Ciptakan Rasa Nyaman untuk Kenormalan Baru

Ciptakan Rasa Nyaman untuk Kenormalan Baru 10/06/2021 360 view Lainnya teknorex.com

Suatu sore, saya sedang ngopi bersama Kak Butet, teman sekaligus senior.

Ting…
Pemberitahuan masuknya pesan baru di gawainya menghentikan obrolan kami.

“Bentar ya, dari Pak Bos..” ucapnya singkat.

Saya paham. Dia meraih tasnya dan mengeluarkan laptop. Agar lebih bebas berdiskusi sambil membuka file, dia melakukan panggilan kemudian mengaktifkan pengeras suara.

Terdengar jelas suara beliau yang dia panggil Pak Bos tadi.

“Butet, tadi Pak Hasim nanya, kenapa ekonomi kita saat ini masih belum bertumbuh? Apa yang harus mereka lakukan katanya… ”

Deg…
Saya yang turut mendengar diskusi mereka turut mengernyitkan kening. Berat sekali topiknya. Sambil melirik Kak Butet yang tetap terlihat tenang, saya jadi tertarik untuk menguping. Untuk sesaat, Kak Butet terlihat merenung, tangannya lincah melakukan klik-klik di laptop. Dia melihat deretan angka-angka di layar dan mulai berbicara.

“Pertama-tama, saya sampaikan data-data yang ada ya Pak. Fakta bahwa kondisi pada Triwulan satu, Januari hingga Maret 2021, Sumatera Utara memang masih mengalami kontraksi. Ekonomi Sumatera Utara Kontraksi 1,85 Persen menjadi highlight dari rilis BPS di awal Mei lalu. Itu adalah pernyataan ekonomi yang tidak bertumbuh. Alih-alih mengatakan pertumbuhan ekonomi yang negatif.” ungkap Kak Butet.

Saya mengangguk-angguk. Iya, benar. Barangkali kalangan awam tidak sepenuhnya familiar dengan istilah tersebut. Saya jadi semakin menaruh minat atas pembicaraan mereka.

“Dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha, sumber kontraksi utama di triwulan satu ini adalah dari kategori Transportasi dan Pergudangan sebesar -0,88 persen, kategori Konstruksi sebesar -0,38 persen dan kategori Perdagangan sebesar -0,38 persen, sedangkan kategori-kategori lainnya menyumbang -0,21 persen terhadap terjadinya kontraksi triwulan satu yang sebesar -1,85 persen. Itu adalah kategori-kategori yang rawan terdampak langsung akibat dari pandemi, Pak. Jadi wajar jika tidak mudah untuk kembali bangkit setelah jatuh sangat dalam di awal resesi kemarin. Orang tidak bepergian, pasar sepi karena batasan untuk keluar rumah, dan sebagainya.” Tampak Kak Butet benar-benar yakin dengan pernyataannya.

Saya yang mendengar, meski tidak terlibat dalam diskusi mereka, turut mengiyakan dalam hati. Iya juga. Kak Butet kembali melakukan klik-klik di laptopnya sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Sedangkan dari sisi PDRB, menurut komponen Pengeluarannya Pak, sumber kontraksi utama adalah dari komponen Konsumsi Rumah Tangga sebesar -2,50 persen, kemudian komponen investasi fisik atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar -1,12 persen dan komponen Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar -0,06 persen.”

“Komponen-komponen tersebut juga merupakan pengeluaran yang akan dikurangi pada saat masyarakat mengalami kemunduran ekonomi atau resesi. Masyarakat akan lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan pokok kan Pak? Konsumsi rumah tangga sendiri mengalami penurunan karena banyak hal yang mereka tidak bisa lakukan saat pandemi ini. Mereka yang biasanya piknik hingga bepergian dengan pesawat, saat ini juga tidak bisa dilakukan. Biasanya melakukan pengecatan rumah menjelang lebaran karena mau kedatangan tamu, saat ini juga bisa jadi tidak dilakukan karena toh tidak akan ada tamu yang datang.”

Ada perasaan sedih tersirat diraut wajah Kak Butet saat mengungkapkan bagaimana kondisi masyarakat saat ini menurut data yang dia pelototi. Namun kemudian dia kembali tampak bersemangat.

“Menurut saya ya Pak, untuk dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi, satu-satunya cara adalah dengan menghidupkan kembali perekonomian. Sebenarnya, pada saat ini, yang perlu adalah meyakinkan masyarakat untuk tetap merasa "nyaman" dengan situasi dan kondisi yang ada. Sudah setahun lebih loh Pak, kita dihadapkan dengan pandemi.”

“Ibarat kedatangan tamu tak diundang ke rumah, yang nekat untuk numpang sementara di rumah kita, mau tidak mau ya kita yang harus beradaptasi kan Pak? Meski berada di rumah kita sendiri. Tidak mungkin kita mengabaikan keberadaannya atau bahkan tidak mengakuinya. Mungkin pada akhirnya ya kita yang harus mengubah kebiasaan kita dengan adanya keberadaannya Pak.”

Wah, ini perumpamaan yang tepat menurut saya. Tamu tak diundang yang memaksa numpang. Terdengar mirip dengan pandemi yang memaksa mampir dan tidak pergi-pergi. Saya semakin serius menguping diskusi mereka.

“Prokes standar harus tetap dilakukan, dijaga dan dikawal ketat pelaksanaannya sampai semuanya benar-benar taat Pak. Masyarakat harus sampai pada taraf yakin, berani dan nyaman untuk beraktivitas keluar rumah. Pembukaan kembali tempat-tempat belanja, tempat-tempat wisata dan lain-lain akan meningkatkan konsumen masyarakat, dalam hal ini PKRT. Investasi fisik, pembangunan infrastruktur, konstruksi dan lain-lain harus kembali digenjot. Terutama mungkin dari sisi pemerintah yang memiliki dana. Transportasi untuk publik akan meningkat seiring meningkatnya permintaan dari masyarakat. Pergudangan untuk kalangan pengusaha, tempat penyimpanan hasil produksi, tentunya akan meningkat pada saat ada supply hasil produksi akibat ada demand dari konsumen. Pemerintah harus "aware" akan kebutuhan rakyatnya, Pak.”sahutnya. Ada sedikit penekanan yang menggebu saat Kak Butet mengungkapkan ini.

“Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi kepada kebijakan yang diambil dan konsistensi pelaksanaan di lapangan. Meski kondisi pandemi belum berlalu, maka pelan-pelan situasi akan mengarah menuju "kenormalan yang baru". Saya meyakini hal itu Pak. “ Ada optimisme tersirat dari statement Kak Butet yang terakhir.

“Loh Tet, kan memang tidak ada penutupan, selama ini buka terus. Bahkan sebagian masyarakat Sumatera Utara menganggap corona ini tidak ada loh Tet, tidak menggunakan masker, banyak tuh di jalan yang kita lihat begitu.” Suara dari seberang terdengar ragu akan penjelasan yang Kak Butet berikan.

“Bagaimana orang bisa mengatakan corona tidak nyata ya Pak? Barangkali mereka tidak mengalami saat keluarga, saudara, atau tetangga yang bergelimpangan di rumah sakit dan bahkan harus diantar ke Simalingkar B.” seru Kak Butet. Terlihat emosinya saat mengatakan itu.

Saya tahu benar, Simalingkar B adalah lokasi pemakaman umum jenazah yang terkonfirmasi meninggal dikarenakan Covid-19 di kota Medan. Terdiam sebentar tampak seperti menenangkan diri, Kak Butet menyesap kopinya sebelum melanjutkan argumennya.

“Memang iya Pak. Mall memang tidak tutup, sudah mulai dibuka tepatnya. Di awal pandemi dulu sempat tutup sementara ya Pak. Saat ini sudah kembali dibuka. Tapi, kita yang belum datang ke tempat yang berpotensi ada keramaian. Ya atau tidak Pak? Saya sendiri tidak pernah nge-mall bersama keluarga sejak ditetapkan sebagai pandemi awal tahun lalu.”

“Pengeluaran rumah tangga akan meningkat pada saat mereka keluar rumah.” Lanjut Kak Butet. Masuk akal. Meski saat ini tetap berada di rumah juga bisa mengurangi saldo rekening, dengan belanja daring. Tapi dengan keluar rumah, pasti pengeluaran semakin bertambah. Minimal menambah pengeluaran bensin dan parkir.

“Saat awal pandemi, mungkin kebijakan pemerintah adalah stay at home. Tapi sekarang, saat 15 bulan lebih sudah hidup bersama pandemi, mestinya kita sudah sampai di tahap bisa beradaptasi Pak. Adaptasi ya, bukan mengingkari. Jika kita masih belum bisa adaptasi, berati ada yang salah. Kemungkinan terbesarnya ya masyarakat masih belum percaya situasi di luar rumah.” So Simple.

“Belum lagi munculnya berbagai pemberitaan negatif di Sumatera Utara yang berkaitan dengan Covid-19. Penggunaan alat PCR bekas pakai hingga oknum yang melaksanakan vaksinasi illegal. Bisa dibilang, menurut saya, itu semakin menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat akan keseriusan pemerintah dalam upaya menangani persoalan pandemi ini, Pak.”

“Pemerintah tidak bisa sendiri, tapi masyarakat juga butuh untuk diyakinkan Pak. Semua pihak harus benar-benar serius dan bersungguh-sungguh, Pak”. Kak Butet kembali bersuara. Sebagaimana Kak Butet yang terdiam, Saya juga menunggu respon dari Pak Bos di seberang.

“Iya Tet. Kamu benar. Semua pihak harus mengerjakan PRnya. Sesuai bagian dan peranannya. Oke Tet, makasih ya. Selamat berakhir pekan”.
Singkat, namun tersirat kepuasan dari pernyataan terakhir Pak Bosnya Kak Butet.

Saya jadi ikut lega. Sebagian suara hati Saya turut terungkap dalam pernyataan dan analisa Kak Butet. Pun juga, kami bisa melanjutkan obrolan kami. Kami memilih untuk tidak membahas hal itu lagi. Tapi Saya yakin, kami sama-sama berdoa dalam hati, agar semoga segalanya segera mengarah pada kondisi yang semakin membaik.

Bukan hanya di Medan, atau Sumatera Utara, tapi Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya