Absurditas Covid-19 dan Efek Kedinamisan Bahasa

Absurditas Covid-19 dan Efek Kedinamisan Bahasa 20/05/2020 753 view Pendidikan Pixabay.com

Corona Virus Disease atau dikenal luas dengan sebutan Covid-19 telah melahirkan ragam wacana dalam cakupan perspektif yang berbeda-beda. Banu Prasetyo dalam opininya berjudul, “Covid-19 dan Revolusi Sesudahnya” pada Geotimes, 5 April 2020, membahas perspektifnya tentang keberadaan Covid-19 sebagai pembawa efek absurditas dalam hidup masyarakat.

Ia mengambil term absurditas dari ulasan novel The Plague, hasil karya Albert Camus tahun 1947. Bahwasannya absurditas dipahami sebagai sebuah situasi ketidakpastian, krisis, ketakutan, dan kematian yang dialami atau pun yang dihadapi masyarakat.

Covid-19 yang disebut Banu Prasetyo sebagai pembawa efek absurditas, turut menyentil pula apa yang disebut dalam linguistik “kedinamisan bahasa”, yang tengah berkembang dalam kehidupan masyarakat. Kedinamisan bahasa merupakan sifat alami kebahasaan manusia yang tidak terlepas dari kemungkinan untuk berubah dan berkembang (Orong, 2017:9). Pemikiran dan situasi hidup manusia yang senantiasa terus-menerus berkembang, dapat menjadi sebab utama dari kreativitas penciptaan ekspresi baru yang tampil lewat penggunaan bahasa.

Kedinamisan bahasa yang hadir di tengah absurditas Covid-19, boleh dilihat dengan tampilnya ragam term seputar Covid-19 yang dikenal luas dalam kehidupan masyarakat saat ini. Kita mengenal term semisal wabah, endemi, endemis, endemik, epidemi, pandemi, pandemik, positif, karantina, isolasi.

Atau dalam term asing, kita sering menyebut social distancing (pembatasan sosial) yang telah diubah penyebutannya dengan physical distancing (pembatasan fisik), suspect, lockdown, imported case, local transmission. Hadir pula singkatan-singkatan yang lazimnya disebut, seperti ODP (Orang dalam Pemantauan), PDP (Pasien dalam Pemantauan), WFH (Work from Home).

Perkembangan bahasa yang dinamis ini, mesti tetap mempertahankan aspek fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantik dalam linguistik. Fonologi merupakan bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.

Morfologi dipahami sebagai ilmu bentuk kata. Sementara sintaksis dimaknai sebagai ilmu tata kalimat. Adapun semantik merupakan ilmu tentang makna kata dan kalimat; seluk-beluk dan pergeseran arti kata.

Ini menjadi aspek tinjauan yang sangat penting. Pertama, mengingat definisi keberadaan bahasa manusia mengabsahkan dua pemahaman yang kiranya mendasar, yakni aspek akal budi atau rasio serta kesanggupan untuk melakukan sosialisasi diri dan berinteraksi dengan sesama.

Dalam hal ini, kita dapat memahami bahwa adanya bahasa manusia dan perkembangannya, haruslah menampakan keterikatan ataupun hubungan antara kedua aspek tersebut. Bahwasannya perwujudan aspek rasio – penalaran (logika), menjadi titik perhatian yang sangat penting, serta turut mendukung perwujudan bahasa manusia lewat sosialisasi dan interaksi dalam kebersamaan hidup.

Dalam konteks kedinamisan bahasa di tengah absurditas Covid-19, kita dapat memahami bahwa berkembangnya ragam term seputar Covid-19, mesti tetap memperhatikan perwujudan rasio – penalaran (logika) dalam sosialisasi dan interaksi dalam kehidupan bersama.

Kita dapat menilik hal ini, lewat upaya kita untuk senantiasa mempertahankan penggunaan ragam term Covid-19 atas dasar capaian empat aspek linguistik yang mensyaratkan sifat bahasa yang dinamis itu. Bahwasannya, ketika kita merengkuh sejumlah term-term Covid-19, mestilah diperhatikan tataran fonologis (fungsi bahasa), morfologis (bentuk), sintaksis (tata kalimat, gramatika), serta aspek semantik (makna/arti kata dan kalimat).

Kedua, penting untuk dikaji pula soal fungsi kebahasaan manusia sebagai fungsi informatif di tengah pandemi Covid-19 yang terkesan membawa situasi absurditas bagi hidup masyarakat. Sebab, ada banyak informasi menyoal Covid-19 dengan ragam perspektif yang mengikutinya. Kita dapat mengkses informasi-informasi tersebut, baik lisan maupun tertulis pada media-media daring atau pun majalah/koran lokal, nasional, maupun internasional.

Keabsahan dalam penggunaan term-term Covid-19, dapat menjadi tolak ukur sekaligus motivasi yang baik dalam menyuplai dan mengantari informasi-informasi seputar Covid-19. Mengingat tersebarnya informasi-informasi tersebut, turut didukung oleh adanya term-term Covid-19 yang mau menyajikan sifat bahasa yang dinamis.

Keabsahan penggunaan term-term Covid-19 dapatlah ditilik dalam usaha menciptakan kecakapan linguistik pada tataran fonologis (fungsi bahasa), morfologis (bentuk), sintaksis (tata kalimat, gramatika), serta aspek semantik (makna/arti kata dan kalimat) yang mensyaratkan terciptanya sifat bahasa yang dinamis tersebut.

Ini mesti mendapat perhatian yang lebih. Sehingga, situasi absurditas akibat pandemi Covid-19 yang sedang merongrong masyarakat, tidak menjadi berlebihan dengan hadirnya tindak salah kaprah penggunaan bahasa dalam menyalurkan ragam informasi seputar Covid-19.

Adanya dua usaha untuk menilik keabsahan penggunaan term-term Covid-19 tersebut, dapat menjadi salah satu upaya guna menekan bahaya produktivitas bahasa yang tanpa diikuti refleksivitas.

George Yule (2015) sebagaimana dikutip Yohanes Orong (2017:4-5) dalam ulasan bukunya berjudul “Bahasa Indonesia Identitas Kita”, menjelaskan produktivitas dalam linguistik sebagai sebuah kemampuan berbahasa pada manusia untuk terus-menerus menciptakan ekspresi baru dengan memanipulasi sumber linguistik, sebagai upaya untuk menjelaskan benda dan situasi baru.

Term-term Covid-19 yang telah mengakrabi masyarakat, dapat kita pahami sebagai bagian dari produktivitas bahasa yang senantiasa terus-menerus ada dan berkembang dalam kehidupan manusia. Namun, produktivitas yang ada haruslah menggandeng pula kemampuan refleksivitas. Refleksivitas dalam kemampuan berbahasa manusia ingin menjelaskan fakta, bahwa kita dapat menggunakan bahasa untuk berpikir dan berbicara tentang bahasa itu sendiri (Orong, 2017:3).

Dalam artian bahwa, kita boleh saja menyuguhkan aneka term yang membahas problem-problem seputar Covid-19 dalam pembicaraan kita. Namun, ungkapan atau pembicaraan yang kita suguhkan mesti tetap ada pada lajur refleksivitas – menghayati secara cermat apa yang kita utarakan. Dalam hal ini, kecermatan dalam lajur refleksivitas boleh ditilik dalam praktek-praktek penggunaan bahasa yang haruslah sesuai dengan kaidah kebahasaan yang baik dan benar.

Publik Indonesia sendiri mesti tak kaget dengan adanya upaya penciptaan kebenaran dalam berbahasa ini. Sebab, hal ini tak terlepas dari penghidupan spirit nasionalisme berbahasa yang terwujud dalam capaian praktek-praktek penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Spirit ini ditekankan, karena tumbuh-kembangnya bahasa Indonesia tak terlepas dari dua peristiwa bersejarah yang sangat penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pertama, Kongres Sumpah Pemuda yang berlangsung pada 28 Oktober 1928 dan kedua, penempatan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dalam pasal 36 Bab XV UUD 1945 yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945.

Kita yang menyebut diri sebagai warga negara Indonesia mesti tahu betul keberadaan dua peristiwa yang sangat bersejarah ini, yang cukup banyak berpengaruh pada tataran linguistik. Sebab, pengetahuan ini akan turut mengafirmasi spirit nasionalisme dalam praktek-praktek penggunaan bahasa yang senantiasa kita nampakan dalam keseharian hidup.

Apalagi di tengah situasi hidup kita saat ini yang terkesan absurd akibat pandemi Covid-19. Nasionalisme dalam berbahasa akan sangat mendukung terciptanya penggunaan kaidah kebahsaan yang baik dan benar. Karena aspek linguistik – bahasa, turut mendapat peran yang sangatlah signifikan dalam penyebaran informasi seputar Covid-19.

Untuk itu, walau kehadiran Covid-19 terus-menerus menciptakan situasi absurditas dalam kebersamaan hidup, tetapi tetaplah ditingkatkan pula keabsahan dalam penggunaan bahasa. Hal ini diupayakan guna menciptakan penyaluran informasi yang tepat. Karena sebagaimana telah ditekankan, aspek kebahasaan turut menempati peran penting di tengah abusrditas Covid-19 ini.

Kedinamisan bahasa barangkali akan banyak disorot dalam menyoal efek linguistik akibat hadirnya Covid-19. Namun, sejauh kita tetap mempertahankan kebenaran dalam berbahasa, maka tindak salah kaprah dalam penggunaan bahasa akan senantiasa dapat diredam.

Terhadap hal ini, dapatlah kita menggunakan term mathein dan pathein yang digunakan oleh Fredy Sebho (2016:4) dalam bukunya berjudul “Monologion: Ketika Kata Bertingkah”, tatkala dirinya membahas keberadaan dunia menulis. Kita dapat menggunakan term yang serupa dalam menyoal abusrditas Covid-19 dan efek kedinamisan bahasa ini.

Bahwasannya, dalam menyuplai dan mengantarai penggunaan term-term seputar Covid-19, kita tidak hanya membuat mathein (mempelajari) bahasa, tetapi lebih dari itu serentak juga untuk pathein (mengalami) sesuatu yang ada di dalam bahasa itu sendiri.

Aspek ketelitian dalam penggunaan term-term seputar Covid-19 dengan melibatkan aspek rasio, sosialisasi, serta fungsi informatif bahasa, boleh jadi merengkuh cita-cita mathein tersebut. Ini mesti senantiasa diperhatikan guna menghindari salah kaprah dalam pemahaman dan penggunaan bahasa, yang dapat pula membawa efek lanjut pada tindak menyimpang dalam menyalurkan informasi. Upaya-upaya ini, kiranya mau mengangkat harapan masyarkat pada umumunya, untuk melenyapkan keberadaan Covid-19 dari kehidupan dunia.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya