Mengapa Masyarakat Masih Gandrung dengan Takhayul?

Mahasiswa
Mengapa Masyarakat Masih Gandrung dengan Takhayul? 03/05/2021 30 view Opini Mingguan jurnalsoreang.pikiran-rakyat.com

Zaman sekarang teknologi telah berkembang pesat. Komunikasi jarak jauh sudah difasilitasi gawai. Bepergian? Sudah banyak pilihan transportasi yang semakin hari semakin berlomba-lomba meningkatkan efisiensi sampai penemuan obat-obatan dan vaksin. Semua itu tentunya dikarenakan adanya metode saintifik. Seharusnya informasi dinalar pakai metode saintifik, tetapi kenapa sih masih ada yang percaya takhayul? Buktinya kasus babi ngepet kemarin yang sempat dipercaya di Depok, ternyata hoaks.

Sebelum membahas alasan mengapa orang percaya takhayul, apa sih yang dimaksud takhayul? Menurut Richard Webster dalam The Encyclopedia of Takhayul, merangkum berbagai definisi kamus dengan mengatakan bahwa takhayul merupakan kekhawatiran irasional yang tidak diketahui, atau keyakinan atau praktik irasional yang diterima secara membabi buta yang tidak didasarkan pada pengetahuan atau fakta tetapi ketidaktahuan.

Sedangkan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) takhayul merupakan (sesuatu) yang ada dalam khayal, kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap sakti padahal tidak ada. Jadi dapat disimpulkan takhayul merupakan sesuatu yang subjektif dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Lalu Mengapa manusia mempercayai takhayul bahkan di era yang bukan zamannya lagi mitos-mitos para dewa Yunani?

Sebenarnya banyak sebab-sebabnya. Namun, dari sudut pandang sains seperti biologi dan psikologi, takhayul, mitos, dan narasi fiktif merupakan salah satu kebutuhan manusia. Kebutuhan dari sudut pandang psikologi. Manusia mengalami disonansi kognitif yakni suatu kondisi yang membingungkan atau
tidak nyaman yang terjadi ketika individu menemukan diri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diketahui atau mempunyai pendapat
yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang diyakini. Akibatnya, individu mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Mencari langkah untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut seperti menjelaskan alasan terjadinya suatu fenomena dengan narasi-narasi fiktif yang dibuat-buat.

Kenapa mereka memilih menjelaskan dengan narasi fiktif? Tentu saja karena pada zaman dahulu, belum dikenal metode sains. Kehadiran mitos para dewa Yunani yang kini sebatas narasi fiktif dulu pernah diyakini. Sayangnya kebiasaan nenek moyang kita ini masih latah terbawa hingga sekarang.

Harari dalam Sapiens menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kemampuan mengada-adakan sesuatu yang tidak ada. Kemampuan inilah yang membuat Sapiens bertahan hingga kini. Dengan hadirnya narasi fiktif terciptalah kepercayaan antar individu sehingga manusia lebih mudah bersatu dalam suatu kelompok. Contohnya keberadaan kepercayaan, ideologi serta negara tidak lain dikarenakan adanya narasi fiktif yang tidak nyata bentuknya, tak dapat diraba, dicium maupun dirasakan.

Namun, apakah perilaku mempercayai takhayul mitos serta narasi fiktif lainnya relevan hingga saat ini? Tentu tidak sepenuhnya relevan. Dengan perkembangan revolusi kognitif, tentu sangat mungkin bagi manusia berpikir rasional. Setiap manusia memiliki potensi ini, akan tetapi iklim pendidikan dogmatis inilah yang menghalanginya. Saya tak sepenuhnya menyalahkan persoalan pendidikan kepada pemerintah, tetapi lebih kepada pola didik orang tua terhadap anak.

Orang tua yang menanamkan pola didik menggunakan takhayul dan mitos. Seperti melarang anak dengan alasan-alasan mistis seperti tidak boleh keluar malam nanti diculik hantu, duduk di depan pintu menghalangi rezeki dan lain sebagainya. Larangan ini memang efektif menakut-nakuti anak, tetapi mereka tidak diberitahu alasan dibalik hadirnya mitos-mitos tersebut.

Bukan berarti saya mendiskreditkan keberadaan mitos. Menurut Joshep Campbell dalam The Hero's Journey: Joseph Campbell on His Life and Work merangkum bahwa mitos memang memiliki fungsi. Salah satunya pedagogi atau pendidikan. Sebagian orang mungkin akan mati-matian mempertahankan mitos dengan alasan mendidik anak. Namun, menurut saya ada baiknya anak-anak berhak mengetahui sebab empiris asal-usul mitos.

Sayangnya anak-anak yang kritis bertanya tak jarang dicap pembangkang. Pola didik seperti ini bahkan berlanjut ke jenjang pendidikan formal. Berdasarkan pengamatan saya, murid yang patuh serta taat akan mendapat reward sedangkan yang banyak mempertanyakan akan dijuluki pembangkang. Contoh lainnya, ketika murid menanyakan pertanyaan fundamental tentang kepercayaan malah dijawab "memang dari dulunya begitu" atau akan dijawab dengan "ini tidak pantas dipertanyakan karena otak kita tidak mampu menalar segala hal"

Padahal dengan mengembangkan sikap ragu-ragu atau penasaran itulah yang akan menciptakan kerangka berpikir yang baik. Akibat pengungkungan pemikiran kritis, anak yang akan beranjak dewasa ini terbiasa malas mencari tahu fakta dan memilih percaya dulu ketimbang mempertanyakan. Sebab agama, orang tua, kakek nenek, orang sekampung bilang begitu. Maka seharusnya begitu dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pola didik dilarang bertanya inilah yang membuat orang merasa tak mampu berpikir. Mereka mengalami atau merasa mengalami fenomena mistik, tidak mampu atau tidak berani memeriksa atau mempelajari baik- baik kebenaran pengalamannya.

Kurang lebih saya setuju dengan gagasan Tan Malaka untuk meninggalkan logika mistika seperti takhayul dan mitos. Selama narasi fiktif masih digandrungi, takhayul dan mitos akan tetap ada. Namun, bukan berarti saya menganggap takhayul dan mitos harus dihapuskan. Melainkan biarlah mereka cukup menjadi narasi fiktif yang menarik saja, bukan untuk dipercaya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya