Wisuda Sebelum Sarjana, Apa Urgensinya?

PNS BKKBN
Wisuda Sebelum Sarjana, Apa Urgensinya? 05/07/2023 713 view Pendidikan creazilla.com

Seorang ibu yang kebetulan masih kerabat kami dan memiliki seorang anak yang sedang lulus Sekolah Dasar (SD) berkeluh kesah tentang wisuda kelulusan anaknya yang dilaksanakan oleh pihak sekolah dan diselenggarakan dengan menyewa sebuah gedung. Ibu tersebut mengeluhkan biaya untuk wisuda anaknya yang baru saja lulus SD. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan ternyata cukup lumayan bagi beliau yang merupakan ibu rumah tangga biasa dan hanya mengandalkan pendapatan dari seorang suami.

Kejadian yang menimpa ibu tersebut ternyata juga menimpa ibu-ibu yang lainnya yang memiliki anak sedang lulus sekolah baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Intinya di setiap jenjang sekolah tersebut, ketika si anak sudah lulus ada ceremonial berupa wisuda yang tentunya menelan biaya yang bagi sebagian orang merasa keberatan.

Saya pun kemudian teringat, ketika saya menempuh pendidikan dari SD, SMP, SMA hingga di bangku kuliah puluhan tahun yang lalu. Seingat saya dari jenjang pendidikan SD sampai dengan SMA tidak ada yang namanya ceremonial atau prosesi wisuda. Baru ketika saya lulus dari bangku kuliah dan mendapat gelar sarjana saat itulah ada ceremonial ataupun prosesi wisuda. Lalu apa urgensi wisuda bagi anak yang lulus SD, lulus SMP maupun lulus SMA?

Secara umum orang yang diwisuda biasanya memakai toga. Toga biasanya berwarna hitam, berbentuk persegi dan juga ada prosesi memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Toga yang berwarna hitam menurut beberapa sumber berarti melambangkan keagungan. Toga yang berwarna hitam juga memiliki arti misteri dan kegelapan. Nilai filosofis dari toga yang berwarna hitam tersebut adalah bahwa seseorang yang sudah diwisuda maka orang tersebut harus mampu mengalahkan kegelapan dengan ilmu yang diperoleh selama ini.

Kemudian bentuk topi wisuda yang persegi, memiliki nilai filosofis bahwa seseorang yang telah diwisuda harus memiliki pemikiran dari berbagai sudut pandang. Seorang yang telah diwisuda harus mampu berpikir secara rasional. Jangan sampai ketika telah diwisuda maka pikiran dan perbuatannya masih sempit dan labil. Untuk itu, bagi seorang yang sudah diwisuda maka diharapkan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah ketika menghadapi berbagai macam persoalan harus berdasarkan berbagai sudut pandang sehingga jalan keluar terhadap persoalan tersebut pun terasa adil dan bijaksana serta tidak merugikan siapapun termasuk dirinya sendiri dan juga bisa diterima semua kalangan.

Selanjutnya dalam pelaksanaan wisuda juga ada prosesi memindahkan tali toga dari arah kiri ke kanan. Prosesi ini secara filosofis memberikan arti bahwa setelah diwisuda maka seseorang yang telah menamatkan kuliahnya bukan hanya mampu menggunakan otak kirinya yang berhubungan dengan materi, bahasa dan juga hafalan namun juga mampu menggunakan otak kanannya yang berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas dan juga inovasi. Dengan berbekal hal tersebut seseorang yang telah menjadi sarjana dan telah diwisuda diharapkan memiliki daya kreativitas dan inovasi untuk berkembang di dalam kehidupannya.

Jadi prosesi wisuda adalah pembatas dari lembaran lama ke lembaran baru atau dari seseorang yang belum bisa bertanggung jawab secara penuh menjadi seorang insan yang dalam kehidupannya bisa bertanggung jawab. Prosesi wisuda juga bisa menjadi pembatas bahwa seorang anak sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan juga mana yang salah. Jadi wisuda itu seperti prosesi untuk melepas seorang anak hidup mandiri, bertanggung jawab pada diri sendiri maupun pada keluarga, masyarakat, nusa, bangsa, negara dan agama karena sudah dianggap mampu setelah memperoleh ilmu pengetahun di bangku kuliah.

Jadi, menurut penulis jika wisuda tersebut dilaksanakan untuk anak yang baru lulus SD, SMP maupun SMA hal tersebut kurang tepat. Ini dikarenakan pada jenjang-jenjang pendidikan tersebut anak masih harus mendapatkan pendampingan dan juga masih labil. Boleh-boleh saja menyelenggarakan semacam perpisahan siswa pada jenjang pendidikan tersebut, sebagai ucapan terima kepada pihak sekolah yang telah mengajarkan banyak ilmu dan pengalaman dan juga sebagai ajang silaturahmi orang tua, guru, tenaga pendidik serta siswa sebagai bentuk kemeriahan di akhir jenjang pendidikan tersebut dengan catatan tidak berlebihan dan juga tidak memberatkan dari sisi pembiayaan.

Untuk itu, ada baiknya penyelenggaraan wisuda pada jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA ditinjau kembali. Dari pada menghabis uang yang tidak sedikit untuk pembiayaan wisuda pada jenjang pendidikan tersebut, ada baiknya uang tersebut ditabung untuk biaya pendidikan di atasnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya