Catcalling : Pelecahan Verbal yang Diwajarkan

Mahasiswi Jurnalistik Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta
Catcalling : Pelecahan Verbal yang Diwajarkan 26/05/2022 84 view Budaya Pinterest

Istilah catcalling tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Catcalling merupakan tidakan objektifikasi terhadap perempuan yang dilakukan perorangan ataupun suatu kelompok dengan membuat siulan, sapaan dan komentar yang bersifat menggoda. Secara tidak langsung tindakan tersebut justru menurunkan nilai diri seseorang terutama bagi perempuan. Maka dari itu, catcalling sering dikategorikan sebagai tindakan pelecehan seksual secara verbal.

Secara naluri, laki-laki memang mudah tertarik perempuan. Bahkan, banyak yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan itu. Dari yang sekadar bersiul, melihat sampai memutar kepalanya tanpa sadar, hingga mengeluarkan kalimat-kalimat yang terkesan ‘pujian’. Sepertinya memang sangat biasa dan tidak menyakiti perasaan, namun ketika seorang perempuan mendengarnya sendiri dari mulut laki-laki di tepi jalan atau gang-gang sempit, dia akan langsung merasa risih dan tidak aman.

Jika selama ini hanya menganggap pemerkosaan adalah satu-satunya bentuk pelecehan seksual terhadap perempuan, maka pendapat tersebut tersebut dapat singkirkan sejenak. Nyatanya, hal sepele seperti catcall juga sama mengerikannya.

Pada umumnya catcalling tidak hanya terjadi pada kaum perempuan saja, hal ini juga dapat dirasakan oleh laki – laki. Pernyataan ini didukung oleh hasil Survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik yang menyebutkan data bahwa sebanyak 64 persen dari 38.766 perempuan mengalami pelecehan di ruang publik. Sementara untuk laki-laki memiliki persentase sebanyak 11 persen dari 23.403 laki-laki. Mayoritas dari korban mengaku bahwa mereka pernah mengalami pelecehan secara verbal, seperti menerima komentar atas tubuh dan main mata.

Bahkan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, catcall bisa menjadi masalah global. Sebuah riset yang rilis pada 2015, menunjukkan bahwa 84 persen perempuan pernah menjadi korban catcall, dalam rentan usia 11-17 tahun. Riset itu dilakukan lembaga anti-pelecehan seksual, Hollaback yang dibantu Cornell University, dengan melibatkan 16.600 responden di 22 negara. Tentu 84 persen bukanlah angka yang sedikit. Lalu, apa yang terlintas dibenak Anda mengapa para pelaku bisa melakukan catcall?

Beberapa orang akan menjawab, “Perempuan itu menggunakan pakaian terbuka yang menggoda”. Jika begitu jawabannya, bagaimana dengan kasus perempuan berpakaian syar’i yang mendapatkan perlakuan catcall “Assalamu’aikum, Cantik. Sendiri aja?”? Tentu itu bukan alasan yang mutlak. Mayoritas pelaku catcall tidak menyadari bahwa hal yang mereka lakukan merupakan pelecehan. Di antara mereka menganggap perlakuan itu merupakan bentuk sapaan, ketertarikan, bahkan mereka pikir itu merupakan pujian. Yang jelas, apapun alasannya catcall merupakan tindakan yang sangat berbahaya.

Perempuan yang sudah mengalami catcall akan merasa tidak aman dan kehilangan kepercayaan diri. Bahkan, perempuan itu bisa mendapatkan trauma dan tidak berani lagi melintasi jalan yang sama di mana dia pernah mendapatkan perlakuan catcall. Selain itu perempuan membutuhkan pujian, bukan godaan. Di sini, jelas catcall merupakan perilaku yang melanggar hak dan privasi perempuan. Sayangnya, banyak di antara mereka yang susah membedakan antara godaan dan pujian. Karena pada dasarnya tindakan catcall tidak mengenal waktu dan tempat. Bahkan di lingkungan pendidikan sekali pun, catcall yang dialami oleh perempuan sangat mungkin dilakukan oleh laki-laki asing.

Terakhir, pada taraf yang paling berbahaya, pelaku catcall menganggap perempuan sebagai sebuah objek visual yang bisa dinilai berdasarkan penampilannya saja. Lebih mengerikan lagi, tubuh perempuan bisa dianggap sebagai objek seksual yang bisa dinikmati kapan dan di mana saja.

Sayangnya, untuk saat ini pada beberapa kasus, tindakan menegur pelaku dan melaporkan kepada pihak berwenang tidak mendapatkan respons sesuai yang diharapkan. Karena kenyataannya, perilaku catcall dianggap sepele oleh beberapa pihak yang berkepentingan. Apabila laporan tersebut diterima untuk kemudian ditindaklanjuti, birokrasinya akan memproses kasus yang terkesan lamban dan tidak tegas.

Pada akhirnya, catcall yang merupakan suatu masalah dirasa menjadi bukan masalah dan dinormalisasikan. Dan hal itu semakin serius tatkala terjadi di lingkungan pendidikan.

Catcalling yang terdengar sederhana dan bentuk kecil dari berbagai macam jenis pelecehan seksual yang ada, tetapi ternyata tindakan tersebut sangat berimbas buruk bagi korban hingga memunculkan perasaan risih dan tidak nyaman bagi korban yang mengalaminya.

Bukankah itu sangat berbahaya? Jadi, masihkah Anda menutup mata? Apakah Anda cukup peduli dengan menegur baik-baik mereka yang melakukan? Atau, Anda punya cara yang lebih keren untuk melawannya?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya