Menulis: Melestarikan Isi Kepala

Mahasiswa.
Menulis: Melestarikan Isi Kepala 08/01/2020 1277 view Budaya Dewaweb


“Ah....kami lebih suka berbuat sesuatu secara spontan dan realistis, ketimbang bergulat dengan pemikiran ideal di awang-awang untuk menulis, itu hanya membuang-buang waktu saja!” demikian diucapkan sekelompok orang pada suatu kesempatan.

Pernyataan tersebut selalu saja mengganggu keutuhan konsentrasi saya pada saat-saat hening. Pada satu pihak pernyataan tersebut memojokkan keberadaan para penulis yang mendengarnya, seolah-olah individu yang melakukan kegiatan menulis sedang menggarami air laut. Di lain pihak pernyataan tersebut menggambarkan sikap monopoli sekelompok orang yang dibuat untuk memenangkan pandangan dan pendapat sendiri – yang kebenarannya juga masih dipertanyakan.

Hal yang perlu dipikirkan lebih jauh adalah bahwa menulis merupakan sesuatu yang positif dan realistis. Menulis hanya akan menjadi negatif, ketika orang menggunakan kebebasannya dalam menulis untuk menyebarkan hoaks, memfitnah dan hal negatif lainnya yang tidak layak dipublikasikan.

Menulis itu berkaitan dengan realita, daya nalar selalu dipacu saat bertemu realitas – entah itu realitas yang tidak sesuai dengan ekspektasi ataupun sekedar mengafirmasi realitas yang sesuai. Intinya bahwa realitas hadir sebagai api pemicu yang membuat daya nalar bernyala, lalu dituangkan dalam bentuk tulisan yang layak dikonsumsi.

Substansi dari manusia adalah berpikir, kemampuan berpikir yang dimiliki manusia menjadikannya lebih istimewa dibandingkan makhluk hidup lain di muka bumi. Situasi selalu saja menawarkan realitas yang memengaruhi sistem berpikir dan isi pemikiran individu, sehingga berpikir itu semacam pemberi warna dan rasa yang beragam –pada setiap momen– bagi hidup setiap manusia.

Namun, apakah otak manusia sanggup mengingat semua gagasan cemerlang yang pernah dihasilkan oleh manusia secara utuh? Apakah individu dapat mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya secara utuh sepanjang waktu? Apakah orang lain dapat mengingat isi pemikirannya secara utuh sepanjang waktu?

Jawabannya adalah, “tentu saja tidak!” Pertanyaan-pertanyaan tersebut sejenak menggugat kedangkalan berpikir eksklusif yang nampak pada pernyataan awal tadi. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia tetap membutuhkan media untuk menulis dan mengabadikan hasil pemikirannya, karena itulah cara paling ampuh untuk melestarikan gagasan yang pernah lahir dalam kepala individu.

Manusia tidak cukup mampu mengingat isi dan alur pemikirannya secara sistematis sebagaimana pernah dihasilkannya. Pada satu titik tertentu manusia-manusia akan mati dan melahirkan generasi penerusnya.

Sekarang, bagaimana generasi yang akan datang dapat memahami gagasan para pendahulunya secara utuh? Lagi-lagi menulis menjadi penting dalam usaha melestarikan isi kepala dari setiap individu, sehingga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi generasi yang akan datang.

Adalah sebuah kepastian bahwa generasi yang akan datang tidak memulai pemikirannya dari nol seperti para pendahulunya – lantaran hasil pemikiran cemerlang para pendahulunya masih ada dalam dokumentasi yang dapat dipelajari.

Berlandaskan pada hasil pemikiran para pendahulu mereka akan terus bergerak lebih maju, karena mereka melanjutkan sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Tugas mereka adalah menyempurnakan yang sudah ada dan terus melestarikannya melalui menulis. Menulis itu baik untuk terus melestarikan isi kepala.

Revolusi Paradigma Berpikir

Saya selalu berpikir tentang adanya sesuatu yang unik dalam aktivitas menulis, menulis itu seumpama seorang photographer yang suka melancong. Ia akan pergi ke berbagai tempat yang menurutnya menarik, kemudian selalu mengangkat kameranya untuk memotret segala sesuatu yang menarik interesnya.

Tujuan dari mengabadikan pemandangan yang indah tersebut adalah untuk dinikmati kembali suatu waktu ketika sang photographer tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya lagi – atau bahkan untuk dinikmati oleh manusia generasi berikutnya. Pemotretnya mungkin saja sudah meninggal, tetapi hasil potretannya masih utuh, bisa dinikmati dan dipelajari. Menulis juga demikian.

Individu yang menganggap menulis sebagai sebuah aktivitas tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu saja perlu membangun sebuah paradigma berpikir baru, karena prejudice demikian akan menyesatkan keutuhan berpikir individu – apalagi orang-orang yang memegang teguh sikap demikian terus melakukan propaganda kepada pribadi-pribadi lain yang tidak memiliki sikap skeptis yang mumpuni dalam dirinya, pasti akan mudah tertipu dan menerimanya begitu saja.

Sebaiknya sebuah argumen itu dilontarkan berdasarkan suatu pengetahuan yang utuh dan bukan setengah-setengah, karena berprasangka buruk mengenai sesuatu demi memenangkan argumen sendiri itu sangat tidak bijak.

Satu hal yang paling penting adalah, adanya kesadaran dari individu untuk menganggap tulisan itu penting dan tidak menyepelekannya. Sikap dan tanggapan positif individu tehadap tulisan dapat mendorong minat individu untuk membaca tulisan yang dihasilkan oleh orang lain.

Tertarik membaca tulisan orang secara terus menerus akan memacu individu melaksanakan aktivitas menulis itu sendiri. Pasti akan ada kepuasan tersendiri dalam diri individu saat menyaksikan keberhasilannya dalam mengabadikan gagasan yang dihasilkan.

Iindividu juga harus memahami bahwa berani berpikir berarti berani untuk membuka sebuah ruang diskursus, sehingga ketajaman berargumentasi bisa diuji di dalamnya.

Cara menguji ide yang paling ideal adalah dengan menulis, karena orang yang tidak pernah menjumpai anda secara fisik sekalipun dapat menjumpai anda secara intelektual melalui tulisan yang anda hasilkan.

Dalam hal ini tulisan yang anda buat telah berdiri di ruang publik untuk mewakili diri anda sendiri, pada saat yang sama daya nalar anak bangsa akan digiring untuk mengkritisi tulisan anda.

Ada saat-saat keemasan individu dalam berpikir dan terjadi pergulatan intelektual yang hebat di dalamnya. Membiarkan kualitas berpikir yang ideal berlalu begitu saja like water under the bridge sama dengan membuang harta paling berharga yang pernah kita miliki.

Adalah sangat baik dan bijak jika setiap individu menjadikan kecemerlangan berpikirnya abadi. Keabadian isi kepala dapat dicapai melalui kegiatan menulis.

Setiap kali individu menulis, berarti ada perjuangan hebat dalam mengorganisir keseluruhan isi kepala menjadi suatu argumen yang utuh. Originalitas argumen itu akan tetap utuh sampai kapanpun dan akan selalu berguna sebagai bahan pembelajaran.

Pasti akan ada begitu banyak kritik dan saran yang diberikan oleh para konsumen – nah itulah saat yang paling ideal, saat di mana sang penulis belajar untuk menyempurnakan isi tulisannya – yang adalah isi kepalanya. Karena objektifitas sang penulis dalam menyampaikan pendapatnya pasti dipengaruhi oleh keberadaan pengetahuan individualnya yang imperfect, sehingga keberadaan ruang publik yang disuguhkan oleh media berguna untuk meminimalisir “ego” pribadi dalam berasumsi sekaligus berfungsi untuk menjernihkan suatu argumentasi.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya