Merajut Simpul Persaudaraan Kebangsaan Melalui Medsos

Pegiat Forum Kolumnis Muda Jogja (FKMJ)
Merajut Simpul Persaudaraan Kebangsaan Melalui Medsos 30/07/2020 390 view Budaya konfrontasi.com

Telah kita ketahui bersama, media sosial (medsos) dewasa ini telah menjelma menjadi kekuatan luar biasa dalam hubungan antar sesama manusia di era cyber-information. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga kunjung mereda, medsos menjadi lokomotif dalam berkomunikasi yang kehadirannya adalah suatu kebutuhan. Kehadiran medsos sangatlah vital di masa pandemi ini, yang mana sebagian besar sistem komunikasi dianjurkan melalui ruang-ruang virtual.

Berbeda dengan media konvensional ataupun tercetak, medsos mempunyai potensi jauh lebih cepat dalam pembuatan dan persebaran informasinya. Bahkan hanya dalam hitungan detik saja, informasi di medsos mampu menjalar dengan cepat. Informasi yang terbit hari ini, mana kala sudah terkirim, tak harus menunggu esok untuk mengetahuinya. Semua menjadi serba instan, termasuk dalam kaitannya menjalin persaudaraan antar sesama di masa pandemi ini.

Hadirnya medsos juga membuat adanya pergeseran yang sangat signifikan mengenai kontak manusia yang satu dengan yang lain. Kita tak perlu kontak langsung untuk sekadar bercakap-cakap. Apalagi di masa pandemi ini kita dianjurkan untuk social distancing, tentu menjadikan medsos sebagai menu harian dalam sistem komunikasi kita.

Bahkan, kini telah hadir fitur video call di hampir semua jenis medsos. Pendek kata medsos mampu menembus sekat-sekat batas geografis. Tak hanya menghubungkan manusia antar lokasi dekat saja. Antar desa, kecamatan, kota/kab, provinsi, bahkan antar negara di berbagai belahan dunia asal ada jaringan signal dan akses internet yang memadai.

Dengan berbagai potensi dan keunggulan yang demikian, tentunya medsos dapat berperan dalam penguatan persaudaraan kebangsaan dalam bingkai perdamaian sekaligus merawat dan menjaganya.

Namun meskipun begitu, ibarat dua sisi mata uang koin logam, medsos juga bisa berpotensi sebaliknya, menjadi perusak tatanan persaudaraan. Tumpah ruahnya informasi hoax yang tak terkendali, bisa jadi membuat kita terprovokasi. Belum lagi, hasutan, fitnah, adu domba, dan ujaran kebencian lain akan sangat berbahaya bagi bangunan persaudaraan negeri ini. Bahkan, konten-konten medsos seperti ini mampu membuat kawan menjadi lawan.

Oleh karenanya, sebagai generasi digital natives, sudah saatnya menjadikan medsos sebagai sarana menjalin persaudaraan, bukan malah merusaknya. Caranya ialah dengan menggunakan medsos secara bijak. Konten medsos berkaitan dengan berita hoax, ujaran kebencian, dan politik adu domba harus kita hindari. Kita harus bisa memilah serta memilih informasi yang baik.

Lebih lanjut, medsos sebagai corong publik harus bisa hadir sebagai mitra di dalam pengembangan dan pelestarian persaudaraan kebangsaan. Jurgen Habermas dalam Stucturwandel der Offentlichkeit mengungkapkan bahwa ruang publik bisa menjembatani antara negara (pemerintah) dengan masyarakat sipil (rakyat). Seiring dengan masa pandemi, medsos yang merupakan ruang publik paling populer perlu adanya kontrol dan pengawasan, supaya konten informasi yang ada tetap sehat. Persaudaraan kebangsaan pun terjalin erat.

Oleh karena itu, medsos harus bersimbiosis mutualisme dengan pemerintah serta segenap rakyat Indonesia. Hal ini bertujuan agar iklim persaudaraan dalam bingkai perdamaian terjalin dan terjaga. Medsos harus bisa hadir sebagai jembatan positif untuk persaudaraan kebangsaan. Konten-konten yang ada pun harus steril dengan virus-virus penebar kebencian dan perusak persaudaraan, digantikan dengan informasi positif dan sehat.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa medsos dapat berfungsi sebagai penguat persaudaraan kebangsaan mana kala masyarakatnya bijak menggunakannya. Hal ini dapat diupayakan melalui pendidikan literasi medsos dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di dalam keluarga orang tua harus bisa menjadi kontrol bagi anak-anaknya dalam penggunaan medsos. Orang tua juga harus bisa membatasi anaknya untuk tidak kecanduan medsos.

Sementara itu, pendidikan literasi di sekolah dapat dilakukan dengan cara menggencarkan budaya literasi medsos dan sadar demokrasi. Mata pelajaran seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan Pendidikan Agama tak hanya dipelajari saja, akan tetapi diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pergaulan di dunia maya melalui medsos.

Masyarakat harus bisa menjadi kontrol dan filter informasi yang beredar. Bila ada situs atau oknum yang menebar informasi berbahaya di medsos, harus segera dilaporkan. Dengan adannya simbiosis mutualisme antara medsos dengan pemerintah serta masyarakat, harapannya persaudaraan kebangsaan akan erat terjalin, kian kukuh dan dapat terjaga.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya