Masyarakat Konsumtif: Millenial dan Merosotnya Budaya Kita

Mahasiswa aktif Universitas Nurul Jadid
Masyarakat Konsumtif: Millenial dan Merosotnya Budaya Kita 10/06/2022 84 view Budaya Merdeka.com

Maraknya Kpop di Indonesia memberi dampak bagi kalangan millenial, kegemaran mereka tehadap budaya barat sangat melekat hingga saat ini. Tak hanya itu, dengan demikian semakin lama budaya kita tersingkirkan. Kita bisa melihat sedikit demi sedikit masyarakat kita mulai terprovokasi budaya barat khusunya Kpop. Uniknya lagi Kpop merupakan suatu yang didamba-dambakan di era saat ini.

Dalih “trend masa kini” menjadi gejolak di kalangan millenial, sehingga mereka tidak menyadari bahwa telah masuk dalam perangkap budaya barat (Kpop), dilihat dari cara berpakaian, tingkah laku, bahkan sosial. Pembelian produk model Korea tidak hanya menjadi sebuah kebutuhan mereka, tetapi juga sebagai alat kepuasan karena telah memiliki produk-produk yang kerap dianggap sebagai trend saat ini.

Di Indonesia sendiri, kebudayaan merupakan salah satu aspek kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai budaya yang beragam, termasuk keseniannya. Dari kebudayaan jugalah gaya hidup tercipta. Gaya hidup saat ini tengah mengguncang kesadaran manusia menjadi komoditas. Masyarakat kini cenderung terserap dalam keperkasaan budaya populer dengan segala atributnya. Fenomena di atas secara jelas telah menggambarkan bagaimana budaya pop telah merasuk ke segala lini kehidupan.

Lembutnya permainan kapitalisme sekarang dalam menggunakan cara untuk bisa menghasilkan keuntungan lebih. Apalagi ketika masa-masa Covid 19, terutama perusahaan, pabrik, restoran, dan lain-lain itu sedang mengalami kendala besar. Penurunan penghasilan membuat mereka tidak menyerah dalam mencari laba, namun tak bisa dipungkiri mereka mencari jalan keluar apa yang mereka inginkan.

Sistem perekonomian global bebas tanpa ada batas, negara-negara saat ini mengalami krisis ekonomi karena dampak virus tersebut. Tidak menutup kemungkinan bagi para pemodal bersemangat menyulap situasi yang awalnya krisis kini menjadi bisnis. Dan media menjadi instrumen bagi mereka untuk memperkenalkan produk-produknya alih-alih pemasaran digital.

Fredrich Jameson seorang kritikus sastra Amerika, mengemukakan bahwa kapitalisme tetap didasarkan pada tipuan lama timbulnya logika kultural untuk membantu menjaga dirinya. Untuk memenuhi suatu keinginan ditingkatan para pemodal, kini mereka bergerak dalam berbagai negara Jameson menyebutnya “kapitalisme multinasional”.

Bukan perkara yang sulit dalam hal ini mencari kebudayaan masyarakat konsumer dalam prespektif Fredrich Jameson, sekarang menjadi persoalan utamanya adalah bahwa mahasiswa telah kehilangan semangatnya karena kebudayaan pop telah mendominasi. Pemikiran Jameson sangat relevan untuk melihat bagaimana mutase budaya kapitalisme telah mencipptakan apa yang telah disebut dengan “masyarakat komoditas” atau “masyarakat konsumeris".

Lihatlah para eksekutif muda yang bermalas-malasan saat kerja, atau kaum muda-mudi yang tidak bersemangat saat harus membaca buku di bangku kuliah. Mereka lebih banyak waktu untuk menghabiskan waktu di diskotik dan pusat hiburan atau berbelanja di mall-mall, pusat perbelanjaan atau pergi ke salon-salon kecantikan, tempat fitness, dan lain-lainnya. Masyarakat konsumer adalah masyarakat yang dikuasai oleh hasrat konsumsi yang digelar lewat program gaya hidup dan citra diri dan dikemas dalam paket-paket komersial, melalui media televisi, film, MTV, iklan, majalah populer, dan seterusnya.

Masyarakat konsumer dikendalikan oleh hasrat pemujaan gaya hidup dan penampilan diri. Oleh karena itulah orang tidak perduli apakah hidup hanya sekali, yang penting bagaimana bisa tampil modis dan trendy. Dalam ruang seperti ini tidak ada kreatifitas kultural selain menghamba pada citraan-citraan yang disajikan lewat TV, seperti Indonesian Idol, AFI, program kecantikan, dan gaya hidup selebritis, sesuatu yang disebut “budi daya kebodohan”.

Masyarakat kita saat ini adalah masyarakat yang kehilangan, meminjam istilah Jameson, peta kognitifnya. Mulai dari pejabat pemerintah, politisi, hingga aktivis mahasiswa. Mereka larut dalam godaan budaya pop dan tenggelam dalam hingar-bingar kemewahan dan perayaan gaya hidup buatan yang diciptakan menurut logika kapitalisme lanjut yang berdiri kokoh di atas perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini.

Tak bisa disangkal rupanya gejala ini bisa membuat sebuah pernyataan “yang kini melumpuhkan aktivisme bukan semprotan gas air mata Brimob, tapi semprotan parfum Paris”. Inilah gambaran nyata dari jebakan situasi kontemporer sebagai logika budaya kapitalisme lanjut.

Di sisi lain, sekarang kita menyaksikan restoran cepat saji McDonald’s Green Garden melakukan hal yang baru, dengan cara kaloborasi bersama salah satu grub K-pop BTS untuk menambah peminat sekaligus sebagai alat pemasaran produknya (kompas, 10/062021). Suatu keuntungan yang besar bagi McDonald’s dalam mempertahankan reputasinya baik di beberapa kalangan restoran ternama, sekaligus mendongkrak penghasilan McDonal’s akibat kebangkrutan pandemi.

Para millenial banyak mengenal budaya barat salah satunya melalui Kpop, merupakan suatu kebanggan di kalangan para penggemarnya. Sedikit dari mereka dalam hidupnya dipengaruhi budaya Kpop, dari cara hidup mereka. Perlahan masyarakat kita akan didominasi oleh budaya barat kemudian menyingkirkan budaya lokal kita.

Sekarang kita bisa menjangkau apa dampak dari Kpop tersebut yang selalu dibangga-banggakan, lalu mereka menjadikannya patron. Sehingga para remaja waktu itu berbondong-bondong memesan makanan di McDonal’s dengan menu khusus yang sudah diberi nama “BTS meal”.

Maka kemudian belajar dari apa yang telah dipaparkan di atas bahwasanya mereka membeli bukan secara khusus didasari kebutuhan melainkan keinginan, asalan utama pemicu timbulnya konsumtif bagi mereka adalah Mcdonal’s yang telah melakukan kaloborasi bersama BTS. Tak hanya itu, konsumtif yang dilakukan oleh penggemar Kpop dapat berupa pembelian yang meliputi album, baju, aksesoris, dan barang dagang lainnya yang berhubungan dengan sang idola tersebut.

Adanya pengaruh terhadap citra diri mereka sebagai kalangan millenial, berkaitan dengan rasa kepercayaan diri pada diri sendiri, merasa tidak perlu lagi mengikuti suatu hal yang tidak sesuai dengan dirinya sendiri. Akan tetapi semakin rendah citra diri kalangan ini akan mengungkapkan rasa kurang percaya diri pada diri sendiri, akan merasa kurang cukup atas apa yang sudah dimiliki, maka dari itu memerlukan tambahan pedoman untuk membantu membangun rasa percaya diri.

Jameson megambarkan zaman kita tempat orang terombang-ambing di dalamnya dan tidak mampu memahami sistem kapitalis multinasional atau kebudayaan yang tumbuh secara eksplotif tempat mereka tinggal di dalamnya. Secara tidak langsung kaloborasinya mereka sebagai tanda perkembangnya kapitalis multinasional yang dimaksud Jameson, dan kita tidak memahami bahwasanya tertipu daya oleh sistem tersebut.

Perlu kita sadari “hilangnya kemampuan kita memosisikan diri di dalam ruang ini dan memetakannya secara kognitif”(Jameson, 1989:48). Sebagai seorang Marxis hampir serupa apa yang telah dicita-citakan Kalr Marx tenteng kesadaran kelas, Jameson menginginkan kita sebagai individu melebur dalam ekonomi multinasional lalu menciptakan kesadaran baru yang mempunyai peluang nantinya akan mendominasi.

Sampai saat ini, keinginan Jameson belum terealisasikan, yang ada hanya kita terjebak dalam ruang kapitalisme. Perkara ini akan membawa kita kepada problem runtuhnya kultur sosial diganti dengan gaya baru. Sebagai remaja kita harus cerdas dalam mengelola keuangan, di Indonesia para millenian pun dominan belum berpenghasilan, artinya masih dalam ketergantungan orang tua.

Satu hal yang memberikan dampak merosotnya budaya kita terhadap ancaman budaya barat, termasuk pada moral di setiap generasi. Orang-orang jaman dulu apa bila berpakaian 70 persen seluruh badan tertutup, sebelum budaya barat tidak mendominasi budaya kita. Pakaian lokal seperti batik, sarung, dan pakaian lainnya didamba-dambakan karena cenderung memberi kesan baik.

Agama apapun itu mengajarkan kita selalu berbudi luhur, dalam hal kemanusian kita harus tolong menolong dan saling membantu satu sama lain. Kita hidup dalam negara umat Islam terbanyak, agama tersebut menganjurkan kita bersedekah, berperilaku baik dan hidup yang sederhana (tidak berlebih-lebihan).

Jalan alternatifnya untuk menanggulangi gaya hidup konsumtif yaitu dengan cara memprioritaskan kebutuhan. Masih banyak di luar sana kehidupan ekonominya kelas menengah ke bawah, perlu hal itu untuk kita sadari. Lebik baik membantu orang yang membutuhkan agar bermanfaat dari pada mementingkan sebuah keinginan yang nantinya akan membawa kita hidup dalam budaya konsumerisme.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya