Mengenang Wiji Thukul dan Semangat Pergerakan Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Merdeka Malang
Mengenang Wiji Thukul dan Semangat Pergerakan Mahasiswa 28/08/2020 502 view Lainnya Merdeka.com

Pada tanggal 23 Agustus 1963 di kota Surakarta lahir sosok laki-laki berjiwa besar dengan semangat perjuangan yang gigih. Dia adalah Wiji Thukul. Seorang sastrawan ternama dan aktivis gigih yang tidak pernah takut dengan kekejam rezim masanya. Hari ini, seandainya dia masih ada, ini adalah saat yang berbahagia bagi dirinya karena merayakan ulang tahunnya yang ke-57 tahun.

Wiji Thukul adalah sosok yang pemberani. Kita dapat melihatnya melalui karya-karya yang ditulis beliau. Kekejaman rezim pada zaman orde baru yang melarang banyak pihak, termasuk para sastrawan untuk mengkritik rezim pada waktu itu tidak membuatnya bungkam.
Salah satu mahakarya Wiji Thukul berjudul Peringatan dapat menunjukan kepada kita betapa ia cinta akan kebenaran dan keadilan sehingga dengan suara keras di bait terahir puisi tersebut bagaimana ia berjuang.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : lawan!
 ( Wiji Thukul, 1986).

Itu adalah sepenggal bait bagaimana bentuk perlawanan seorang Wiji Thukul melalui karya sastra (puisi) dan kata-katanya. Banyak realitas penindasan terhadap kehidupan di sekeliling Wiji Thukul yang membuatnya geram dan bergerak untuk menyelesaikan dan membela kaum-kaum tertindas tersebut.

Kelebihan puisi yang ditulis oleh sosok Wiji Thukul bagi saya adalah bagaimana ia mampu membangkitkan emosi pembaca dengan menggambarkan realitas yang seadanya, menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapa saja yang membaca karya mudah untuk memahami, serta puisinya begitu populer di kalangan masyarakat, termasuk kaum buruh.

Dia adalah aktivis sejati. Ia terlibat secara aktif bersama dengan kaum tertindas pada zaman itu untuk membongkar mafia dan kekejaman rezim pada masanya (rezim orde baru). Keberpihakan Wiji Thukul sangat jelas kepada orang-orang tertindas.

Wiji Thukul sejak 1998 sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Banyak kalangan menyebutkan bahwa aktivis ini diduga diculik oleh militer (Merdeka.com, 25/6/2020). Dalam siaran Pers Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban tindakan Kekerasan (Kontras) No: 7/ SP-KONTRAS/II/ 2000 tentang Hilangnya Wiji Thukul, dituliskan “hilangnya Wiji Thukul pada sekitar Maret 1998 kami duga kuat berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Saat itu bertepatan dengan peningkatan operasi represif yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan Orde Baru. Operasi pembersihan tersebut hampir merata dilakukan diseluruh wilayah Indonesia. Kita mencatat dalam berbagai operasi, rezim Orde Baru juga melakukan penculikan terhadap para aktivis (22 orang) yang hingga saat ini 13 orang belum kembali.”

Melalui siaran pers di atas kita dapat mengetahui bahwa hilangnya sosok Wiji Thukul tidak terlepas dari kegiatan politik waktu itu. Saya juga menduga kuat motif utama hilangnya sosok Wiji Thukul tidak terlepas dari kritikan-kritikannya yang keras terhadap rezim yang berkuasa pada waktu itu, yang tidak bekerja untuk rakyat, tetapi sebaliknya mendindas rakyat (seperti kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat dibatasi).

Saat ini, entah dimanapun Wiji Thukul berada, baik masih dalam persembunyian rezim Orde Baru ataupun telah berpulang pada Yang Kuasa, karya-karya terus dipekik terlebih untuk melawan segala bentuk ketidakadilan di Negeri ini.

Wiji Thukul dalam Semangat Pergerakan Mahasiswa.

Bagi sebagian besar kalangan mahasiswa, nama Wiji Thukul dan karya-karyanya tidak asing didengar. Pekikan “Maka hanya satu kata : Lawan“ menjadi jargon mahasiswa dalam melakukan pergerakan-pergerakan, terlebih khusus saat aksi-aksi demonstrasi karena ada penyimpangan atau ketidakadilan yang dibuat oleh penguasa. Semangat pergerakan Wiji Thukul mesti menjadi teladan bagi kalangan aktivis Mahasiswa.

Pekikan “Maka hanya satu kata : Lawan“ bukan sekadar kalimat untuk menghiasi jalannya orasi saat demostrasi atau aksi-aksi lainya, namun itu lebih dipandang sebagai suatu bentuk perlawanan atau senjata dalam berperang melawan ketidakadilan.

Bagi saya, gerakan mahasiswa hari ini harus benar-benar merupakan gerakan yang murni untuk melakukan perlawanan terhadap rezim yang otoriter, rezim yang korup dan murni memperjuangkan kepentingan kaum yang tertindas. Gerakan Wiji Thukul bagi saya memberi pesan kepada mahasiswa agar benar-benar gigih dalam memperjuangkan keadilan serta menghindari tunggangan dari kelompok tertentu dalam melakukan pergerakan.

Saat ini, banyak kondisi sosial yang rusak yang mengharuskan kepekaan mahasiswa untuk bergerak dalam memperbaiki kondisi-kondisi yang rusak tersebut. Wiji Thukul selalu memberikan pesan-pesan moral yang baik kepada kita untuk bagaimana mahasiswa melakukan pergerakan di tengah persoalan-persolan tersebut.

Bagi saya, kegigihan Wiji Thukul juga memberi pelajaran bagi aktivis mahasiswa untuk tetap gigih dalam berjuang. ‘Jagan takut’ adalah pesan yang dapat saya petik dalam semua karya Wiji yang sangat kontekstual dengan kondisi mahasiswa hari ini yang dihadapkan dengan beragam masalah sosial, politik, hukum dan masalah lainnya.

Karya lain yang menginspirasi mahasiswa untuk bergerak dan tidak tidur melihat ketidakadilan adalah puisinya berjudul Apa Guna. “Apa guna baca buku kalau mulut kau bungkam melulu“ ini memberi pesan kepada mahasiswa agar mengaplikasikan apa yang kita baca untuk mengatasi persoalan sosial.

Sebagai agen kontrol dan agen perubahan, sangat tidak bergunan jika mahasiswa tidak mengaplikasikan ilmu yang didapatkan untuk kepentingan masyarakat. Marwah mahasiswa sebagai agen kontrol dan perubahan akan mati jika hanya diam dan tidak bergerak dalam melihat dan melawan ketidakadilan tersebut.

Selamat ulang tahun Wiji Thukul. Semangat juangmu akan terus kami ikuti. Karya-karyamu tidak akan pernah mati atau diculik oleh siapapun. Jangan takut, jangan bungkam. Lawan!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya