Kejahatan Televisi pada Anak

Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim
Kejahatan Televisi pada Anak 06/06/2021 223 view Opini Mingguan https://www.liputan6.com/

Akhirnya sinema elektronik (sinetron) Suara Hati Istri: Zahra dihentikan sementara penayangannya oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Penghentian ini tidak lepas dari adanya protes warganet. Sinetron yang tayang saban malam pukul 18.00 WIB di Indosiar itu dinilai “mempromosikan” pernikahan anak, poligami, dan pedofilia.

Sebenarnya tidak sedikit sinetron yang tayang di dunia pertelevisian kita diprotes masyarakat. Kendati demikian, sinetron tetap saja diproduksi dan menjadi senjata sejumlah stasiun televisi untuk menaikkan rating mereka. Semakin tinggi rating share sebuah sinetron, akan makin banyak iklannya. Dengan begitu, makin banyak pula pendapatannya.

Logika bisnis itulah yang kerap diutamakan oleh pihak rumah produksi sinetron. Ketimbang menyuguhkan tayangan yang memberikan nalar edukatif. Maka tak ayal bila banyak acara televisi yang menampilkan karakter dan kepribadian yang kurang sesuai dengan perkembangan kepribadian anak.

Tidak sedikit tayangan televisi yang “mengajarkan” karakter jahat bagi anak, seperti bullying, tawuran, balapan liar, geng-gengan, pacaran, kekerasan seksual, dan sebagainya. Hal tersebut bisa melahirkan berbagai penyimpangan perilaku anak. Anak-anak yang sering menonton televisi akan menganggap apa yang terjadi di dunia televisi itu dunia senyatanya (Hafidzoh, 2014). Sehingga adanya sinetron yang menampilkan adegan tak pantas akan ditiru juga oleh anak.

Tayangan yang tak sesuai moral masyarakat ikut menjadi faktor penyumbang kenakalan anak. Proses menonton televisi kerap diringi proses imitasi anak terhadap adegan dalam film. Lalu anak coba-mencoba dalam pergaulan bebas. Akibatnya, tidak sedikit anak yang berani berpacaran bahkan berbuat tak senonoh. Bahkan dengan kecanggihan teknologi, mereka dengan bangga mengunggah aksi yang kurang sesuai dengan norma di masyarakat itu ke media sosial.

Dari sinetron di layar televisi pula anak-anak kita dapat “tuntunan” gaya hidup yang berlebihan. Lihat saja sekarang ini banyak sekali anak yang mengikuti gaya hidup mewah artis pujaannya. Seperti pakaian yang wah, handphone yang canggih, makanan yang serba enak, serta asesoris kehidupan yang penuh warna-warni.

Bila hal tersebut terus terjadi, kita prihatin dengan perkembangan kondisi anak kita yang cenderung menyimpang dari norma masyarakat. Apalagi temuan American Psychological Association pada 1995, bahwa hampir semua perilaku buruk anak bersumber dari tayangan yang tidak bermutu.

Jadi, perlu adanya perlindungan terhadap anak atas “kejahatan” televisi. Pertama, memilihkan acara televisi yang bagus ditonton oleh anak. Orang tua harus bisa memilah milih tayangan televisi yang bisa membangun pendidikan bagi anak-anaknya. Yakni tayangan yang mengisahkan semangat belajar tak kenal lelah, yang menggerakkan perubahan kepribadian, yang menggugah etos persaudaraan, dan yang memberikan inspirasi kreatif dalam menciptakan budaya serta karakter dalam diri imajinasi seorang anak.

Pemilihan tayangan yang sehat dan bermutu merupakan keniscayaan di tengah dahsyatnya kejar rating yang dilakukan pihak televisi. Aghata Lily (2014), Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bidang isi, menjelaskan tayangan yang baik adalah yang edukatif. Hal ini bisa dilihat dari bentuk durasinya tidak terlalu panjang, nyaman di telinga dan mata, memperhatikan tone atau tempo musik dari tayangan, serta mengusung nilai positif.

Orangtua harus mampu memberikan penjelasan yang menginterpretasikan kembali adegan yang ada di televisi. Mereka harus lah mengajak dialog dan berdiskusi anaknya untuk melatih sikap kritis dalam menonton. Serta mematikan televisi kalau isi siarannya banyak mengandung unsur kekerasan, seksualitas, dan tidak pantas. Di samping itu, orangtua jangan pelit untuk membelikan film bermutu, sehingga anak tidak terjebak dalam tayangan televisi yang tidak menyehatkan.

Kedua, pihak sekolah harus mendorong anak membuat tayangan “tandingan”. Anak diajak menjadi produser, bukan konsumen yang pasif. Dorongan ini sangat penting sehingga anak justru sudah paham sejak dini untuk mengganti tayangan televisi yang tidak menyehatkan dengan tayangan yang kreatif dan inovatif.

Ketiga, dunia pertelevisian harus menyadari kepentingan pendidikan anak jauh lebih penting daripada mengejar setoran industri. Ini bukan berarti mematikan jalannya industri media, tetapi dunia pertelevisian seharusnya meningkatkan kualitas tayangannya sehingga layak ditonton dan dinikmati. Khususnya memberikan nilai edukatif yang substantif terhadap dunia anak.

Televisi memiliki suatu potensi strategis dalam membentuk karakter bangsa. Daya jangkau yang sangat luas dengan penetrasi tertinggi (95%). Bila dibandingkan media lain membuatnya sangat efektif untuk menyebarkan informasi atau ide. Seyogianya tontonan yang ditayangkan harus mampu memberi nilai tambah bagi anak. Televisi bisa berfungsi sebagai ”jendela” anak untuk mengetahui lingkungan di luar dirinya dan mendasarkan informasi tersebut untuk meningkatkan pengetahuannya.

Daya jangkau televisi yang dapat ditangkap di berbagai kota sampai pelosok. Jika siarannya tanpa tanggung jawab sosial, akan menjadi sesuatu yang kontraproduktif. Tanggung jawab sosial media televisi setidaknya harus muncul dalam konteks memberi kemanfaatan bagi masyarakat berupa siaran yang mendidik, social control, dan agen pengubah. Utamanya dengan menyiarkan lebih banyak nilai-nilai positif yang menginspirasi anak-anak serta mengembalikan ruang publik yang nyaman untuk semua.

Keempat, pemerintah dalam hal ini KPI harus tegas pada kebijakan dan regulasi yang membatasi tayangan yang merugikan anak di Indonesia. Bukan saja tayangan film domestik, tetapi juga film asing yang kerap kali menampilkan adegan yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia juga harus dikenai sanksi. Televisi yang sudah membuat banyak pelanggaran, hak siarnya bisa diluruskan, kalau perlu ditutup sekalian. Pemerintah jangan sampai main mata karena masa depan bangsa adalah yang utama.

Akhir kata, dunia pertelevisian di Indonesia harus mencerdasan anak bangsa. Industri media hadir sebagai penyangga membangun peradaban anak. Jangan sampai media televisi membunuh masa depan anak. Sebab masa depan bangsa ini ada di tangan anak-anak kita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya