Bonus Demografi dan Masa Depan Generasi Islam Indonesia

Mahasantri
Bonus Demografi dan Masa Depan Generasi Islam Indonesia 24/01/2021 206 view Agama cahayaislam.id

Pada tahun 2045 mendatang, Indonesia akan memanen generasi produktif atau biasa disebut bonus demografi. Disebut demikian karena jumlah usia produktif mengisi ruang paling besar dalam piramida penduduk, jauh lebih besar dari usia yang non-produktif, yaitu anak-anak dan manula.

Namun sayangnya, tidak ada diskursus yang memadai di kalangan umat Islam dalam mempersiapkan generasi emas itu. Padahal, umat Islam di Indonesia saat ini telah mencapai jumlah 87,2 % dari total penduduk Indonesia yang sekitar berjumlah 273,5 juta jiwa.

Di kalangan intelektual muslim dan kalangan Islam politik pun agaknya abai mendiskusikan bagaimana generasi Islam Indonesia di masa depan. Di tengah akses terhadap dunia pendidikan yang kian terbuka, ditambah dengan saluran terhadap informasi dan pengetahuan yang makin memadai, apakah bonus demografi generasi Islam Indonesia bakal menyumbang kemajuan bagi dirinya maupun peradaban manusia pada galibnya, atau malah sebaliknya?

Menguatnya Islam politik sebagaimana tampak dalam diskursus publik akhir-akhir ini tidak dilambari visi yang jelas mengenai arah transformasi masyarakat yang ingin dituju. Sehingga dalam kebangkitan parade Islam politik itu nyaris tidak dibahas bagaimana kekuatan Islam akan mengubah masa depan masyarakat menjadi seperti apa.

Inilah kekosongan diskursus yang membuat kita rindu pada perdebatan intelektual muslim tanah air di akhir 80-an sampai 90-an mengenai transformasi masyarakat dalam terminologi ‘paradigma Islam’, ‘paradigma profetik’, maupun ‘pribumisasi Islam’. Dengan melihat segala daya upaya dan sumber daya yang dimiliki saat ini terserap hampir seluruhnya hanya untuk meneguhkan identitas, sekaligus diarahkan hanya untuk sekedar kepentingan politik praktis semata.

Tulisan ini, penulis tidak berpretensi untuk membahas tuntas masalah berat di atas, melainkan hanya sedikit berupaya merefleksikan kemungkinan yang dapat terjadi dengan berusaha menemukan dan memahami gejala-gejala umum yang terjadi saat ini.

Refleksi

Terkait dengan eksistensi kaum muda milenial, terutama kaum muda milenial muslim saat ini, di satu sisi selalu berupaya mengakrabi modernitas dengan segala konsumerismenya, merayakan dakwah melalui media sosial, namun di sisi lain memupuk eksklusivisme dan kejumudan pandangan keagamaan.

Pada sisi yang terakhir ini, gejala dan bibit kemunduran atau disintegrasi mulai tampak dalam berbagai segi, antara lain gejala konservatisme, intoleransi, fundamentalisme keagamaan, menguatnya pandangan keagamaan yang sempit, serta hadirnya upaya-upaya dalam mewujudkan nilai dan hukum Islam sebagai satu-satunya visi bagi masa depan Indonesia.

Fenomena semacam ini tentu akan berpengaruh terhadap masa depan kita, termasuk bonus demografi generasi Islam seperti apa yang akan kita panen kelak ke depan. Apakah generasi Islam masa depan yang terbuka (inklusif) atau sebaliknya tertutup (eksklusif)? Apakah generasi Islam yang siap menyokong kemajuan ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan peradaban atau justru sebaliknya?

Dengan melihat dari berbagai gejala-gejala yang tampak, kita semestinya khawatir, mungkin pada 100 tahun kemerdekaan bangsa, kita akan melihat generasi Islam kita yang secara ekonomi maju namun secara ideologi tertutup.

Sehingga patut untuk kita renungkan bersama, bahwa kemajuan peradaban Islam di masa lalu sebagaimana yang ditorehkan oleh kejayaan Dinasti Abbasiyah itu tidak dibangun oleh masyarakat yang tertutup, melainkan masyarakat yang terbuka dalam menerima ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban lain. Di mana umat Islam kala itu menjadi contoh masyarakat ‘par excellence’ yang siap menghimpun berbagai sumber daya dari segala penjuru untuk diolah dan kemudian diwariskan kepada abad pencerahan bagi kemajuan peradaban Eropa.

Kita tentu tidak ingin lagi diejek sedemikian rupa sebagaimana para orientalis pernah mengatakan bahwa masyarakat muslim di Indonesia merupakan masyarakat ‘kuburan’ karena orientasinya berat sebelah terhadap kematian atau dunia akhirat. Akibatnya, sumbangan terhadap peradaban dunia tidak terlampau diprioritaskan.

Tentu, tak ada resep sapu jagat atau mungkin pil panasea untuk mengobati segala macam penyakit dalam mengatasi masalah realitas kehidupan sosial kita. Namun, kita harus yakini bahwa setiap persoalan memiliki karakteristik masalah dan jalan keluarnya sendiri. Demikian halnya dengan imaji bonus demografi bagi kalangan muslim tanah air.

Apabila indikasi menguatnya potensi generasi Islam masa depan menjadi masyarakat yang tertutup merupakan sebuah ancaman, maka salah satu cara yang dapat kita tempuh ialah dengan mendorong agar generasi muda Islam kita bisa lebih terbuka, melek terhadap keragaman serta literasi sejarah dan budaya, di samping dikuatkan aspek religiusitasnya.

Pendek kata, pemahaman dan gairah keagamaan generasi Islam kita akhir-akhir ini sangat perlu diimbangi dengan sikap terbuka (inklusif), agar bonus demografi tidak hanya melahirkan generasi Islam yang kuat secara sosial, budaya, ekonomi dan politik, serta religius dalam beragama, melainkan juga toleran dan moderat serta siap untuk menyokong kemajuan bagi ilmu pengetahuan, kemanusiaan dan peradaban. Inilah sekiranya wujud dari visi Islam sebagai agama “rahmatan lil ‘alamin”, rahmat bagi seluruh semesta alam.

Selanjutnya, kita pula patut bersyukur, bahwa jumlah umat yang besar dapat memberi dampak (faedah) yang besar pula dalam memajukan ilmu pengetahuan, kemanusiaan dan peradaban bangsa di masa depan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya