Ketika Gadamer Membaca Ihwal Jurnalistik

Ketika Gadamer Membaca Ihwal Jurnalistik 20/07/2022 76 view Lainnya Dokumen pribadi

Saya baru saja menyelesaikan liputan dengan mengambil tema transgender di Semarang. Spesifiknya ihwal perjuangan mereka mendapatkan akses dan hak publik, sebut saja misalnya pembuatan kartu identitas dan sebagainya. Beberapa narasumber berhasil dihubungi dan diwawancarai, menyisakan satu narasumber dari LSM yang buntu di tengah proses liputan. Dengan terpaksa, naskah tetap dikumpulkan.

Liputan saya olah dalam format features. Pemilihan bentuk tersebut bukan karena penugasan Sekolah Jurnalisme AJI Semarang, tentu didasari pada keinginan saya untuk mengabadikan sebuah tulisan yang bebas dari jangkauan waktu. Tulisan panjang namun bisa dinikmati. Peristiwa sekilas bayang namun mampu mengaduk-aduk emosional orang-orang.

Andreas Harsono, peneliti Human Right Watch, menuliskan dalam bukunya Agama Saya adalah Jurnalisme, bahwa jurnalisme sebagai forum publik. Ia mengandaikan dengan mengambil latar belakang tempat pada zaman dahulu banyak surat kabar yang menjadikan ruang tamu mereka sebagai forum publik di mana setiap orang bisa datang, menyampaikan pendapat, kritik dan sebagainya. Di sana juga disediakan cerutu serta minuman.

Logikanya, sebagai forum publik tentu jurnalistik harus bekerja berpedoman pada elemen dan kode etik. Jurnalistik tidak sekedar pada kartu pers yang dibingkai dengan tali yang dikalungkan di leher-kepala atau busana pers yang dominan hitam dengan bordiran di bagian belakang yang mentereng dan gagah.

Saya justru lebih membumi dengan memakai ala kadarnya. Meski kartu dan busana pers adalah bagian dari norma kerja jurnalistik, bagaimana jika dalam melakukan peliputan mengabaikan kode etik?

Absennya LSM dalam naskah liputan saya memang tidak merusak identifikasi karya jurnalistik. Karena kata kuncinya pada korban. Meski ada tuntutan keberimbangan, namun jangan asal mentah ditelan. Terkadang coverboth side menciptakan bias; saling memberikan ruang dan suara dalam tulisan tetapi dengan porsi (jumlah paragraf) yang berbeda.

Karena citra jurnalistik sebagai forum publik yang menjadikan liputan saya terkesan miskin perspektif—bahkan bisa dinilai njomplang. Ketidakikutsertaan salah satu pihak bisa mengubah penilaian terhadap suatu berita. Belum lagi jika dilihat dari cara pandang byline dan tagline, tentu ini berdampak pada reputasi dan integritas wartawan.

“... mereka rata-rata berideologi fasisme, berorientasi komersial, secara teknis belum mau pakai standar jurnalisme internasional,” terang Andreas mengomentari media-media arus utama yang masih menempatkan orang-orang penting sebagai narasumber utama.

Saya sengaja tidak memasukkan pejabat sipil dalam daftar narasumber. Selain karena menyusahkan diri untuk menembus tembok mereka, juga saya yakin jawabannya normatif-normatif saja. Karena mereka memiliki kepentingan, tentu saja jawabannya berbeda dengan apa-apa yang terjadi di lapangan. Karena dalam jurnalistik ada hak dan tanggung jawab masyarakat—itulah elemen kesepuluh, tambahan dari Andreas.

Orang-orang yang terjun dalam dunia verifikasi dan kepentingan masyarakat, lingkup kecilnya pers kampus, saya kira mengerti anomali itu. Perdebatan itu panjang dan melelahkan, sama halnya dengan perdebatan rekrutmen awak wartawan. Ada yang mendasarkan pada kecakapan skill dan kumulatif nilai selama kuliah, beberapa ada yang mendasarkan pada kemampuan menulis. Di Indonesia, kebanyakan media masih memberlakukan yang pertama.

Saya mencoba menelaah bagaimana hubungan interpretasi wartawan dalam menuliskan liputan usai wawancara dengan hermenuetika Gadamer. Andreas mengakui, wartawan memang sulit menjadi netral tapi mereka harus independen dari orang atau isu yang mereka liput sehingga bisa tetap kritis terhadap liputannya. Loyalitas utama seorang wartawan adalah kepada warga masyarakat tempatnya berada.

Gadamer—singkatnya, karena ini bukan makalah filsafat—dalam pemikiran Hermeneutikanya melahirkan Faktisitas atau terlibatnya manusia ke dalam suatu realitas/fakta yang terjadi.

Beberapa teorinya adalah; pertama, pra-pemahaman yang dimiliki seseorang hermenet sebelum memahami atau menginterpretasikan sesuatu; kedua, pengaruh sejarah yang menuntut keterpengaruhan hermenet oleh sejarah yang ada di sekitarnya; ketiga, peleburan antar horizon di mana hermenet menyatu dengan teks yang menjadi objek hermeneutiknya dan; keempat, aplikasi yang artinya proses pengaplikasian atas objek hermeneutiknya dapat melahirkan suatu pemahaman yang baru.

Hari terakhir Sekolah Jurnalisme AJI Semarang dilaksanakan pada Jumat (01/07) dengan membahas etika dan mitigasi liputan. Sebelum wartawan turun meliput, haruslah mempertimbangkan kejadian-kejadian yang tak terduga ketika proses liputan. Terlebih liputan di kondisi yang rentan seperti demo, atau menginvestigasi permasalahan yang ganjil misal dugaan korupsi.

Pra-pemahaman itu harus dikuasai betul oleh wartawan sebelum memutuskan untuk terjun liputan. Bagaimana pun juga, harga tulisan tidak sebanding dengan harga nyawa. Sama pentingnya dengan mengambil fokus liputan yang berunsur human interest. Bagi Gadamer, wartawan harus melalui pemahaman suatu visi yang hendak dicapai dalam liputan.

Logika zaman atau paradigma yang terbentuk dalam suatu zaman kerap kali mempengaruhi wartawan dalam mengidentifikasi suatu kejadian, baik pro atau kontra. Identitas, termasuk kewarganegaraan, bagi Andreas hanyalah alat untuk memperkaya pemahaman. Ia melepasnya saat bekerja, tidak memberikan ruang untuk mendikte liputannya.

“Kalau kamu masih tidak setuju dengan jawaban narsum, berati sama saja you masih belum siap menjadi wartawan,” jawab kepala Sekolah Jurnalisme AJI Semarang, Nonie Arnee. Saat mencoba mewawancarai teman-teman transgender, saya berusaha melepas semua asumsi tidak-tidak dari teman-teman sekitar yang mencoba mempertanyakan alasan kenapa memilih angle itu, atau ketika mentranskip rekaman, atau ketika menyunting liputan.

Usai wawancara dan membentuknya dalam sebuah naskah liputan, serpihan kata yang tidak-tidak itu dengan cepat sirna ketika saya mendengarkan dan menyaksikan langsung. Dalam konteks ini, pada saat yang sama, integritas wartawan diuji. Bisa saja karena masih terbawa tendesius dan pemahaman sepihak, wartawan menuliskan berbeda dari apa yang sudah dikatakan oleh narasumber.

“... media kita lebih berkepentingan menggiring opini audiens daripada memberikan informasi yang benar,” tegas Andreas. Media yang baik bakal membantu pembacanya mengambil keputusan yang tepat dalam situasi sulit. Begitu juga wartawan taat integritas akan berupaya berpedoman pada elemen dan kode etik jurnalistik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya