Pertarungan Iman

Pegiat HAM
Pertarungan Iman 02/11/2020 712 view Agama Christ Apostolic Church

Heboh berita mengenai penggunaan agama kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana menghadapi para penghina agama?

Saya tidak berhak untuk mengecam pihak manapun namun saya lebih memilih untuk merefleksikannya ke dalam kehidupan pribadi saya. Ketika mengalami penghinaan, pengkhianatan, ditipu, direndahkan, diabaikan, diadu domba dan banyak lagi perlakuan buruk lainnya. Saya belajar untuk memposisikan setiap masalah secara jernih.

Pada dasarnya kita tidak seharusnya menghina apapun dan siapapun. Undang-undang kita sudah mengatur perlindungan hak setiap warga negara. Baik mengenai kebebasan untuk beragama maupun mengutamakan pendapat. Kita juga memiliki Pancasila sebagai pedoman perilaku hidup kita sehari-hari. Penghormatan terhadap hak orang atau pihak lain juga berarti tidak menghina atau merendahkan. Baik ras, suku maupun agama. Turunan dari undang-undang tersebut adalah peraturan yang berisi pasal-pasal untuk memberi sanksi atas penghinaan baik lisan, tertulis maupun yang berkembang saat ini adalah menggunakan media massa sosial.

Saya mengembalikan semuanya dengan berpegang pada Firman Tuhan, seperti pada Kitab Roma 12:17 yang berbunyi Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Membalas kejahatàn dengan kejahatan akan menempatkan posisi kita sebagai sama jahatnya. Bukan berarti kita berdiam diri ketika melihat sebuah kejahatan berlangsung di depan mata kita. Kebenaran harus tetap ditegakkan namun dengan berlandaskan asas keadilan (Markus 11:15; Yohanes 2:13-17). Ada hukum yang mengatur dan ada hukum Tuhan yaitu firman-Nya.

Pertarungan saya adalah pertarungan Iman. Bukan dalam arti memenangkan kepercayaan iman saya atas kepercayaan Iman pihak lain di luar diri saya. Tapi lebih pada bagaimana saya memenangkan pertarungan Iman dalam diri saya pribadi, memperjuangkan agar Iman itu tetap ada dan bertumbuh. Di tengah gemuruh kebencian, amarah dan pertarungan hidup. Memperjuangkan Iman dan mengandalkan Tuhan. Terdengar seperti klise dan basa basi terutama jika mata kita hanya tertuju pada kemenangan secara fisik. Ketenaran, uang dan kekuasaan. Mengandalkan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Sepertinya tidak masuk akal terlebih saat kita menghadapi masa-masa sulit, menghadapi cemoohan, kekerasan atau tindakan curang dari pihak lain. Mengandalkan Tuhan mengandung makna ketaatan. Taat kepada firman-Nya, mendengar suara-Nya, mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan membiarkan Tuhan menjalankan rancangan-Nya. Sementara kita menjalankan bagian kita. Bukan tugas kita mencampuri rancangan-Nya (Lukas 6:27-36; Amsal 20:22; 24:29; Matius 5:39-45; Roma 12:17; 1Tesalonika 5:15; 1Petrus 3:9).

Seperti yang tertulis dalam kitab Mazmur. Pemazmur mengawali pujiannya dengan “mengagungkan” kebahagiaan yang diperoleh orang-orang yang taat kepada Allah (Mzm. 1:1). Kita dapat memilih untuk mengikuti dengan merenungkan Firman-Nya. Kata “merenung” (meditasi) mengandung makna bahwa sungguh meluangkan waktu untuk membaca, dan merenungkan apa yang kita baca, dan kemudian memohon bimbingan Tuhan tentang bagaimana kita dapat mengatur hidup kita sesuai dengan Firman-Nya.

Langkah Pemazmur untuk mengandalkan Allah dengan mulai dengan membaca, merenungkan Firman-Nya serta menerapkan Firman itu di dalam kehidupan sehari-hari. Semakin seseorang menyukai hadirat Allah, semakin hidupnya akan bermakna. Semakin seseorang mengenal Firman dan hukum-hukum Allah secara lengkap, semakin banyak pedoman hidup yang diperoleh untuk hidupnya, dan dengan demikian semakin mudah untuk mengambil keputusan untuk berpihak kepada Allah! (Mal. 3:13-4:2a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 11:5-13).

Pertarungan Iman sekali lagi diuji saat secara pribadi menghadapi kesulitan dalam situasi ekonomi, sosial dan politik. Tuhan sudah terlebih dahulu memberi contoh seperti yang tertulis dalam kitab Ibrani 12:1-3 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Kelihatannya mudah tinggal menyerahkan pada Tuhan dan biarkan Dia yang bertindak. Tapi ternyata tidak, setidaknya buat saya. Selalu ada keinginan untuk bertindak mendahului Tuhan, lebih tepatnya lebih sering melupakan untuk bicara pada Tuhan dan mendengar suara-Nya. Percaya diri yang berlebihan, merasa bisa mengendalikan situasi dan merasa tidak membutuhkan Tuhan. Melupakan bahwa Tuhan memiliki kuasa atas hidup. Tuhan, Dia yang membela saya, bukan saya yang membela-Nya karena kuasa-Nya lebih dahsyat dari kekuatan saya.

Memenangkan pertarungan Iman dalam kegerakan Tuhan, menjalankan mandat apostolic, mendoakan jiwa-jiwa agar datang pada Tuhan. Karena memenangkan pertarungan. Iman juga berarti mengasihi dan mengampuni. Buat saya, membutuhkan proses yang cukup panjang, mengalahkan ego pribadi dan berbagi kebahagiaan bersama jiwa-jiwa lain. Terkadang Tuhan menempatkan pada posisi yang sulit dan pahit dan untuk tetap percaya bahwa rancangan-Nya adalah baik, bukan hal yang mudah.

Sebagai manusia, saya patuh pada hukum manusia untuk menegakkan keadilan dan menolak tindak pelanggaran HAM, tapi terlebih lagi saya tunduk pada hukum Tuhan untuk mengasihi Tuhan, mengasihi sesama. Termasuk adalah mengasihi musuh dengan mengampuni dan mendoakan Berkat Tuhan serta mendoakan jiwanya yang resah untuk datang pada Tuhan.

Lagu pujian yang dilantunkan oleh Sari Simorangkir ini kiranya dapat menjadi penguat Ku yakin saat Kau berfirman Ku menang saat Kau bertindak Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu Ku aman karna Kau menjaga Ku kuat karna Kau menopang Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu Bagi Tuhan tak ada yang mustahil Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin MujizatNya disediakan bagiku Ku diangkat dan dipulihkanNya.

Love God, love people with passion.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya