Menolak Pluralitas

mahasiswa
Menolak Pluralitas 27/11/2021 168 view Budaya kemdikbud.go.id

“Ein Volk, ein Reich, ein Führer!,” menjadi slogan yang digelorakan oleh NAZI dalam menghimpun kekuatan menciptakan negara dengan ras unggul. “satu masyarakat, satu bangsa, satu pemimpin,” sekilas menjadi suatu tujuan yang diidamkan oleh semua orang.

Hal tersirat dibalik slogan tersebut adalah menolak perbedaan yang ada di sekitar dengan menciptakan hanya ada satu ras saja yang unggul, dan ras lainnnya harus dibinasakan.

Kekejaman NAZI menjadi bentuk konkret penolakan terhadap pluralitas. Pembantaian terhadap berjuta-juta penduduk Yahudi tercatat sebagai kekejaman yang sangat mengerikan.

Di era zaman yang sudah sangat maju ini, memang tidak ada lagi aliran yang secara nyata menolak pluralitas dengan pemusnahan massal. Bukan berarti pluralitas sudah diterima secara humanis di mana saja. Penolakan terhadap pluralitas saat ini tampak dengan penggunaan media sosial.

Penduduk Indonesia adalah pengguna media sosial terlama ke dua di dunia. Sekilas hal tersebut tampak biasa saja. Alasannya mungkin karena penduduk yang cukup banyak atau kapasitas penduduk yang selalu mencari informasi melalui media sosial. Namun, hal lain yang perlu diperhatikan adalah implikasi dari penggunaan media sosial yang terlalu lama. Implikasi konkret yang terjadi adalah manusia Indonesia akan menjadi manusia yang individualis serta menolak pluralitas.

Hal tersebut tampak dari berbagai penyebaran kabar hoax terhadap orang tertentu, disebabkan oleh rasa tidak suka. Selain itu yang marak terjadi adalah penyebaran privasi atau data diri orang lain agar menjadi viral.

Bagi sebagian orang, ruang digital tidak menjadi tempat yang nyaman. Pluralitas tidak mendapat tempat lagi. Bila menilik jauh ke belakang, pluralitas adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan negara Indonesia, baik pemerintahan maupun dasar negara serta falsafah bangsa. Bangsa Indonesia dijiwai oleh pluralitas yang sangat kompleks. Berbagai pemikiran dari berbagai suku, ras, agama, budaya turut memberikan sumbangsih dalam falsafah bangsa, salah satunya adalah Persatuan Indonesia yang tertuang dalam sila ke 3 Pancasila.

Kebebasan yang dimiliki oleh setiap orang untuk berinovasi mendistraksi perjuangan para pendahulu. “Bhinneka Tunggal Ika” tidak terlalu bergema dalam hati orang muda. Manusia Indonesia sedang berjalan menjadi manusia yang semakin individual. Karakter gotong royong sudah menjadi hal yang asing. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh beberapa hal, tidak serta merta hadir dan mendistraksi.

Pengaruh menguatnya individualitas dan menolak pluralitas adalah gaya hidup hedonis dan konsumerisme. Gaya hidup tersebut adalah gaya hidup yang dimiliki oleh mereka di dunia barat. Namun, perkembangan teknologi yang tak lagi mengenal ruang batas, menjalankan pola hidup demikian pada penduduk di Asia terutama Indonesia.

Gaya hidup hedonis adalah gaya hidup mencari kesenangan sebanyak mungkin. Gaya hidup ini hanya dapat dinikmati oleh para kaum borjuis. Kaum proletar hanya menjadi penonton atau yang menanggung akibat.

Saat ini, kesenangan menjadi candu baru yang diminati oleh kaum muda, penerus kepemimpinan suatu bangsa. Pluralitas bukan suatu hal yang harus dijauhi atau ditiadakan. Pluralitas memberi kekayaan dalam suatu komunitas atau suatu bangsa. Bagaimana mungkin dapat menemukan suatu solusi yang baik dan benar dalam suatu komunitas tanpa ada suatu perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat tersebut adalah contoh konkret pluralitas.

Perbedaan pemikiran atau pendapat menjadi jalan atau cara menambah pengetahuan, memecahkan suatu permasalahan, membangun relasi, serta menciptakan perdamaian di tengah lingkungan atau komunitas. Mengapa banyak orang yang bertindak atau berlaku seolah tidak nyaman tinggal dalam pluralias yang saling memperkaya?

Menurut penulis, alasan banyak orang menolak pluralitas dalam suatu tempat atau komunitas disebabkan oleh paham yang dipercaya. Ideologi dapat menjadi hal yang sangat membangun sekaligus merugikan. Prinsip ideologi yang dipercaya dan dipahami seseorang menjadi faktor utama seseorang dapat bertindak menolak pluralitas. Contoh menolak pluralitas dalam kehidupan sehari-hari adalah, saat suatu tempat penyewaan rumah hanya mau menyewakan rumahnya bagi keyakinan tertentu saja. Hal tersebut tentu menodai perjuangan para pendahulu menegakkan slogan “Bhinneka Tunggal Ika” dalam cengkram burung garuda sebagai falsafah bangsa.

Perkembangan yang semakin maju seharusnya tidak menuntun manusia pada pemahaman di masa lalu. Pemahaman yang diagungkan oleh kaum sosialis NAZI untuk menciptakan negara dengan ras unggul dalam segala hal daripada ras di negara lain di dunia. Pluralitas yang dimiliki suatu bangsa menjadi modal saling memperkaya. Baik itu memperkaya pengetahuan dengan berbagai latar belakang budaya yang dalam negara itu, maupun memperkaya bangsa dengan pluralitas yang bekembang biak dengan baik.

Selamat menjalani hidup dengan menerima keberagaman dari setiap orang yang hidup di sekitar kita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya