Childfree dan Ancaman Risiko Kesehatan

Pegawai Negeri Sipil
Childfree dan Ancaman Risiko Kesehatan 30/08/2021 209 view Opini Mingguan pixabay.com

Hidup memang penuh dengan pilihan. Sebab memilih jalan hidup dan mempertahankan kehidupan dengan memiliki keturunan adalah hak asasi manusia. Begitu pula bagi wanita yang memilih untuk tidak ingin memiliki anak dalam pernikahan (childfree). Hal tersebut adalah pilihannya, meskipun bertentangan dengan norma sosial dan agama.

Topik childfree sedang menjadi tren media sosial. Padahal istilah ini sudah ada sejak Veevers JE (1979) pertama kali menggunakan kata childfree atau childless dalam publikasinya di jurnal Marriage & Family Review. Kata tersebut digunakan untuk menyebut orang tua yang belum memiliki anak (mengalami kemandulan) atau orang tua yang enggan memiliki anak.

Kini istilah childfree lebih erat dengan pilihan seorang wanita yang enggan untuk memiliki seorang anak setelah menikah. Hal ini muncul setelah beberapa pesohor wanita menyatakan bahwa mereka memilih untuk childfree. Memilih untuk tidak menjalankan fungsi reproduksi secara sepenuhnya.

Pada dasarnya fungsi reproduksi berupa menstruasi (haid), mengandung (hamil), melahirkan, dan menyusui hanya dimiliki oleh wanita. Pria tidak mungkin memiliki fungsi-fungsi tersebut. Hal itu pula yang membedakan kodrat wanita dengan pria. Lalu, bila ada wanita yang memilih childfree, maka sudah barang tentu dianggap berlawanan dengan kodratnya sebagai orang wanita.

Apa pun pilihan hidup yang kita ambil memiliki konsekuensi. Terkadang konsekuensinya akan lebih buruk bila pilihan yang diambil tidak sejalan dengan kodrat. Begitu pula pada wanita yang memilih childfree. Pesohor-pesohor wanita yang memilih childfree memang merasa bahwa keputusan tersebut adalah pilihan hidup yang lebih baik dengan berbagai alasan. Namun, benarkah demikian? Apakah pernikahan tanpa memiliki anak adalah kehidupan yang lebih baik?

Anak-anak dapat menghadirkan tawa dan cinta, tetapi terkadang juga menyebabkan kelelahan, kekhawatiran, frustrasi, dan sakit hati bagi orang tua yang merawat mereka. Sementara beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang memilih childfree merasa memiliki pernikahan yang lebih bahagia. Mereka juga merasa kepuasan pernikahan menurun ketika seorang bayi lahir. Pasangan childfree juga cenderung mendapatkan skor yang lebih baik pada pengukuran terkait dengan kesehatan mental.

Penelitian BieĊ„ A dan rekan (2017) yang terbit pada jurnal Annals of Agricultural and Environmental Medicine mendukung peningkatan kesehatan mental pada wanita yang tidak memiliki anak di Polandia. Penelitian mereka menyimpulkan bahwa wanita yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki kualitas hidup dan persepsi kesehatan pribadi yang lebih baik.

Meskipun demikian, tidak semua penelitian menunjukkan dampak baik childfree terhadap kesehatan fisik dan mental. Penelitian Melissa L Graham dan rekan (2011) pada wanita di Australia menunjukkan hasil yang berlawanan. Wanita yang memilih childfree memiliki risiko yang lebih besar mengalami kesehatan fisik dan mental yang buruk dibandingkan dengan wanita yang memiliki anak. Peneliti juga beranggapan bahwa kesehatan wanita yang tidak memiliki anak pada usia suburnya mungkin berdampak terhadap kesehatan jangka panjang.

Beberapa penelitian di Republik Rakyat Tiongkok, Amerika Serikat, dan Kanada menunjukkan bahwa wanita tanpa anak akan mengalami kesepian, depresi, dan tekanan psikologi yang lebih besar pada usia lanjut. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dampak buruk childfree terhadap kesehatan mental cenderung muncul pada usia tua.

Nyatanya, setiap kondisi dalam kehidupan selalu mempunyai dua sisi. Terdapat sisi buruk dan sisi baik. Termasuk bukti penelitian yang saling bertentangan tentang kesehatan fisik dan mental pada wanita yang memilih childfree. Begitu pula dengan risiko terkait kesehatan di masa tua. Berbagai penelitian mengungkapkan penyakit-penyakit tertentu terbukti lebih mungkin dialami oleh wanita yang tidak memiliki anak hingga akhir hayatnya. Terutama risiko mengalami penyakit kanker pada wanita.

Penelitian-penelitian epidemiologi telah menempatkan faktor fungsi reproduksi wanita sebagai faktor yang paling erat kaitannya dengan kemunculan beberapa kanker yang paling sering dialami oleh wanita yaitu kanker payudara, endometrium (lapisan dalam rahim), dan kanker ovarium (indung telur). Wanita yang tidak pernah melahirkan dan menyusui anak cenderung lebih mungkin mengalami kanker payudara, endometrium, dan kanker ovarium dibandingkan dengan wanita yang memiliki anak.

Wanita yang memilih childfree tentu tidak akan mengalami fungsi kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Padahal ketika seorang wanita mengalami fungsi-fungsi tersebut secara alami proses hormonal pada tubuh akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat mengurangi risiko kanker payudara. Kehamilan juga akan menyebabkan penurunan jumlah total siklus pelepasan sel telur dari indung telur (ovulasi) yang erat kaitannya dengan penurunan risiko kanker ovarium.

Demikian pula dengan lapisan endometrium dalam rahim. Endometrium sangat sensitif akan lingkungan hormonal. Ketika seorang wanita mengalami kehamilan, lapisan endometrium akan terpapar dengan hormon estrogen dan progesteron. Paparan hormonal tersebut telah terbukti mengurangi risiko kanker endometrium.

Childfree jelas melanggar norma sosial dan agama. Sebab memiliki anak adalah kebahagiaan dan fitrah manusia. Penelitian-penelitian juga menunjukkan hasil yang saling bertolak belakang terkait dengan manfaat childfree bagi kesehatan fisik dan kesehatan mental. Begitu pula dengan dampak kesehatan jangka panjang. Wanita yang tidak memiliki anak lebih mungkin mengalami kanker payudara, ovarium, dan endometrium.

Selain itu, wanita usia tua tanpa anak juga cenderung akan mengalami kematian yang lebih cepat. Data dari Japan Collaborative Cohort Study menemukan bahwa wanita tanpa anak berusia 40 tahun atau lebih memiliki tingkat kematian yang tinggi akibat semua penyebab kematian dibandingkan dengan wanita dengan anak. Peningkatan risiko kematian juga terjadi akibat kanker rahim, ovarium, dan kanker serviks.

Jadi, pilihan untuk tidak memiliki anak akan cenderung memberikan risiko kesehatan yang buruk pada wanita di masa tua. Berbagai alasan boleh menjadi dasar pilihan untuk childfree. Namun, pilihan untuk tidak berusaha memiliki keturunan ketika sudah menikah bukanlah hal yang bijak. Pelanggaran norma sosial dan agama hingga ancaman risiko kesehatan serta kematian jelas menjadi konsekuensi dari pilihan tersebut. Semoga kita dapat mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan sebelum menentukan keputusan. Termasuk keputusan untuk childfree. Jangan sekedar ikut-ikutan tren influencer, tetapi kita tidak tahu dampak baik dan buruknya di masa depan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya