Catatan Redaksi: Menyorot Covidiot

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Menyorot Covidiot 13/12/2020 336 view Catatan Redaksi Supriyadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Supriyadi membahas mengenai para Covidiot dan bagaimana cara menyikapinya. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

Beberapa staf di kantor kami, yang merupakan institusi pemerintah, sangat sulit mentaati protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19. Padahal jelas ada aturan tertulis bahwa setiap karyawan di kantor kami, atau bahkan tamu harus mentaati protokol kesehatan, termasuk di dalamnya memakai masker, mencuci tangan dan juga menjaga jarak. 

Alibi mereka yang sangat sulit atau dapat dibilang bandel untuk mentaati protokol kesehatan adalah tidak percaya adanya Covid-19, mereka menganggap bahwa Covid-19 adalah konspirasi, Covid-19 adalah penyakit yang mengada-ada, bahkan ada juga yang berpendapat bahwa penyakit ini sebetulnya tak ada dan jika anda terkena flu lalu diperiksa dokter, maka penyakit anda itu akan dikatakan bukan penyakit flu tapi terkena virus Covid-19. Begitu kira-kira alibi mereka yang tak percaya pada Covid-19. 

Bukan hanya beberapa staf di kantor kami, seorang anak kecil tetangga saya yang kira-kira berumur sepuluh tahunan, pernah bertanya kepada saya, mengapa bapak memakai masker? lalu saya jawab bahwa saya memaki masker untuk mencegah dan melindungi saya dan anda terhadap bahaya penyakit Corona. Anak kecil tersebut bilang balik kepada saya, kata bapak dan ibu saya Corona itu tidak ada. Sungguh informasi yang menyedihkan dan patut disayangkan.

Pun demikian, ketika saya naik travel menuju ke luar kota untuk sebuah acara, sopir dan beberapa penumpang yang lainnya tidak menggunakan masker. Dalam beberapa obrolan mereka yang sempat saya dengar mereka tidak percaya pada Covid-19. Mereka merasa kebal terhadap virus corona tersebut, virus corona tidak akan menyerang mereka. 

Beberapa kejadian di atas, menunjukkan bahwa Covidiot ada di mana-mana, di kantor, di pasar tradisional, di warung-warung kopi, di perjalanan, di tempat wisata dan mungkin juga ada di sekitar anda saat ini. Untuk itu kita perlu tetap waspada. 

Covidiot memang belum merupakan bahasa baku dalam khasanah bahasa Indonesia kita saat ini, namun secara umum covidiot adalah julukan bagi orang-orang yang bebal dan egois di tengah pendemi Covid-19 yang sedang melanda.

Covidiot adalah orang-orang yang bandel, orang-orang yang tidak percaya dengan adanya covid-19, mereka juga berpikir bahwa mereka bisa kebal terhadap penyakit ini, jikapun terkena mungkin mereka hanya menjadi Orang Tanpa Gejala ()TG) atau hanya terkena penyakit seperti flu ringan sehingga bisa sembuh dengan sendirinya. 

Orang-orang covidiot inilah sebetulnya menurut penulis adalah orang-orang yang membahayakan terhadap penyebaran virus corona yang semakin masif dengan jumlah yang terpapar semakin hari semakin meningkat. 

Betapa tidak, di saat orang-orang begitu patuh terhadap protokol kesehatan untuk mencegah dan menghindari Covid-19 ini, para covidiot justru membuat atau mengadakan kegiatan tanpa mentaati protokol kesehatan. Mereka masih suka berkerumun, mengadakan keramaian, mengadakan pesta, kumpul-kumpul tanpa memeperhatikan protokol kesehatan. Tentu hal ini membahayakan terhadap pencegahan dan penularan Covid-19 di negeri ini yang belum juga menunjukkan angka-angka mereda.

Ketika acara kumpul-kumpul, berkerumun, mengadakan keramaian, pesta dan sejenisnya kemudian diingatkan oleh petugas atau oleh masyarakat di lingkungannya sendiri karena tidak mentaati protokol kesehatan, mereka justru membantah dan beradu argumen. Mereka seolah ingin menang sendiri, egois dan tidak memperhatikan keselamatan yang lainnya.

Adanya covidiot ini jelas menghambat upaya kita bersama dalam memerangi Covid-19. Covidiot harus dilawan. Jika memang mereka belum paham mengenai seluk-beluk Covid-19 maka perlu dilakukan pembinaan, namun jika memang sudah paham dan sengaja melanggar aturan perlu tindakan tegas dan terukur agar mereka tidak melanggar protokol kesehatan lagi. Upaya ini tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar untuk mencegah menyebarnya virus corona. Melindungi publik dan keselamatan kita bersama dari bahayanya virus corona. 

Memerangi Covid-19 ini memang diperlukan pemahaman yang sama. Kita harus memiliki satu pemahaman bahwa penyakit Covid-19 ini benar-benar ada dan mudah menyebar. Untuk itu kita harus mencegah penyebarannya dengan mentaati protokol kesehatan di manapun berada. Kita harus berprinsip bahwa semua orang adalah Orang Tanpa Gejala (OTG). Dengan itu kita akan menjadi disiplin mentaatii protokol kesehatan. 

Kepada para Covidiot marilah kita sama-sama mentaati protokol kesehatan, agar pandemi ini segera berlalu, sehingga akivitas bisa kembali normal kembali. Anak-anak bisa sekolah kembali, roda perekonomian bisa berputar kembali sehingga kita pun bisa kumpul-kumpul, berkerumun, pesta dan membuat acara-acara kemeriahan yang lainnya. Bersama kita bisa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya