Mengeja Islam Melalui Mohammed Arkoun dan Ali Syariati

Pegiat Literasi Pesantren di Corner Institute Semarang
Mengeja Islam Melalui Mohammed Arkoun dan Ali Syariati 10/06/2021 78 view Agama Republika.com

Pemikir muslim ternama Mohammed Arkoun bersahabat dekat dengan Ali Syariati salah satu tokoh ideolog Syi’ah di Timur Tengah. Kedua pemikir tersebut pertama kali bertemu di Paris Perancis ketika menempuh kesarjanaanya di Sarbonne. Meskipun kedua pemikir ini belajar dengan satu guru yang sama yaitu Louis Massignon dan Jacques Berque namun corak pemikiranya dapat dikatakan berbeda.

Syariati adalah penganut Syi’ah yang sempurna mengikuti Ali bin Abi Thalib pihaknya mengatakan bahwa Syi’ah adalah kedigdayaan dan kesempurnaan artinya sempurna dalam menganut Imam Ali dan menjadikan kepatuhan ini untuk kekuatan revolusioner dalam melawan despotisme politik beserta menolak sistem kelas yang menindas. Syariati berpendapat Syiah yang ia anut berbeda dengan Syiah Syafawi yang merupakan sekte Syi’ah yang telah dimonopoli oleh pemangku jabatan politik. Ia meyakini bahwa Syi’ah Syafawi bukan lagi penganut Imam Ali karena mereka sudah membelokkan diri dari jalan yang diajarkan Imam Ali.

Syariati maknai Islam bukan hanya sebagai agama saja melainkan sebagai ideologi. Zacky Khairul Umam dalam bukunya mengatakan bahwa Syariati adalah golongan yang kurang minat untuk membawa Islam melalui filsafat, budaya ataupun sains. Dalam tulisanya Islam Shinasi Syariati berargumen “Saya mencari kembali Islam sebagai ideologi bukan hanya Islam yang berbudaya”. Melalui ideologisasi Islam ia dapat menggalang ribuan aktivis untuk menentang penindasan karena sistem kelas dan mengangkat golongan masyarakat yang lemah (mustad’afin).

Ideologisasi adalah upaya untuk mendoktrin manusia menggalang massa untuk menjadi rakyat yang merdeka. Oleh sebab itu Syariati tidak ingin menjadi filsuf seperti Al-Ghazali atau saintis misalnya Ibn Sina lebih-lebih menjadi pengamat seperti kelompok orientalis. Alasanya sangat populer yaitu menjadi filsuf atau ilmuwan adalah sikap untuk menjadi pengamat yang hakiki, sedangkan yang terpenting adalah gerakan membela dan membebaskan kemunkaran, jembatanya adalah ideologi karena dengan mendoktrin dapat mengajak amar ma’ruf nahi munkar sehingga ideologisasi memiliki kekuatan yang tak tertandingi untuk menghancurkan sekaligus menciptakan.

Secara garis besar ideologi memiliki pedoman imperatif ketika membentuk sesuatu, sementara filsafat dan sains hanya mengabarkan pengetahuan yang terjadi saja. Artinya ideologi bagi Syariati adalah kekuatan besar yang jangan sampai dihilangkan dalam tubuh umat Islam. Karena umat Islam akan kuat apabila menjadikan agama Islam sebagai ideologi bukan hanya agama, kebudayaan, sains dan filsafat.

Semangat Islam ala Syariati berbeda dengan Mohammed Arkoun yang larut dalam kebudayaan Islam. Arkoun memahami Islam sebagai peradaban artinya bukan hanya ideologi saja. Melalui tafsir ini Arkoun menemukan intisari Islam melalui penghambaan yang jauh dari politik. Akhirnya ia mencetuskan Islam diam sebagai sintesis dari Islam politik. Islam yang diam artinya Islam yang dipeluk oleh pencari sejati yang mementingkan pada ikatan ketuhanan daripada kepentingan politik.

Kritik nalar Islam yang diserukan oleh Arkoun adalah bentuk kekecewaannya terhadap kedzaliman yang dilakukan oleh kelompok Islam yang gila politik. Kritik tersebut juga menyasar pada ilmuan sosial untuk kembali membicarakan Islam sebagai agama pembebas. Perjalananya dalam menekuni kajian keislaman membuat Arkoun melintasi batas kewajaran. Kapasitasnya sebagai muslim tentunya menguasai soal kajian keislaman kontemporer namun dahaga Arkoun tidak menjadikanya berhenti belajar. Ia kemudian mengkaji buku para pemikir dunia misalnya ia mencangkok pemikiran filsuf Immanuel Kant dan teori dekonstruksi ala jacques Derrida.

Selain mendalami isu kajian keislaman Arkoun juga membuka pelajaran ilmu sosial dan humaniora waktu di Perancis yang kemudian diolah secara kreatif untuk proyek intelektualnya. Sangat menarik sekali apabila membahas corak pemikiran kedua pemikir ini. Masing-masing memiliki semangat perubahan dan pembebasan Islam namun mengenai praktiknya berbeda. Syariati dengan Islam Ideologisnya membawa masyarakat untuk melawan penindasan sistem kelas sedangkan Arkoun melalui Islam diam untuk memurnikan Islam dari agensi politik. Pada mulanya kedua motif pemikiran itu adalah keprihatinan dengan situasi umat Islam pada masa hidupnya. Arkoun yang hidup di tengah kerasnya sistem politik di Asia Tenggara mencoba menyelamatkan faham-faham keislaman yang hanya memasrahkan manusia pada takdir tuhan sehingga manusia hanya menjadi budak pembodohan bagi para politisi.

Arkoun adalah salah satu revolusioner yang mendorong agar umat Islam lebih kreatif dan aktif mengambangkan aspek sosial, spiritual dan intelektual. Gerakan memikirkan kembali Islam merupakan upaya Arkoun untuk mewujudkan manusia yang merdeka. Begitupun Syariati seorang yang berasal dari daerah yang sangat kuat yaitu Iran. Meskipun ia berasal dari Iran dan pemikiranya lebih ke Islam ideologis namun ia tetap menarik karena masih membawa sifat progresif dalam memandang kejadian yang sering dianggap kolot sebagai takdir ilahi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya