Memilih Konten Youtube: Perang Rasio Melawan Kehendak

Mahasiswa
Memilih Konten Youtube: Perang  Rasio Melawan Kehendak 06/02/2020 1830 view Lainnya pixabay.com

Diskusi tentang fenomena penggunaan media sosial semakin ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Ada indikasi bahwa pencipta konten (creator) kurang memerhatikan nilai-nilai moral dalam membuat konten. Konten yang dihasilkan pun terkesan kurang mendidik.

Menariknya, konten-konten ini justru diminati oleh para pengguna (user). Hal ini terbukti dari konten-konten yang masuk dalam kolom trending di Youtube. Video-video yang terkesan alay justru yang paling banyak ditonton. Rupa-rupanya video ini mampu memikat hati para pengguna.

Judul-judulnya yang bombastis membawa daya pikat tersendiri. Tentang isinya mendidik atau tidak, bermanfaat atau tidak, urusannya lain. Intinya klik, ambil posisi dan tonton.

Sementara itu, segerombolan orang berkampanye tentang kritis dan selektif dalam memilih konten. Di sekolah-sekolah para guru kerap kali meneriakkan dua kata ini. Kata-kata ini seolah-olah menjadi senjata penyangkal di tengah derasnya arus gelombang media.

Dua kata ini lebih mengarah kepada bagaimana para pengguna menggunakan rasionya dalam memilih konten. Diharapkan bahwa dengan rasio (pikiran), para pengguna mampu memilih konten yang memberi nilai positif untuk dirinya.

Akan tetapi, dalam memilih seringkali yang digunakan adalah kehendak (hati). Dalam konteks ini, yang menjadi penggerak adalah rasa suka dan tidak suka. Rasa senang dan tidak senang. Bermanfaat atau tidak, itu dipandang sebelah mata. Sadar atau tidak , justru inilah yang kadang terjadi. Di sinilah, rasio ditebas oleh kehendak. Lantas, relevankah rasio dalam memilih konten?

Perang Rasio Melawan Kehendak

Adalah seorang filsuf berkebangsaan Jerman bernama Arthur Schopenhauer. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Die Welt als Wille und Vorstellung, ia berbicara tentang kehendak. Ia masuk dalam filsuf yang menganut paham determinisme. Determinisme adalah paham yang mengatakan bahwa manusia tidak sungguh-sungguh bebas. Penyebabnya adalah kehendak.

Manusia hanya tampaknya saja bebas tetapi sesungguhnya dia tidak bebas karena menjadi budak kehendak (Hardiman, 2011:194). Dalam konteks ini, kehendak lebih kepada hasrat, keinginan, atau nafsu yang melekat dalam diri manusia. Karena itu, menurut Schopenhauer, sebagian besar tindakan manusia dipengaruhi oleh kehendak.

Dalam konteks memilih konten Youtube, mungkin kita pada waktu tertentu selalu berusaha menggunakan rasio (pikiran), tetapi di saat kita di depan gadget dan berhadapan dengan pilihan-pilihan, yang berperan adalah hasrat, keinginan, nafsu, rasa suka dan tidak suka, rasa senang dan tidak senang. Semua itu ditentukan oleh kehendak hati. Dalam konteks inilah, rasio berbenturan dengan kehendak. Logika dikalahkan oleh rasa senang dan tidak senang, serta rasa suka atau tidak suka. Sesusatu bermanfaat untuk ditonton atau tidak, urusannya lain, intinya menyenangkan dan memuskan “hasrat”.

Algoritma Media Sosial

Konten-konten Youtube memiliki cara kerjanya tersendiri. Dalam algoritma media sosial, sesekali kita mengklik salah satu video, maka akan muncul video lain yang memiliki kemiripan isi dengan video yang telah kita tonton. Apalagi jika video yang memiliki kemiripan kita selalu nonton, maka dalam beranda yang muncul adalah konten yang seperti telah kita tonton.

Misalnya, kita sering menonton video-video prank, yang muncul dalam beranda sebagian besar adalah video-video prank. Atau kita sering menonton video artis yang membuat sensasi dengan pertunjukan drama pertengkaran, yang muncul dalam beranda adalah video-video demikian. Yang paling parah adalah ketika kita sering membuka video-video berbau pornografi, maka yang muncul di beranda adalah video-video demikian.

Jika di rumah, jaringan nirkabel (wifi) dua puluh empat jam, anak-anak diberikan gadget tanpa fungsi kontrol orangtua, mental generasi masa depan bangsa akan seperti apa? Karena itu, jangan heran apabila anak-anak zaman sekarang sering berdiam diri di kamar, mengurung diri, susah berkomunikasi, kurang aktif, dan sederet masalah mental yang lain. Virus media sosial telah merasuki pikiran mereka.

Attention Economy

Para pembuat konten pertama-tama berharap bahwa konten yang dibuat ditonton oleh banyak orang, mendapat banyak like dan subscribe. Dengan itu, channel mereka semakin dikenal banyak orang, nama mereka semakin melambung di dunia maya dan lebih penting adalah mereka bisa mendapatkan penghasilan (attention economy). Bahaya dari tujuan untuk mendapatkan uang dalam membuat konten Youtube adalah orang terjebak dalam materialisme.

Ini adalah problem besar di era ini. Segalanya diukur dari uang. Uang menjadi dewa baru. Uang menjadi parameter untuk kesuksesan sebuah karya. Jika uang tidak didapatkan, karya dianggap tidak berhasil. Akibatnya, orang mengabaikan proses karena fokus pada tujuan mendapatkan uang. Prosesnya tidak tepat, intinya tujuan tercapai, mendapatkan uang.

Memang benar, orang tidak bisa hidup tanpa uang, tetapi segalanya tidak bisa diukur dengan uang. Sebaliknya, jika misi utama untuk memberikan nilai yang bermanfaat disamping memberi unsur hiburan kepada penonton, orang tonton atau tidak menjadi urusan kedua, intinya creator menggunakan jalur yang tepat.

Ekses Negatif

Pada prinsipnya adalah Youtube baik untuk membantu kita apabila hendak mempelajari sesuatu dengan video-video tutorial, mendapatkan informasi baru, memperluas wawasan, atau melepas lelah dengan menyimak video-video yang memiliki unsur hiburan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita menggunakannya.

Dalam konteks ini, yang salah bukan Youtube tetapi orang-orang yang salah menggunakannya. Oleh karena itu, adalah suatu hal yang perlu bagi setiap pengguna Youtube untuk menyadari pentingnya menggunakan konten ini untuk sesuatu hal yang bermanfaat dan lebih penting dari itu tidak membawa dampak buruk bagi sesama.

Bayangkan saja ketika para pengguna Youtube yang usianya masih kanak-kanak, menonton video-video yang tidak layak ditonton, tentunya akan membawa dampak buruk bagi perkembangan mental mereka. Misalnya, video-video yang memiliki unsur pornografi, video tawuran, video aksi anarki, dan sederet konten yang tidak layak ditonton oleh anak-anak.

Di kota-kota besar saat ini, gadget sudah begitu akrab dengan kehidupan anak-anak. Ketika orangtua mereka sibuk bekerja, satu-satunya jalan untuk melepas kesepian di rumah adalah dengan memainkan gadget. Dalam gadget itu, mereka bisa membuka dan mengakses apa saja, seturut keinginan dan kesukaan mereka.

Di sekolah guru sudah mengajarkan banyak hal termasuk nilai-nilai moral. Akan tetapi, apa yang diajarkan di sekolah kadang tidak sejalan dengan apa yang mereka pelajari di rumah. Di rumah, mereka menonton video-video seturut keinginan mereka. Akibatnya, terjadi ketidakselarasan antara apa yang dipelajari di sekolah dengan apa yang mereka lihat setiap hari di media.

Sementara itu, di Youtube, setiap orang bebas mengunggah video apa saja. Demi mencari untung, kadang video yang tidak layak pun dimasukkan begitu saja. Karena memang setiap orang diberi kebebasan untuk berekspresi. Namun, tak jarang kebebasan berekspresi itu tanpa intuisi.

Rasio Menang dalam Perang melawan Kehendak

Adalah seorang filsuf yang bernama Aristoteles. Buah-buah pikiran pemuda yang hidup di zaman Yunani Kuno ini tak asing lagi bagi para pemikir yang hidup hari ini. Dalam salah satu karyanya, ia berbicara tentang kebahagiaan (eudamonia). Dalam diskusi tentang kebahagiaan inilah dia berbiacara tentang rasio.

Menurutnya, yang membuat manusia bahagia adalah keutamaan (arete). Keutumaan itu dibagi lagi menjadi dua yaitu keutamaan intelektual (rasio) dan keutamaan moral.

Keutamaan rasio lebih kepada bagaimana manusia menggunakan akalnya dalam menyikapi realitas sosial sedangkan keutamaan moral lebih kepada bagaimana manusia mengendalikan perasaan-perasaan, keinginan-keinginan, dan nafsu-nafsu (K. Bertens; 1999:196). Itulah sebabnya, dia mengatakan bahwa jika manusia mampu memaksimalkan keutamaanya (mampu menggunakan rasionya dengan baik) dan menggunakan moralnya dengan benar, maka manusia akan bahagia.

Dalam konteks memilih konten Youtube, manusia harus mampu memaksimalkan keutamaannya. Dalam konteks ini adalah memaksimalkan keutamaan intelektual (rasio) dan keutamaan moral (mengendalikan hasrat).

Dalam konteks menggunakan rasio, pikiran harus mampu memilih mana konten yang bermanfaat dan layak untuk ditonton. Dalam konteks keutamaan moral, manusia harus melatih diri untuk mengendalikan diri, mengontrol, memilah dalam memilih sehingga tidak terperangkap dalam pilihan “hanya karena suka dan senang” tetapi karena itu bermanfaat di samping memberikan unsur hiburan. Hal ini memang butuh latihan dan dibiasakan sehingga menjadi bagian yang melekat dalam diri manusia. Dengan demikian, rasio akan menang atas kehendak.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya