Juru Bisik dan Ugal-Ugalan Politik

Pekerja Seni
Juru Bisik dan Ugal-Ugalan Politik 16/03/2021 413 view Budaya senibudayaku.com

Berbekal skrip yang detil dan lengkap, seorang juru bisik dalam sebuah panggung drama akan memberi tahu aktor manakala ia melupakan dialog apa yang harus diucapkannya. Sejumlah panggung pertunjukan di Eropa dan Amerika didesain sedemikian rupa sehingga memiliki ruang khusus bagi juru bisik di bibir panggung. Tujuannya, agar sang aktor bisa dengan mudah melihat dan mendengar bisikannya. Sementara penonton tanpa mengetahui hal tersebut hanya akan menyaksikan sang aktor yang berakting cemerlang di atas panggung.

Peran juru bisik sedemikian vital. Bisikannya turut berpengaruh pada kebintangan seorang aktor dan kelancaran sebuah pertunjukan. Meski demikian, ia harus rela bersembunyi jauh dari sorotan lampu dan pujian penonton. Seberapa pun hebatnya juru bisik, ia tidak akan dikenang sebagai bintang.

Tak hanya di panggung drama, juru bisik juga “berbisik” di dunia pewayangan. Dalam pewayangan dikenal istilah punakawan. Mereka adalah rakyat biasa yang bertugas menemani dan membisiki seorang kesatria, yang umumnya seorang pejabat kerajaan, tentang berbagai hal. Di antara para punakawan, Semar adalah yang paling dituakan.

Meski sakti dan weruh sadurung winara alias mampu mengetahui masa depan, Semar tetap paham porsi dan posisi. Ia tak berhasrat untuk menduduki jabatan atau meminta pamrih yang berlebih. Ia paham betul bahwa yang utama dalam suatu tatanan, termasuk dalam tata pemerintahan, adalah harmoni. Dan untuk mencapai itu right man on the right place adalah kunci. Sehebat apa pun Semar, demi sebuah keharmonisan, ia rela dan puas walaupun hanya berperan sebagai juru bisik.

Tak hanya dalam panggung drama dan pewayangan, juru bisik eksis di dunia politik. Agar lancar dalam bertugas, para politisi, termasuk penguasa, hampir pasti dikelilingi sejumlah juru bisik. Lain halnya dengan juru bisik dalam panggung drama dan pewayangan yang rendah hati dan rela sembunyi, juru bisik dalam panggung politik justru sering main intrik.

Dalam tradisi politik di Indonesia, para juru bisik penguasa umumnya adalah mereka yang ketika masa pemilu tergabung dalam tim kampanye atau relawan sang kandidat. Setelah sukses di pemilu, mereka akan salin rupa menjadi penasehat, staf ahli, dewan pertimbangan, dan lain sebagainya. Adakalanya mereka juga berwujud asisten, ajudan, sekretaris, komisaris, dan lain-lain. Apa pun istilahnya, juru bisik dalam panggung politik adalah mereka berada di lingkaran terdekat dengan sang politisi.
.
Dalam hal ini, juru bisik berfungsi lebih seperti tempat untuk meminta jatah jabatan daripada sarana pengabdian. Dan pada kenyataannya, alih-alih “berbisik” dan “sembunyi”, juru bisik politik sering kali sengaja mencari panggung dan bikin berisik.

Beberapa waktu lalu, seorang juru bisik berwujud staf khusus jadi perbincangan. Ia dicokok lembaga anti rasuah bersama tuannya lantaran kasus korupsi. Belakangan diketahui, ternyata juru bisik yang berasal dari partai politik pemenang pemilu itu menjadi ketua tim yang mengurusi hal ihwal ekspor benur. Ia bahkan berkuasa menentukan siapa-siapa saja yang boleh mengekspor.

Sebelum kasus itu mencuat, juru bisik penguasa dari kalangan milenial lebih dulu membuat gaduh. Dari permasalahan aplikasi kursus daring yang diduga sarat konflik kepentingan sampai “surat perintah” salah kaprah yang sempat menyedot perhatian banyak pihak terkait sepak terjang anak-anak muda itu di istana.

Yang teranyar dan boleh jadi paling membuat gempar, juaragannya juru bisik penguasa didapuk sebagai ketua umum salah satu partai politik melalui Kongres Luar Biasa (KLB). Tidak ada yang mengherankan dengan terpilihnya seseorang menjadi ketua umum partai. Yang tak disangka, terpilihnya juru bisik istana itu dituding sebagai pengambilalihan kepimpinan partai secara inkonstitusional.

Lebih jauh, negara disebut-sebut terlibat dalam kudeta ini. Sejumlah pemberitaan mengutip pernyataan salah seorang petinggi partai tersebut yang menyebut bahwa kudeta ini telah mendapat izin “Pak Lurah”.

Sebagaimana prediksi para pengamat dan sejumlah fakta sejarah tentang dualisme di tubuh partai politik di Indonesia, pada akhirnya sengketa ini akan berujung pada ketuk palu hakim di pengadilan. Yang menang akan diakui negara sebagai pengurus partai yang sah dan legal sementara yang kalah akan menyingkir dengan sendirinya atau membuat partai baru.

Demikian juru bisik politik di zaman ini. Alih-alih bersembunyi di side wing panggung pertunjukan, mereka malah terang-terangan berdiri di atasnya sebagai aktor utama. Alih-alih nyumput buni di nu caang, nembrak bari teu katémbong (bersembunyi di tempat terang, jelas ada namun tak terlihat) seperti Semar, mereka malah sengaja menarik perhatian orang demi sebuah pencitraaan. Suatu jalan awal meraih ambisi kekuasaan.

Tak seperti dalam pewayangan dan panggung drama, di alam demokrasi, kemungkinan seorang juru bisik menjadi aktor utama terbuka lebar. Rakyat biasa sangat mungkin naik kasta menjadi kesatria atau bahkan raja. Kendati begitu, meraih kekuasaan dengan cara ugal-ugalan tetap tidak bisa dibenarkan.

Atau mungkin benar apa yang dikatakan W.S. Rendra dalam salah satu puisinya, Maskumambang: “Karena politik tidak punya kepala. Tidak punya telinga. Tidak punya hati. Politik hanya mengenal kalah dan menang. Kawan dan lawan. Peradaban yang dangkal."

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya