberi keluwesan kepada setiap seminari menengah agar para seminaris mampu melalui pembinaan rohani yang khas, serta dengan campur tangan orang tua mampu menjalani hidup yang cocok dengan usia, mentalitas, dan perkembangan kaum muda dan sesuai dengan prinsip psikologis yang sehat. Selain itu, para seminaris mesti terjun dalam pengalaman-pengalaman manusiawi yang secukupnya bersama masyarakat serta hubungan biasa dengan keluarga mereka sendiri. Sehingga, untuk kapasitas pengalaman hidup rohani, para seminaris telah decekoki dengan pelbagai resources belajar yang memadai serta kondusif untuk kecakapan personanya.

Berkaitan dengan pembinaan secara akademik dan nonakademik, OT pun merumuskan sebuah pola seleksi dan pengujian terhadap para seminaris, tentang kesesuaian mereka untuk imamat di bidang moral dan intelektual, tentang kecukupan kesehatan badan maupun jiwa. Karena dididik dengan pola pembinaan menjadi seorang imam, penilaian terhadap para seminaris juga mencakup kecakapan untuk menanggung beban hidup sebagai imam serta menunaikan tugas-tugas pastoral.

Kualitas pendidikan dan pembinaan menjadi esensial sehingga para pembina dan guru mesti dipilih dengan saksama dan dibina secara efektif. Para pembina disiapkan melalui studi yang terjamin mutunya, pengalaman pastoral yang secukupnya, dan pembinaan yang khas di bidang rohani dan pendidikan. Tentu saja, semua elemen yang menjadi support pengembangan pola pembinaan dan pendidikan mesti mau terus belajar dan menyesuaikan diri dengan tuntutan paling aktual.

Saya dapat mengatakan bahwa, para seminaris memperoleh sebuah program “rekayasa persona” yang ideal. Pola pembinaan yang ideal, pendidikan yang terarah dan selalu terpantau, aturan harian yang mengatur pola aktivitas, dan tenaga pembina yang kompeten adalah alasan-alasan mengapa seorang seminaris mestinya lahir menjadi pribadi yang matang secara rohani dan cakap secara akademik maupun nonakademik.

Tidak ada alasan paling logis baginya untuk tidak cakap. Sebab, seharusnyalah memang terjadi demikian. Ketidakcakapan seorang seminaris atau ex-seminaris kadang menjadi sebuah tanda tanya besar dalam benak awam. Karena, sekali lagi, sudah sepatutnya mereka yang dibina dengan pola pendidikan yang ideal serta kondusif untuk menjadi persona yang cakap dalam hidup praktis.

Di balik semua alasan masuk akal yang menjadi tulang punggung narasi “seminaris dan ex-seminaris seharusnya orang yang matang rohani dan cakap intelektual”, saya ingin mengapresiasi para tenaga pengajar dan pendidik yang turut mendukung dengan segala usaha aktualisasi persona yang cakap tersebut. Sekaligus, saya ingin memberikan pandangan, yang harapannya, mampu menjadi batu loncatan khususnya objek yang dipelajari agar seminaris maupun ex-seminaris cakap adaptif terhadap tuntutan zaman.

Sesuai dengan salah satu visi dalam dekrit OT yang disahkan Paus Paulus VI, yakni bahwa “studi yang harus ditempuh oleh para seminaris harus diatur sedemikian rupa, sehingga mereka tanpa dirugikan dapat melanjutkannya di lain tempat, sekiranya kemudian memilih status hidup yang lain”, maka sudah sewajarnya kepraktisan objek pembelajaran perlu digencarkan. Bukan sekedar teori pastoral, melainkan juga praktik hidup pastoral. Bukan sekedar teori psikologis masyarakat dan ilmu sosiologi, melainkan juga praktik hidup bersama masyarakat.

Ilmu lainnya yang dapat dipraktiskan sekalipun bukan sebagai seorang imam, seperti entrepreneurship, penguasaan alat digital, ilmu manajemen keuangan, desain grafis, dan investasi, perlu digalakkan. Tentu saja, ini bukan serta merta menghilangkan esensi pembinaan calon imam itu sendiri, melainkan justru memperkaya ilmu dan mendukung pengembangan skill nonakademik para seminaris.

Saat ini, di era digital menuju 5.0, ilmu semacam itu semestinya bukan lagi hal tabu bagi pendidikan di seminari. Pendidikan formal seminari harus sudah menyentuh ranah yang lebih inovatif, yang harapannya, jebolan seminari itu berdaya saing global.

Untuk mencapai pendidikan ideal, dalam hal ini yang adaptif terhadap perkembangan zaman, keterbukaan semua elemen diperlukan. Para tenaga pendidik, orang tua, dan para seminaris tentunya harus mau berkembang seiring perubahan positif di sekitarnya. Masa pandemi mungkin menjadi pukulan telak sekaligus teguran untuk merekonstruksi pola pembinaan dan pendidikan di seminari.

Elemen guru, pembina, orang tua, dan seminaris serta pihak yang terlibat diwajibkan tanggap dan cakap penguasaan perangkat digital agar pendidikan formal seminari tetap berlangsung. Zaman terus berubah dan maju. Mau tidak mau, siap tidak siap, semua orang siapapun itu harus mau dan siap, termasuk komunitas pendidikan calon imam itu sendiri. Sehingga, pada saatnya nanti, terciptalah imam maupun para ex-seminaris yang cakap, tanggap terhadap perkembangan zaman, dan inovatif. Seharusnya demikian.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya