Menguak Kebingungan Publik Atas Kebijakan “New Normal” Ala Pemerintah

Pembelajar Kajian Ilmu Politik Pemerintahan
Menguak Kebingungan Publik Atas Kebijakan “New Normal” Ala Pemerintah 31/05/2020 529 view Opini Mingguan pixabay.com

Kebijakan “New Normal” ala pemerintah tinggal menunggu waktu hitungan hari. Jika melihat berbagai pemberitaan di berbagai media kebijakan “New Normal” sudah siap dilaksanakan mengingat segala kebutuhannya sudah direncanakan oleh pemerintah. Melansir dari detik.com (26/05/2020) pemerintah akan memberlakukan kebijakan “New Normal” yang menyasar setidaknya 4 Provinsi dan 25 Kabupaten/Kota di Indonesia.

Rencananya kebijakan “New Normal” akan diberlakukan pada 1 Juni Mendatang. Berbagai langkah dan strategi telah disusun, di mana dalam memberlakukan kebijakan “New Normal” pemerintah telah memerintahkan aparat Kepolisian dan TNI untuk membantu mengawal berlakunya kebijakan “New Normal” di wilayah yang telah disasar.

Tentu kebijakan tersebut mengundang rasa ingin tahu kita, sebenarnya apa itu kebijakan New Normal? Ya banyak publik yang bertanya-tanya terkait kebijakan tersebut bahkan memunculkan spekulasi dan tafsiran yang luas di tengah publik. Harus diakui bahwa tatanan kehidupan normal baru tersebut mendapat reaksi berbagai pihak. Kubu yang pro berpendapat jika kebijakan “New Normal” ala pemerintah dilakukan sebagai langkah untuk stimulus pemulihan ekonomi. Di sisi lain, kubu yang kontra berargumen jika kebijakan “New Normal” ala pemerintah belum saatnya diberlakukan dan dinilai terlalu terburu-buru.

Terlepas dari perdebatan itu semua saya ingin memberikan argumen dalam posisi dan sudut pandang yang berbeda. Harus diakui bahwa pandemi NCoV-19 sampai saat ini memang belum mendapatkan solusi yang akurat dalam menanganinya. Vaksin pengobatan NCoV-19 juga masih belum menemui titik terang.

Namun, di sisi lain kita juga harus memikirkan bahwa keadaan ekonomi nasional dapat dikatakan tidak sedang baik-baik saja (collaps). NCoV-19 membuat lini-lini kehidupan kita dibuatnya menjadi lumpuh tidak begerak. Banyaknya pekerja-pekerja yang terkena PHK membuat keadaan ekonomi kita semakin terpukul berat.

Bahkan, saya membaca di berbagai media banyak masyarakat kita yang bekerja di sektor informal kehilangan pekerjaannya sehingga kesusahan memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Memang benar pemerintah telah menggelontorkan berbagai bantuan sosial selama pandemi NCoV-19 berlangsung agar masyarakat tetap diam di rumah saja. Berbagai bentuk bantuan sosial telah dikucurkan sampai pembebasan pembayaran listrik selama tiga bulan untuk mendukung kebijakan yang diambil pemerintah. Namun, yang harus dipikirkan lebih jauh adalah akan sampai kapankah keadaan tersebut harus kita patuhi?

Sungguh persoalan yang dilematis di mana kita seolah-olah memang dihadapkan oleh buah simalakama. Oleh karenanya sudah saatnya kita membuat perubahan baru daripada menunggu kedaaan ini berubah. Keadaan ini tidak akan berubah jika tidak ada usaha untuk merubahnya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “Jangan Habiskan Waktu Untuk Menunggu”. Nampaknya kalimat tersebut relevan dengan keadaan yang tengah kita alami sekarang. Sampai saat ini belum ada kejelasan entah sampai kapan pandemi NCoV-19 akan berakhir.

Di saat yang sama tentu kita juga tidak mau menunggu waktu terlalu lama agar pandemi NCoV-19 tensinya mereda. Memang sebuah pilihan yang sangat membingungkan bagi kita semua. Walaupun demikian tentu harus ada sebuah usaha yang harus dilakukan. No Pain No Gain, itulah nampaknya semangat yang merasuki jiwa pemerintah saat ini.

Bagi siapapun itu menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Tidak terkecuali dengan pemerintah, di mana pemerintah akan segera menerapkan kebijakan “New Normal” di tengah merebaknya pandemi NCoV-19. Dan bahkan sampai saat ini belum ada pertanda yang menunjukkan bahwa data orang yang terkonfirmasi positif menurun. Memang itu keadaannya, di mana pemerintah telah menerapkan berbagai skenario terkait kebijakan “New Normal”.

Seperti yang dikutip dari kompas.com (26/05/2020) pemerintah akan memberlakukan lima fase dalam kebijakan “New Normal”. Pada intinya dalam kebijakan “New Normal” tersebut pemerintah akan mengembalikan keadaan seperti biasa secara bertahap dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Mulai gerai-gerai, sekolah, pelayanan publik, mall, pasar, salon, dan masih banyak lagi akan beroperasi seperti sedia kala.

Tatanan kehidupan normal baru kelihatanya sangat rumit diterapkan bukan? Banyak mayoritas orang yang belum terbiasa melakukan aktivitas menggunakan penerapan protokol kesehatan, sehingga saya khawatir banyak orang yang mengabaikan kebijakan tersebut.

Pada tatanan kehidupan “New Normal” menuntut kita untuk selalu menerapkan standar protokol kesehatan mulai dari mencuci tangan pakai sabun, jaga jarak fisik dan sosial, memakai masker, dan menghindari kerumunan massa. Lantas bagaimana jadinya jika aturan protokol kesehatan tersebut diberlakukan dalam kebijakan “New Normal”? Selanjutnya dilihat dari perspektif budaya yang berkembang di masyarakat akankah kebijakan “New Normal” ala pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik?

Keputusan yang sangat dilematis memang. Jujur sebagai masyarakat awam dan mungkin dirasakan oleh seluruh masyarakat pada umumnya jika hadirnya kebijakan “New Normal” membuat kita merasa dikekang. Semua seolah-olah dibatasi, hak kita diambil, sehingga kita memiliki keterbatasan ruang untuk berekspresi dan berinteraksi dengan yang lainnya.

Masyarakat yang biasanya berkumpul, bergotong royong, bertukar pikiran seolah-olah nilai tersebut hilang akibat kebijakan “New Normal”. Memang benar semua itu bisa dilakukan di layar kaca secara virtual. Namun pertanyaanya kemudian ialah apakah semua masyarakat memiliki akses terhadap itu semua? Bagaimana dengan masyarakat yang buta teknologi? Lalu apakah kegiatan kita yang selama kita lakoni ini jika diganti menggunakan media virtual rasanya akan tetap sama?

Jujur saja jika kebijakan “New Normal” telah menuntut kita untuk bekerja keras. Ya, bekerja keras untuk menyesuaikan dengan tatanan kehidupan baru. Memang itu tidaklah mudah. Apalagi budaya kita yang sejak awal telah mengajarkan kita tentang nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Seolah-olah hal yang kita pupuk dan kita bangun selama ini musnah dengan satu kalimat yakni kebijakan “New Normal”.

Kebijakan “New Normal” ala pemerintah telah membuat publik bingung. Banyak pihak yang masih belum mengerti maksud dan tujuannya atas kebijakan “New Normal” tersebut. Seperti dilansir dari laman muhammadiyah.or.id (30/05/2020) Muhammadiyah yang notabene organisasi Islam bersifat kritis saja mempertanyakan kepada pemerintah seperti apa kebijakan “New Normal” dan bagaimana mekanisme dan persiapan akan resikonya.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah tersebut menjadi ilustrasi betapa masih banyaknya masyarakat di luar sana yang masih belum sama sekali mengerti tentang kebijakan “New Normal” ala pemerintah. Publik masih perlu penjelasan itu semua sebelum kebijakan “New Normal” benar-benar diberlakukan.

Pemerintah perlu mempertimbangkan itu semua agar kebijakan “New Normal” tidak berujung amburadul. Wajar saja jika terjadi kebingungan publik akan kebijakan tersebut. Saya kurang mengerti mengapa pemerintah tidak memikirkan lebih jauh bahwa seyogyanya kebijakan “New Normal” sebelum diberlakukan harus dilakukan sosialisasi kepada publik sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.

Tidak dilakukanya sosialisasi tersebut perlu dipertanyakan apakah kebijakan “New Normal” ala pemerintah itu diputuskan secara terburu buru, atau mungkin pemerintah sudah tidak peduli lagi terhadap publik? Oleh karena itu nampaknya saya berpendapat jika dalam penerapan kebijakan “New Normal” dari sisi masyarakat belum benar-benar siap. Pemerintah harus belajar dari masa lalu dalam mengambil kebijakan, jangan sampai kebijakan ini menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak lagi. Rakyat sudah cukup menderita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya