Natal dan Perjumpaan

Mahasiswa STPMD' APMD' Yogyakarta
Natal dan Perjumpaan 25/12/2022 378 view Lainnya Pixabay

Setiap tahun pada tanggal 25 Desember umat Nasrani merayakan peristiwa Natal. Perayaan Natal menjadi tradisi Gereja dalam mengenang kembali peristiwa inkarnasi: Allah menjelma menjadi manusia. Konsep Allah yang akbar, jauh, tak terjangkau, bengis dan kejam, kini mengalami transformasi bahwa Allah itu akrab, dekat, hidup, dan tinggal bersama manusia. Pembalikan pemahaman akan Allah ini menjadi nyata dengan kelahiran Yesus Kristus yang dikandung dari Roh Kudus melalui perantaraan Bunda Maria.

Kita mengetahui bahwa Yesus lahir dalam suasana yang cukup menyedihkan. Waktu itu, Kaisar Romawi Agustus mengeluarkan perintah untuk mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Maria dan Yusuf akhirnya pergi ke Bethlehem untuk mendaftar sensus. Ketika sampai di Bethlehem, mereka mencari tempat penginapan untuk bersalin. Namun, tidak ada tempat yang tersisa. Semuanya penuh. Tempat yang tersisa hanyalah palungan, sebuah wadah tempat makan hewan. Akhirnya bayi Yesus dilahirkan dan dibaringkan di tempat tersebut.

Di sisi lain, alkitab juga mencatatat kisah tiga orag majus yang datang ke tempat kelahiran Yesus. Kala itu ketiga orang itu sedang menjaga kawanan ternak di padang. Tiba-tiba seorang malaikat mendatangi mereka dan memberitahukan kelahiran Yesus. Dengan petunjuk bintang, para gembala ini pergi ke bethleeem untuk melihat bayi Yesus dan menyembah serta memepersembahakan emas, kemenyan, serta mur (Kumparan.com).

Memaknai Perjumpaan

Beberapa hari lalu, saya mengalami sebuah peristiwa yang membuat hati terenyuh. Kejadian itu masih membekas dan segar dalam ingatan. Tidak mungkin saya melupakannya. Waktu itu, saya pulang dari Condong Catur ke Ngentak Sapen. Sampai di daerah Merican, motor butut saya mogok di tengah jalan. Bensin habis. Anda bisa bayangkan rasanya terjebak di jalan raya di kota seramai Yogya.

Di tengah situasi yang membuat saya kebingungan dan cukup panik, ada orang baik yang membantu motor saya sampai ke tempat penjualan bensin eceran di pingir jalan. Jaraknya lumayan jauh. Kurang lebih lima menit. Orang yang bahkan tidak saya kenal sekali pun. Begitu pun sebaliknya: dia juga tidak mengenal saya. Saya tidak sempat menanyakan identitasnya: namanya, asalnya, dan lain-lain (seperti kebiasaan kita pada umumnya bila bertemu dengan orang baru). Saya hanya sempat bilang ‘terima kasih’. Dia pun berlalu, tanpa peduli suatu saat saya akan membalas jasa baiknya.

Natal selau identik dengan perjumpaan. Di hari-hari menjelang Natal, banyak dari kita yang mudik, pulang untuk berlibur bersama keluarga. Momen yang menyedihkan bagi anak perantauan yang terus berjuang dan belum bisa pulang karena berbagai situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Hanya menyisakan rindu dan air mata, bukan?. Berat memang, tapi hidup harus terus dilanjutkan. Bagi kita anak perantauan yang belum bisa pulang, semangat ya.

Di tengah kondisi kekurangan imam, terutama di kampung-kampung, biasanya beberapa stasi, misa Natal dirayakan di satu tempat. Dengan demikian, umat dari stasi lain yang ingin merayakan Natal akan pergi ke stasi pusat, tempat diadakannya perayaan, dan menginap di rumah keluarga atau sesama yang lain. Saat-saat seperti ini sangat menyenangkan, membahagiakan, dan mendamaikan. Meski disambut dengan makanan yang sederhana, tapi akan sangat membahagiakan bila disertai dengan gurauan dan tertawa lepas.

Di hari Natal ini, kita semestinya selalu memiliki kesadaran iman bahwa Tuhan selalu hidup di tengah-tengah kita. Tuhan dengan caranya yang luar biasa akan menyertai di saat kita diterpa kesulitan dan penderitaan, tanpa menunggu persetujuan atau kompromi, kita sedang dalam keadaan siap atau tidak siap.

Di saat-saat kita mengalami kesulitan, kebingungan, serta kepanikan karena didera persoalan hidup yang sering datang tanpa bisa ditebak, Tuhan akan membantu kita melalui sesama di sekitar kita. Bahkan orang yang tidak kita kenal sekali pun. Yang berbeda suku, agama, ras, serta golongan dengan kita. Seperti halnya pengalaman yang saya ceritakan tadi.

Meluangkan waktu untuk berlibur bersama keluarga dan orang-orang tersayang di hari Natal adalah kesempatan yang luar biasa. Kesempatan yang patut disyukuri karena tidak semua orang mengalami kesempatan yang sama. Ada yang belum bisa pulang libur karena satu dua halangan, ada pula yang merayakan Natal tanpa kehadiran seorang bapa, mama, atau saudara karena sudah dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Dalam perkembangan dunia teknologi informasi yang semakin maju, interaksi, perjumpaan, serta pertemuan yang dibangun, lebih banyak melalui dunia maya. Sering kali, kita menarik diri dari kehidupan yang nyata. Dengan kata lain, kita menjauhkan yang dekat serentak mendekatkan yang jauh. Komunikasi secara langsung hampir pasti sangat rendah karena kita sibuk dengan telepon di genggaman kita.

Mari merayakan Natal tahun ini sebagai momentum merayakan perjumpaan yang dilandasi cinta kasih, persaudaraan, toleransi, saling menghargai dengan sesama tanpa memandang sekat-sekat perbedaan yang semakin menjauhkan kita dari makna perjumpaan yang sejati. Selamat merayakan Natal, selamat dilahirkan kembali menjadi pribadi yang senantiasa menjumpai Tuhan dalam perjumpaan dengan orang lain di sekitar kita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya