Menciptakan Ekosistem Literasi

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Menciptakan Ekosistem Literasi 11/06/2020 1135 view Pendidikan www.freepik.com

Membaca merupakan akses primer menuju pengetahuan. Dan, pengetahuan yang mumpuni memiliki korelasi positif dengan kemajuan serta kesejahteraan. Artinya dengan pengetahuan, banyak problematika dalam hidup yang bisa dipecahkan. Muaranya adalah demi peradaban yang lebih baik.

Mengapa kemudian negara-negara seperti Amerika, Finlandia atau Jepang—untuk sekadar memberi contoh—didaulat sebagai negara-negara maju? Percayalah, kemajuan mereka yang berada cukup jauh meninggalkan kita tidak terlepas dari sumber daya manusia berkualitas yang gemar membaca buku. Buku membuat mereka memonopoli ilmu pengetahuan. Lihat saja betapa banyak terobosan-terobosan di berbagai cabang ilmu pengetahuan mereka hasilkan dan bermanfaat bagi dunia.

Negara-negara maju punya ekosistem literasi yang kuat. Nazwa Shihab pernah mengungkap data bahwa masyarakat di Eropa dan Amerika, khususnya anak-anak, mampu membaca 25-27 persen buku dalam kurun waktu satu tahun. Sementara di Jepang, anak-anak bisa membaca buku 15-18 persen per tahunnya. Konon bagi mereka membaca dipandang sebagai kebutuhan sehingga menjadi rutinitas yang lazim dilakukan. Maka jangan heran ketika di ruang-ruang publik mereka sering ditemukan asyik berkutat dengan buku-buku bacaan.

Itulah alasan sederhana mengapa membaca merupakan bagian integral dari literasi. Ironisnya, pencapaian literasi negara kita justru semakin lama semakin memprihatinkan karena terus mengalami keterpurukan. Programme for International Student Assessment (PISA) melalui Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) beberapa waktu lalu memaparkan data hasil survei tahun yang dilakukan pada tahun 2018. Indonesia hanya memperoleh 371 poin. Padahal sebelumnya di tahun 2015, kita masih mampu menorehkan 397 poin. Yang lebih menyedihkan, pencapaian kali ini adalah yang terburuk sepanjang keikutsertaan Indonesia yang dimulai pada tahun 2000.

Faktor Penyebab

Ibarat penyakit, ekosistem literasi kita sudah mengalami komplikasi akut. Selama ini kita sulit untuk mengukuhkan diri sebagai bangsa literat karena beberapa hal.

Pertama, kebiasaan menonton televisi. Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melaporkan paling tidak terdapat 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tapi tidak suka membaca.

Celakanya, banyak tayangan di televisi yang bukan hanya tidak edukatif tapi juga didominasi oleh konten-konten buruk yang rentan menyebabkan anak-anak dan remaja terpapar pergaulan-pergaulan buruk. Sebut saja seperti seks bebas, narkoba, bullying, dan pola hidup hedonisme. Kebiasaan suka menonton ini mungkin memiliki kaitan dengan budaya lisan yang selama ini kita anut. Negara kita kaya akan dongeng dan cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, antar generasi yang satu ke generasi yang lain. Artinya, kita telah sejak lama terbiasa mendapatkan informasi dengan cara pasif (baca: lisan).

Kedua, akses bacaan yang sulit. Akses bacaan yang sulit ditandai dengan belum memadainya jumlah perpustakaan. Fenomena-fenomena seperti ini banyak ditemukan di daerah-daerah. Kalau pun di sekolah-sekolah tersedia perpustakaan, di dalamnya masih terlalu didominasi oleh buku-buku yang berorientasi pada mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Alhasil, anak-anak akan cepat merasa bosan jika berada di perpustakaan sekolah.

Selain itu, harga buku-buku yang berkualitas juga cenderung mencekik leher sebagian besar masyarakat kita. Maka, tanpa bermaksud membela, jangan heran ketika bisnis buku bekas dan bajakan tumbuh subur di Indonesia. Buku-buku yang diterbitkan di Indonesia pun tergolong minim apalagi jika dihubungkan dengan jumlah penduduk.

International Publishers Association (IPA) tahun 2018 melaporkan bahwa Indonesia menerbitkan 18.000 judul buku per tahun atau 72 judul buku untuk satu juta penduduk. Jumlah ini sangat jomplang bila dibandingkan dengan Inggris dan Amerika yang masing-masing menerbitkan 2.875 dan 959 judul buku untuk satu juta penduduk mereka.

Ketiga, kecanduan kronis pada gawai. Gawai saat ini menjadi barang yang begitu digemari hampir semua lapisan umur. Konon, menurut riset Wearesosial Hootsuite pada Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai angka 150 juta atau 56% dari total populasi. Semestinya, kehadiran gawai dan masifnya penetrasi pemakaian internet yang luar biasa itu bisa menjadi fasilitas pendukung untuk meningkatkan literasi.

Ingatkah Anda ketika Presiden Joko Widodo menghadiri peringatan Hari Anak Nasional 2017 di Pekanbaru? Saat itu beliau bertanya soal cita-cita kepada seorang anak. Anak yang bernama Rafia Fadli itu menjawab, “Jadi YouTuber, Pak.” Cita-cita Rafia Fadli tersebut mungkin juga menjadi representasi mimpi berjuta-juta anak lain di Indonesia.

Tidak perlu heran. Sebab menjadi YouTuber membuka peluang besar bagi seseorang untuk bisa menjadi kaya raya. Suatu hal yang jauh lebih sulit dilakukan—untuk tidak menyebut mustahil—ketika melakoni pekerjaan-pekerjaan arus utama.

Saya tidak mengatakan bahwa menjadi YouTuber atau infuencer melalui sosial media merupakan pilihan yang salah. Hanya, saja kebanyakan konten diciptakan lebih berorientasi pada hiburan (entertainment), komersialitas dan sensasi ketimbang upaya-upaya untuk mengasah ketajaman berpikir lewat buku atau kampanya-kampanye literasi.

Keempat, desain kurikulum pendidikan yang belum mendukung. Kurikulum 2013 saat ini yakni memang mulai mengakomodir budaya literasi kita. Hal itu dapat terlihat dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai salah satu unsur pendukung Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Lewat Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, pemerintah mewajibkan sekolah-sekolah untuk meluangkan waktu 15 menit bagi murid-murid untuk membaca buku non pelajaran sebelum pelajaran dimulai. Tujuan ini sebenarnya sangat mulia. Tapi, terus terang, membaca dalam waktu sesingkat itu tidak akan berdampak signifikan pada peningkatan kekritisan berpikir. Kita perlu gerakan-gerakan yang lebih besar dan lebih konsisten untuk membangun budaya literasi yang kuat.

Memberdayakan Keluarga

Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat memiliki peranan vital dalam menumbuhkan budaya literasi. Sebab pendidikan seorang anak sesungguhnya dimulai dari keluarga. Dengan demikian, fondasi budaya membaca pun harus dibangun dari keluarga. Orang tua tidak boleh menyerahkan tanggung jawab literasi sepenuhnya kepada sekolah.

Sejak kecil, anak-anak harus dibuat seakrab mungkin dengan buku. Untuk anak-anak kategori balita, ayah dan ibu bisa secara bergantian membacakan buku-buku cerita sebelum mereka tidur. Tidak hanya bertujuan menumbuhkan minat baca sejak usia dini, membacakan cerita kepada anak-anak punya segudang manfaat.

Susan B. Neuman dalam bukunya yang berjudul A Parent's Guide to Reading With Your Young Child berpendapat bahwa dengan membacakan buku-buku yang kontennya sesuai usia anak, anak-anak akan merasakan manfaat-manfaat seperti bertambahnya perbendaharaan kosakata baru, meningkatnya keterampilan mendengar dan berkomunikasi, mengasah memori, menumbuhkan kreatifitas dan imajinasi serta memperkuat ikatan dengan ayah dan ibu.

Dan orang tua pun harus membaca! Kalau perlu dipilih hari-hari tertentu di mana setiap anggota keluarga, termasuk orang tua, sama-sama melahap buku sesuai porsi usia dan kebutuhan masing-masing secara rutin. Sebab jika orang tua ngotot menyuruh anak rajin membaca sementara mereka tidak menunjukkan teladan untuk itu, ini sama saja dengan seorang ayah yang melarang anaknya merokok tapi ia sendiri perokok berat.

Mendukung Komunitas Literasi

Di beberapa daerah di Indonesia, khususnya yang jarang ditemukan perpustakaan, apalagi toko-toko buku layaknya di kota-kota besar, kita bisa menemukan pegiat-pegiat literasi yang secara sukarela membentuk komunitas membaca. Kehadiran mereka ibarat oasis di tengah padang gurun. Karena mereka, dahaga anak-anak akan buku-buku bacaan dapat terpuaskan.

Menurut saya, relawan-relawan seperti ini adalah pahlawan literasi. Mereka menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita menjadi bangsa literat. Sebab yang paling diperlukan adalah tindakan (actions) ketimbang narasi-narasi yang dibangun soal kepedulian terhadap minat baca tapi tanpa dibarengi tindakan yang nyata. Jika semua pihak peduli terhadap masalah literasi, niscaya bangsa ini akan menjadi bangsa yang inovatif dan bangsa yang mampu berbicara banyak di dunia internasional.

Sebagai penutup izinkan saya mengutip kata-kata bijak dari Joseph Brodsky. "Membakar buku adalah sebuah kejahatan, tetapi ada yang lebih jahat dari membakar buku, yakni tidak membaca buku."

Salam Literasi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya