Spiritualitas: Merenung Kembali pada Kehadiran Tuhan dalam Era Modernitas

Mahasiswa
Spiritualitas: Merenung Kembali pada Kehadiran Tuhan dalam Era Modernitas 26/01/2024 350 view Agama pixabay.com

Manusia sering kali cenderung mengabaikan Tuhan saat mereka merasa bahagia, namun ketika mereka menghadapi penderitaan, Tuhan kembali menjadi tempat perlindungan. Fenomena ini terkadang dapat diamati pada setiap individu.

Nafsu mereka bereaksi saat kebahagiaan menyelimuti mereka, dan apa yang berada di luar pemikiran mereka sementara waktu diabaikan, hanya untuk muncul kembali ketika mereka mengalami kesengsaraan. Kedua sikap ini dapat menyebabkan cacat dan kerusakan moral dalam diri seseorang. Manusia kemungkinan akan merasakan kebingungan eksistensial dan mulai melakukan refleksi kritis terhadap esensi spiritualitas, ketuhanan, dan keagamaan.

Dalam karyanya yang berjudul "Zarathustra," filsuf Jerman Nietzsche menyatakan bahwa "Tuhan Telah Mati" atau "God Is Dead," yang kemudian menjadi populer dan kontroversial. Ungkapan "Tuhan Telah Mati" dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Salah satu interpretasi adalah bahwa manusia modern telah meruntuhkan nilai-nilai spiritual dalam dirinya, bergantung pada realitas dan fakta, bukan pada keyakinan yang bersifat spekulatif dan tidak pasti.

Ketergantungan pada sains juga berperan dalam meruntuhkan moralitas keimanan, dengan jelas menghapus konsep "dosa" dan menggambarkan diri sebagai manusia yang superior. Pernyataan ini sekaligus merupakan kritik Nietzsche terhadap para pendeta pada masa itu yang menganggap manusia sebagai makhluk berdosa. Baginya, menganggap manusia sebagai makhluk berdosa adalah suatu bentuk kebodohan yang tak bisa diampuni jika manusia ingin menjalani hidup dalam berbagai bentuk kesalahan.

Tendensi ini seringkali membuat manusia tanpa sadar menghilangkan konsep ketuhanan dari diri mereka. Di era Pascamodern, sikap hedonistik juga menjadi penyebab timbulnya keraguan dalam keimanan. Manusia menjadi materialistis, hingga meremehkan dimensi rohaniah yang mulai pudar. Benda-benda dikeramatkan sebagai hasil dari materialisme, contohnya adalah uang.

Manusia juga beralih pada nilai-nilai sekuler, menganggap Tuhan tidak berperan dalam perencanaan hidup mereka. Bagi mereka, Tuhan hanya pencipta, bukan penentu atau perencana. Agama dianggap sebagai kumpulan dogma kecil untuk mengendalikan manusia agar patuh pada Tuhan dan institusi. Mereka menjalani hidup sesuai dengan kehendak mereka sendiri, bukan karena kehendak Tuhan atau agama. Manusia mulai menganggap dirinya sebagai penentu arah dan masa depan, memalingkan diri dari Tuhan.

Hilangnya nilai spiritualitas dalam diri seseorang dapat disebabkan oleh obsesi terhadap kepemilikan barang-barang mewah. Masyarakat konsumerisme terjadi ketika nilai-nilai konsumsi menjadi pusat perhatian, seperti yang dijelaskan oleh Baudrillard. Dalam kondisi ini, individu mengalami kehidupan yang tidak otentik dan semu, di mana kehampaan merajalela dalam diri mereka.

Lebih dari itu, konsumerisme dianggap sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan dan validasi status sosial. Individu terjerat dalam lingkaran setan, terus mengejar barang-barang mewah tanpa akhir. Suatu barang dibeli, kemudian muncul barang baru, dan siklus ini berulang tanpa henti. Manusia kehilangan kendali dan menjadi dikendalikan oleh hawa nafsu. Ketidakmampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam diri mereka seringkali menyebabkan kehilangan kendali tersebut.

Untuk memulihkan kepercayaan kepada Tuhan, manusia perlu membangun moralitas keyakinan yang bersumber dari intuisi diri. Menurut pandangan Transendentalisme yang diungkapkan oleh Ralph Waldo Emerson, intuisi dianggap sebagai senjata penting bagi manusia dalam membentuk nilai-nilai spiritualitas di dalam diri mereka.

Untuk mencapai kebenaran sejati, diperlukan penggunaan intuisi sebagai corong utama. Intuisi menjadi kunci dalam menghidupkan kembali dimensi spiritual atau ilahiah di dalam diri manusia, membentuk kembali aspek-aspek moralitas dan etika yang mungkin telah hilang atau terpinggirkan.

Intuisi berperan dalam mengarahkan perenungan, membawa pemahaman bahwa Tuhan hadir sebagai pemberi makna kehidupan, sebagai sumber pencerahan di tengah kegelapan, dan sebagai penenang dalam pertarungan pikiran. Tuhan senantiasa bersama manusia, dan tanpa-Nya, manusia cenderung terjerumus dalam kesesatan dan kekosongan.

Tanpa kehadiran Tuhan, manusia dapat terperosok ke dalam kehampaan jiwa yang labil, merasakan alienasi yang kuat, dan merasa terlantar karena kehilangan pegangan yang dapat diandalkan. Eksistensi Tuhan dan nilai-nilai keagamaan menjadi satu-satunya landasan yang kokoh. Dengan menyadari hal ini, manusia dapat kembali terhubung dan menemukan jalan menuju pencerahan. Munculnya kembali kehadiran Tuhan dapat terwujud ketika manusia menggali dalam diri mereka melalui kontemplasi.

Dalam agama Islam, koneksi dengan Tuhan dapat dicapai melalui pelaksanaan shalat. Shalat dianggap sebagai cara langsung untuk menyerahkan diri dan berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan. Selain itu, menyebutkan 99 nama Allah dan melantunkan shalawat serta pujian juga memiliki peran penting dalam memulihkan aspek religiusitas dan moralitas dalam diri seseorang. Melalui praktik ini, manusia dapat merasakan ketenangan, keamanan, dan kesadaran bahwa Tuhan senantiasa hadir di dekat mereka sepanjang waktu. Eksistensi Tuhan tetap menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya