Hentikan Glorifikasi Pelaku Kekerasan Seksual Anak

ASN KEMENKUMHAM
Hentikan Glorifikasi Pelaku Kekerasan Seksual Anak 22/09/2021 62 view Hukum haibunda.com

Perlindungan anak telah menjadi komitmen besar negara. Dalam UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak secara tegas bahwa perlindungan anak merupakan kewajiban semua pihak, baik negara, pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat termasuk media, orangtua dan keluarga.

Beberapa hari terakhir pemebebasan SJ tengah ramai diperbincangkan. Pasalnya, SJ yang bebas pada 2 September 2021 yang merupakan mantan narapidana kasus pencabulan remaja dan suap panitera, disambut meriah bak pahlawan saat keluar dari Lapas Cipinang. Penyambutan yang dinilai berlebihan tak ayal menuai kontroversi dan menyita perhatian masyarakat.

Tak sampai di situ saja, beberapa stasiun TV masih mengundang SJ ke acara reality show. Hal ini membuat beberapa publik figur ikut bersuara dan menyampaikan kritikannya pada stasiun TV terkait hal tersebut yang dianggap tidak menghormati korban. Pro dan kontra pun terjadi. Ada yang masih membela tersangka, namun banyak yang menentangnya untuk kembali ke dunia entertainment hingga muncul petisi boikot terhadap SJ.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, glorifikasi adalah proses, cara, perbuatan meluhurkan, dan memuliakan. Glorifikasi sendiri merupakan serapan dari kata bahasa Inggris, glorification, yang mana artinya adalah akasi melebih-lebihkan sesuatu sehingga terkesan luar biasa dan sempurna.

Kekerasan seksual anak adalah segala kegiatan yang terdiri dari aktivitas seksual yang dilakukan secara paksa oleh orang dewasa pada anak atau oleh anak kepada anak lainnya. Kekerasasan seksual meliputi penggunaaan atau pelibatan anak secara komersial dalam kegiatan seksual, bujukan ajakan atau paksaan terhadap anak untuk terlibat dalam kegiatan seksual, pelibatan anak dalam media audio visual dan pelacuran anak (UNICEF, 2014)

Pada kasus kekerasan seksual anak hampir dapat dipastikan pasti mengandung unsur pemaksaan atau tekanan baik fisik maupuan psikis di dalamnya. Karena unsur pemaksaan itulah tentu akan menimbulkan beberapa dampak terhadap korbannya.

Secara garis besar, dampak tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu dampak fisik, dampak psikologis, dan dampak sosial. Pertama, dampak fisik akibat kekerasan seksual dapat menimbulkan beberapa akibat misalnya adanya memar, luka, bahkan robek pada organ seksual dan rasa sakit lainnya secara jasmaninya. Sedangkan jika kekerasan seksual ini terjadi kepada perempuan, dampak yang paling berat yaitu kehamilan dan juga kemungkinan dampak tertular penyakit menular seksual juga dapat terjadi.

Kedua adalah dampak psikologi. Selain dampak secara fisik atau jasmani ternyata kekerasan seksual ini juga dapat menimbulkan dampak terhdap psikis atau mental anak itu sendiri. Beberapa dampak psikologi antara lain berupa kecurigaan dan ketakutan terhadap orang lain, serta ketakutan pada tempat atau suasana tertentu. Tentu dengan peristiwa yang dialami oleh korban kekerasan seksual akan menimbulkan rasa trauma yang melekat pada dirinya sehingga menimbulkan perasaan ketakutan tersendiri.

Ketiga adalah dampak sosial yang dialami korban. Ternyata dampak kekerasan seksual ini tidak hanya berakibat terhadap internal anak sendiri. Tetapi juga berakibat terhadap kehidupan eksternal anak, interaksinya dengan dunia luar. Terutama akibat stigma atau diskriminasi dari orang lain mengakibatkan korban ingin mengasingkan diri dari pergaulan. Perasaan ini timbul akibat adanya harga diri yang rendah karena ia menjadi korban kekerasan seksual, sehingga merasa tidak berharga, tidak pantas dan juga merasa tidak layak untuk bergaul bersama teman-temannya

Jadi, dengan fenomena glorifikasi terhadap pelaku kekerasan seksual ini akan menimbulkan rasa “pemakluman” atas kekerasan seksual terhadap korban yang dilakukannya. Sehingga, hal ini akan membuat pelaku tak juga jera bahkan tak malu untuk tampil di depan publik.

Mantan narapidana pasti berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan dan masyarakat tidak boleh memberikan stigma negatif terhadap mereka. Bahkan mantan narapidana kekerasan seksual. Tetapi kebebasan para narapidana ini tidak boleh dirayakan secara berlebihan. Karena kita juga harus memikirkan pihak korban bagaimana dalam jangka waktu tertentu masih merasakan dampak dari kekerasan seksual itu.

Bisa dibayangkan betapa hancurnya perasaan korban jika melihat pelaku malah mendapatkan sambutan bak seorang pahlawan serta diberikan panggung di ruang publik. Mungkin luka fisik dapat sembuh dalam waktu yang tidak lama. Namun, luka psikis akan terekam oleh anak dalam waktu yang sangat lama. Perkembangan fisik dan mental anak juga akan ikut terluka.

 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya