Ekosistem dan Keberlangsungan Pangan

Mahasiswa
Ekosistem dan Keberlangsungan Pangan 11/07/2021 49 view Ekonomi Dokumen Pribadi

Baru-baru ini kita digemparkan dengan video yang cukup viral di Kabupaten Lampung Tengah yakni serangan tikus yang menyerang tanaman jagung. Tidak tanggung-tanggung dalam semalam bisa menghabiskan jagung lebih dari satu hektar sehingga menimbulkan kerugian besar. Serangan tikus yang sangat dahsyat menyita banyak perhatian publik warganet. Video tersebut dibagikan keberbagai grup yang menimbulkan ciutan warganet sebagai tanggapan atas video itu.

Jika kita amati, serangan tikus besar-besaran adalah dampak dari rusaknya ekosistem disekitar kita. Dampak putusnya rantai makanan sehingga ledakan pertumbuhan tikus begitu dahsyat berdampak pada keberlangsunagn pangan.

Ekosistem beperan penting dalam menjaga keberlangsungan mahluk hidup. Tentu kita semua pernah belajar siklus rantai makanan sejak sekolah dasar di mana terjadi hubungan timbal balik satu sama lain antar makhluk hiudp. Setidaknya itu masih terbayang dalam benak kita.

Ekosistem hadir di tengah-tengah kita sebagai penyeimbang. Namun, seiring berkembangnya zaman, ekosistem menunjukan keadaan tidak baik-baik saja. Maraknya perburuan liar terhadap predator utama tikus menjadi salah satu pemicu besar pertumbuhan tikus yang tidak terkendali.

Dampak kerusakan ekosistem akibat ulah rakus oknum yang mengkomersilkan hasil tangkapan ini merusak rantai makanan yang dampaknya akan merugikan alam dan manusia. Hasil tanam yang seharusnya mampu menompang kebutuhan jangka menengah kini menjadi terputus akibat kurang maksimalnya hasil panen berikutnya.

Ledakan hama yang sulit terkendali oleh petani mengakibatkan petani menggunakan cara-cara yang tidak baik. Hal ini justru akan membahayakan petani itu sendiri. Misalnya, dengan memasang sengat listrik di sepanjang area persawahan.

Dampak rusaknya tanaman menjadikan gocangan ekonomi bagi para petani. Di sisi lain, jumlah pangan dan manusia harus seimbang agar tidak terus-menerus ketergantungan pada komoditas impor. Kondisi seperti ini tidak bisa dianggap sepele.

Sebagai contoh, beras. Beras adalah bahan pokok pangan di Indonesia yang masih sulit digantikan oleh bahan pokok lain. Tanaman padi merupakan fokus utama pemerintah untuk swasembada pangan. Seharusnya, permasalahan ini menjadi perhatian serius.

Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk melakukan pengendalain hama tikus yang biasa dilakukan oleh petani. Pertama, dengan membersihakan lokasi yang biasa menjadi sarang tikus. Hal ini cukup efektif. Dengan memeberiskan tempat yang biasa menjadi sarang tikus, setidaknya tikus tersebut akan pergi.

Kedua, bisa dengan cara gropoyakan. Yaitu cara di mana mencari tikus dilakukan oleh masa banyak dengan cara menangkapnya langsung kemudian memusnahkannya. Setidaknya dengan cara ini populasi tikus akan berkurang.

Ketiga, bisa dengan memberikan umpan yang telah diberi racun. Cara ini paling umum yang sering kita temui di lapangan.

Keempat, dengan cara memasang perangkap. Targetnya adalah tikus dewasa maupun tikus yang masih kecil.

Kelima, bisa menggunakan teknologi terbaru dengan menggunakan suara ultra sonic. Teknologi yang baru-baru ini dikembangkan. Cara kerjanya adalah dengan cara mengusir tikus dari area persawahan menggunakan gelombang suara ultra sonic.

Hubungan keseimbangan ekosistem dan pangan tidak bisa dipisahkan adanya. Pangan tersedia karena adanya kegiatan menana. Jika dalam kegiatan menanam saja masih abai terhadap permasalahan ekosistem, tentunya sama saja dengan menanam bom waktu.

Kebutuhan pangan dengan manusia harus seimbang. Menjaganya agar tetap ada harus dilakukan dengan cepat. Melawan kerusakan ekosistem adalah cara terbaik menjaga keberlangsungan pangan.

Di saat pandemi seperti ini, terpenuhinya kebutuhan pangan menjadi prioritas sebagai upaya menguatkan daya tahan tubuh. Jika terjadi kekeruangan kebutuhan pangan, maka akan menjadi pemicu melamahnya sistem imun.

Pemerintah sudah berupaya memenuhi stok kebutuhan pangan melalui impor karena menganggap kebutuhan pangan dalam negeri belum bisa mencukupi. Padahal, dengan memaksimalkan produksi pangan dalam negeri, salah satunya dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem, kebutuhan pangan dalam negeri bisa teratasi. Sehingga, harga komoditas pangan ketika penen bisa stabil.

Sudah selayaknya kita menjaga ekosistem dimulai sejak dini. Seperti halnya membiarkan hewan-hewan penjaga ekosistem untuk tetap ada kecuali yang mengancam keselamatan jiwa. Dampak besar yang nyata terjadi adalah kegagalan panen yang tentunya akan mempengaruhi daya tahan pangan dan daya beli betani pada waktu yang akan datang. Dengan tetap optimis bahwa kita mampu menjaga pangan dengan dengan terus menanam dan tidak abai terhadap permasalahan ekosistem, kita sudah turut serta menjadi invidu yang sangat peduli.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya