Rindu Pemimpin Berjiwa Pahlawan

Mahasiswa
Rindu Pemimpin Berjiwa Pahlawan 30/10/2020 1440 view Politik 99.co

Berbicara tentang pahlawan dalam konteks sekarang ini, tentunya berbeda dengan konsep pahlawan yang diidolakan zaman dulu. Dulu, katakanlah pada saat negara ini dijajah oleh para kolonis, konsep tentang pahlawan yaitu harus yang kuat, berotot, gagah perkasa, dan berani. Konsep seperti itu tidak relevan lagi bagi masyarakat zaman sekarang.

Sekarang ini, sosok pahlawan dilihat sebagai manusia yang berintelektual, berakhlak baik, dan mampu mengarahkan orang-orang disekitarnya pada tujuan bersama yang lebih baik. Atau seperti yang diidealkan Plato bahwa seorang pemimpin sejatinya harus manusia yang mampu berperilaku adil, berkualitas etis, cerdas secara intelektual, bijaksana dalam menentukan sesuatu, serta bertanggung jawab (Salim Alatas, 2013). Itulah pengertian pahlawan dalam pikiran manusia zaman sekarang.

Konsep tentang pemimpin yang berjiwa pahlawan seperti itu tentunya relevan sekali dengan situasi demokrasi kita sekarang ini. Seperti yang kita tahu bahwa dalam waktu yang dekat ini, akan ada 9 provinsi dengan total 270 daerah yang sudah pasti akan menggelar Pilkada serentak pada tahun 2020 (Evi Novita, 2019). Semua kandidat pasti sudah melakukan kampanye guna mencuri perhatian rakyat. Barangkali juga masyarakat sudah tidak sabar menanti Pilkada serentak ini, karena ingin melihat wajah seorang pemimpin baru yang sudah diidolakan untuk memimpin daerahnya.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah apakah pilkada serentak yang diselenggarakan di 270 daerah ini nantinya bisa melahirkan para pemimpin-pemimpin yang berjiwa pahlawan seperti yang kita dambakan? Ataukah malah melahirkan para pemimpin-pemimpin yang hanya mementingkan kepentinganya sendiri dan kelompoknya?

Konsep Kepemimpinan Berjiwa Pahlawan

Seorang pemimpin adalah orang yang sudah diberikan kepercayaan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk membawa orang yang dipimpinnya pada arah yang lebih baik. Atau dengan kata lain bahwa seorang pemimpin adalah orang yang sudah diberikan mandat untuk memimpin. Dengan itu, sebagai pemimpin, dia harus betul-betul mempunyai jiwa kepahlawanan dalam dirinya. Ia harus mampu membangkitkan orang-orang yang ia pimpin dari keterpurukan menuju kesejahteraan. Ini adalah prinsip paling utama yang harus dimiliki oleh para pemimpin.

Seorang pemimpin yang berjiwa pahlawan adalah seorang yang mempunyai jiwa kesatria, berani berkorban untuk orang-orang yang ia pimpin, serta mampu membuat orang yang dipimpinnya menjadi manusia yang bebas, baik berekspresi maupun berpendapat. Kalau kriteria-kriteria tersebut tidak nampak pada dirinya, maka dia bisa dikatakan sebagai pemimpin yang gagal menjadi pahlawan.

Dalam banyak kesempatan, tentunya kita selalu melihat dan mendengarkan janji-janji manis para calon pemimpin atau kandidat saat sedang berkampanye. Belum terpilih menjadi pemimpin, sudah berani mengklaim diri sebagai pahlawan bagi masyarakatnya. Dengan berdiri tegak ia berteriak dan siap berjanji untuk siap menjadi pahlawan bagi masyarakatnya. “Jika terpilih, kami akan membuat kalian menjadi makmur, daerah ini akan menjadi lebih sejahtera, kemiskinan kita berantas, semua pendidikan digratiskan, dan kesehatan terjamin” (Silvianus M. Mongko, 2013).

Bukankah kita capek mendengar janji-janji kampanye seperti itu? Janji-janji yang terdengar sangat suci dan formal, bahkan kadang kita yang mendengarnya merinding karena sakralnya janji yang diucapkan.

Akan tetapi yang menjadi pertanyaanya adalah apakah setelah ia duduk di kursi kekuasaan, ia masih ingat dan berpegang teguh pada apa janjinya saat dilantik di depan publik? Ataukah janji-janji itu hanya sebuah wacana demi memikat perhatian? Ataukah berlagak pahlawan tapi ternyata sebenarnya adalah pengkhianat? Itulah yang menjadi pesimisme publik setelah pemimpin berkuasa.

Keluar dari Zona Nyaman

Kalau menimbang kembali soal pemimpin yang berjiwa pahlawan, menurut hemat saya, berarti harus berani keluar dari zona nyamannya sendiri. Artinya bahwa seorang pemimpin harus menjadi pribadi yang bersosialisasi, yang hidup bermasyarakatnya baik, serta bisa berempati dengan berbagai problem yang dialami oleh masyarakatnya. Atau dengan kata lain, bahwa tidak ada pemimpin yang berjiwa pahlawan yang lahir dari zona nyaman. Lantas kenapa pemimpin yang berjiwa pahlawan sangat dibutuhkan?

Kehadiran seorang pemimpin yang berjiwa pahlawan sangat dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat, apalagi dalam konteks masyarakat kita yang plural. Baik pluralitas budaya, agama, suku, maupun kepentingan politik. Di sinilah kita membutuhkan seorang pemimpin yang berjiwa pahlawan yang mampu mengolah semua perbedaan itu menjadi sedemikian rupa indahnya.

Selain itu, tentunya kehadiran seorang pemimpin yang berjiwa pahlawan dibutuhkan agar supaya menciptakan keadilan dan kesejahteraan dalam sebuah masyarakat. Begitupun sebaliknya bahwa jika seorang pemimpin tidak berani keluar dari zona nyamannya, maka sangat jelas dalam dirinya tidak mengalir jiwa kepahlawanan. Dan kalau tidak ada jiwa kepahlawanan dalam dirinya, berarti yang terjadi hanyalah sebuah malapetaka bagi masyarakat yang akan ia pimpin. Dengan itu, prinsip kepemimpinan yang berjiwa pahlawan adalah salah satu rambu yang harus dimiliki oleh para pemimpin kita saat ini maupun yang akan datang.

Karena itu, berhadapan dengan Pilkada serentak yang akan datang ini, satu harapan yang sejatinya selalu kita dambakan dan harapkan adalah semoga bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang berjiwa pahlawan. Berjiwa pahlawan berarti turut merasakan segala penderitaan yang dialami oleh masyarakatnya. Bisa menggiring orang yang ia pimpin pada kesejahteraan. Hal ini memang sulit. Karena tidak semua pemimpin berjiwa pahlawan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya