Kemiskinan akan Perhatian

The Truth Will Set You Free
Kemiskinan akan Perhatian 03/08/2021 79 view Agama linkedin.com

Psikolog kognitif dan ekonom Amerika sekaligus penerima Hadiah Nobel bidang Ekonomi, Herbert Simon, pernah mengatakan dengan banjir informasi justru menghasilkan kemiskinan perhatian. Menariknya justru dengan melimpahnya informasi yang masuk ke dalam pikiran manusia baik itu dari media sosial seperti Twitter, Instragram dan Facebook serta internet justru membuat manusia semakin sulit untuk fokus kepada dirinya dan juga orang lain terutama mereka yang berada paling dekat dengan dirinya seperti anggota keluarga, pasangan dan rekan kerja.

Hal ini merupakan pemandangan umum di sekitar kita ketika melihat beberapa orang yang duduk dalam satu meja tidak terlibat dalam perbincangan yang hangat. Mereka justru sibuk masing-masing dengan gawainya dan menikmati percakapan atau kegiatan dengan orang yang tidak ada di tempat yang sama.

Sementara kita sadar dan setuju bahwa perhatian adalah sesuatu yang adalah salah satu dari lima kebutuhan dasar manusia. Abraham Maslow memperkenalkan teori Hieraki Kebutuhan Maslow pada tahun 1943. Terori itu antara lain menyebutkan kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki kasih sayang (social needs), kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), dan kebutuhan akan aktualisasi diri.

Kebutuhan akan rasa memiliki kasih sayang atau kebutuhan sosial artinya manusia sangat mendambakan untuk menemukan dan mendapatkan seseorang yang dapat berbagi dan mendengar serta didengarkan. Hal ini nampaknya semakin menjadi komoditas langka dan mahal di tengah dunia yang serba cepat dan instan. Obrolan semakin lama semakin dangkal dan kehilangan makna. Terlebih dengan kondisi pandemi yang berkepanjangan yang mengharuskan manusia sementara menjauhi kontak fisik. Keadaan ini memaksa mereka pada akhirnya sangat nyaman untuk berkomunikasi dengan gawai dan aplikasi pendukung lainnya,

Lalu apakah konsep yang diperkenalkan Abraham Maslow itu merupakan sebuah konsep yang baru? Dalam Kitab Kejadian Alkitab Perjanjian Lama dituliskan ketika Tuhan menciptakan manusia pertama Adam, Ia menciptakannya dengan amat baik. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan berbeda dengan makhluk lain seperti binatang atau pepohonan karena Allah sendiri menghembuskan kepadanya nafas kehidupan langsung dari diri-Nya serta dikatakan diciptakan serupa dan segambar dengan dirinya.

Berfirmanlah Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26 TB). Kualitas Adam amat superior karena dia diproyeksikan untuk menjadi makhluk yang memerintah atas ciptaan Tuhan yang lain.

Tetapi setelah beberapa waktu tinggal dalam suatu “habitat” sempurna dalam taman Eden toh Adam pada akhirnya merasakan satu kekosongan yang amat meresahkan hatinya. Hal itu disadari olehnya setelah ia merasa tidak mendapat seseorang yang mirip seperti dirinya. Artinya ia tidak mendapat perhatian dan empati serta tidak dapat memberikan perhatiannya kepada seseorang yang serupa dengan dirinya.

Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia (Kejadian 2:20). Adam dengan kecerdasannya dapat memberi nama kepada setiap ternak, burung dan binatang hutan dengan sempurna tetapi justru semakin ia mengenali sifat-sifat dan karakteristik binatang-binatang tersebut semakin ia menyadari betapa ia berbeda dengan mereka. Sangat berbeda.

Tuhan Sang Pencipta tentu sudah tahu sejak awal akan kebutuhan awal dan setelah Adam merasakan keterasingannya, Allah secara cepat menciptakan satu makhluk yang mirip dan serupa dengan dirinya. 2:21 Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 2:22 Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nya-lah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. (Kejadian 2:21-22)

Dari kisah ini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa kekosongan hati Adam akan seorang yang dapat menolongnya hanya dapat diisi oleh seorang pribadi bukan alat yang tidak berjiwa. Manusia sekarang ini sedang berupaya keras menjadikan teknologi untuk dapat mengisi kekosongan ruang hati manusia akan perhatian seperti dengan teknologi Robot.

Tetapi kita tahu bahwa desain awal manusia adalah berinteraksi dengan manusia lain dalam sebuah komunitas yang terbangun baik dan tanpanya maka dipastikan akan terjadi kelaparan akan perhatian (attentional poverty). Maka harus ada usaha serius dari kita untuk kembali menciptakan suatu komunitas sehat di mana seluruh orang yang ada di dalamnya dapat terlibat aktif dalam sebuah percakapan yang sehat.

Hal ini mungkin bisa terwujud dengan beberapa ide bagus. Sebagai contoh, dengan adanya hari atau akhir pekan tanpa gawai, bermain dengan anak di lapangan terbuka, membaca buku dan mendiskusikannya atau sekadar olahraga bersama. Ini merupakan beberapa ide agar perhatian kembali menjadi komoditas murah.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya