Revitalisasi Peran Pembinaan di dalam Lembaga Pemasyarkatan

peneliti paruh waktu, sementara tinggal di Manokwari
Revitalisasi Peran Pembinaan di dalam Lembaga Pemasyarkatan 05/09/2021 216 view Lainnya lapaspemuda3langkat.com

Sebagai mantan napi yang telah melakukan perilaku yang dianggap menyimpang oleh masyarakat dan menjalani hukuman di penjara, tentu bukan hal yang mudah untuk berurusan dengan reaksi orang-orang terhadap apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Karena ketika mantan narapidana meninggalkan penjara, mereka harus siap untuk dapat beradaptasi kembali ke masyarakat dan menghadapi segala tekanan dari masyarakat di lingkungan mereka.

Mantan napi yang meninggalkan penjara perlu menyiapkan diri dari aspek psikologis, fisik, sosial, ekonomi, dan agama mereka. Biasanya setelah keluar, mantan narapidana akan merasa takut memiliki perasaan yang menyiksa diri sendiri seperti kesepian, perasaan tidak berguna, disepelekan, dan perasaan tidak mampu lainnya.

Sebagai manusia biasa, mantan narapidana juga ingin diperhatikan, disayang, dan dicukupi kebutuhannya. Mantan narapidana tidak mengharapkan mendapat suatu cacian, cemoohan, dan tetap menyandang status sebagai orang yang tidak baik karena pernah melanggar suatu norma hukum tertentu di dalam lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pihak lapas harus menyiapkan pembinaan untuk narapidana secara sistematis, disiplin, dan terintegrasi agar perubahan yang terjadi pada mantan narapidana setelah meninggalkan lapas memiliki perubahan ke arah yang lebih positif.

Diharapkan minimal ada empat output dari hasil pembinaan di lapas tersebut. Pertama, bertambahnya iman dan ketakwaan. Narapidana banyak mendapatkan ilmu agama ketika mendapatkan program pembinaan kerohanian di dalam lembaga pemasyarakatan yang membuat adanya suatu perbedaan dalam hal spiritual yang terdapat dalam diri seorang mantan narapidana.

Selain menyadari akan dosa yang diperbuatnya di masa lalu, setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan para mantan narapidana diharapkan bisa terlihat lebih mantap dalam keagamaannya seperti rajin salat berjamaah di masjid, mengikuti acara-acara pengajian yang dilaksanakan di lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal, lebih rutin mengikuti ibadah di gereja dan mengikuti acara-acara keagamaan yang lain.

Kedua, lebih peka dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Sikap yang egois merupakan sikap yang dulunya dimiliki oleh mantan narapidana. Namun, setelah mantan narapidana keluar dari lembaga pemasyarakatan, diharapkan mantan narapidana menunjukan perubahan dalam dirinya dengan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti selalu menghadiri acara pesta pernikahan, syukuran, tahlilan, dan gotong royong di lingkungan sekitar. Perubahan tersebut diharapkan mampu memperlihatkan sisi positif mantan narapidana yang ingin berubah dan bergaul dengan masyarakat sehingga diterima dan diakui keberadaannya sebagai bagian dari warga setempat.

Ketiga, menjauhi pergaulan dan kebiasaan di masa lalu. Lingkungan merupakan agen sosialisasi yang sangat erat kaitannya dalam pembentukan kepribadian seseorang. Setelah mendapatkan program pembinaan mental dan konseling, diharapkan mantan narapidana bisa benar-benar menyadari dosa dan kejahatannya di masa lalu. Mereka akan sadar dan memilih untuk pergi meninggalkan masa lalunya yang dianggapnya suram.

Jika mantan narapidana masih terus bergaul dengan rekan lamanya, hal tersebut memungkinkan mereka akan kembali ke jalan yang salah. Sebaiknya yang harus dilakukan mantan narapidana ialah membuang masa lalu dan mencoba beradaptasi ulang dengan rekan masyarakat di tempat tinggalnya, yang memiliki energi untuk menjadikannya berperilaku positif.

Keempat, memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk mendapatkan penghidupan. Banyak sekali mantan narapidana setelah kembali ke dalam masyarakat tidak mendapatkan pekerjaan. Maka dari itu selama di dalam lapas, mereka mendapatkan program pembinaan keterampilan agar bisa menjadi bekal untuk menghasilkan uang sendiri. Sebelum narapidana mendapatkan program pembinaan keterampilan, pihak lapas akan mengadakan assesment terkait minat bakat untuk mengetahui intervensi apa saja yang lebih tepat untuk mereka.

Pembinaan keterampilan ini bertujuan untuk mengasah minat bakat narapidana untuk dijadikan sesuatu karya yang bernilai secara materi. Bentuk dari program pembinaan keterampilan narapidan berupa pembuatan ukir dan furnitur dari kayu, pembuatan kerajinan, melukis, otomotif berupa bengkel motor dan mobil, teknik bangunan, belajar bekerja di koperasi dalam lapas, belajar musik, pertanian, dan perikanan.

Berbagai bentuk perubahan positif mantan narapidana tersebut di atas dapat dikatakan sebagai buah hasil dari pembinaan yang dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan ketika masih mendapatkan hukuman pidana. Tentu perubahan itu terjadi jika ada dukungan oleh berbagai pihak seperti stakeholder, keluarga, dan masyarakat. Oleh karena itu, diharapkan masuknya mantan narapidana ke dalam lembaga pemasyarakatan sebagai upaya agar mantan narapidana mampu berubah untuk menjadi individu yang lebih positif dalam menjalani kehidupannya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya