Fenomena Ribut-Ribut Soal Warisan : Dari Ningrat Hingga Melarat

Penulis Artikel
Fenomena Ribut-Ribut Soal Warisan : Dari Ningrat Hingga Melarat 31/07/2020 244 view Lainnya pxhere.com

Sejak dulu peninggalan warisan kerap kali menjadi objek yang rentan untuk dipermasalahkan. Beragam bentuk warisan sering menjadi bahan perdebatan antar pihak yang berseteru saling klaim kepunyaan. Mulai dari harta benda, hak cipta, kesenian, pakaian, makanan, hingga budaya.

Tak jarang fenomena ribut- ribut soal warisan muncul di berbagai lapisan masyarakat. Dari konglomerat keturunan ningrat hingga melarat. Daya pikat warisan ini pun seperti magnet yang menarik perhatian hingga masyarakat lapisan atas. Seperti yang marak diperbincangkan di media baru-baru ini, dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (14/7) seorang anak Eka Tjipta, Freddy Widjaja, menggugat lima orang kakak tirinya berkaitan dengan aset grup Sinarmas yang nilainya Rp 672,61 Triliun. Perlu diketahui, Freddy merupakan anak tertua dari tiga bersaudara, yang terlahir dari pasangan Eka Tjipta Widjaja dan Lidia Herawaty Rusli.

Managing Director Sinar Mas Gandi Sulistiyanto membenarkan Freddy memang merupakan anak Eka Tjipta. Namun, ia merupakan anak luar kawin dari pernikahan resmi yang pernah dilakukan Eka Tjipta. Disebutkan bahwa pasangan Eka Tjipta dan Lidia menikah secara adat/agama Budha di Jakarta, 3 Oktober 1967, namun tidak tercatat di Catatan Sipil.

Berbicara mengenai harta warisan menjadi sangat kontemporer. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi masa kini, banyak peristiwa tak patut ditiru. Anak menggugat ibu kandung, hingga tindak kriminal dengan motif balas dendam akibat pembagian nilai warisan yang tidak proporsional.

Beragam konflik timbul akibat transaksi jual beli harta warisan yang diakhiri dengan jalan penyelesaian yang bersifat kekeluargaan hingga pada level kompleksitas tinggi berujung pada hukum. Tentu banyak orang lebih menitikberatkan perkara warisan berbentuk materi sebagai sebuah hal fundamental nan krusial apalagi jika terdesak dengan situasi ekonomi.

Toh, harta benda tak kan dibawa mati. Kalimat ini sudah sangat familiar di telinga kita. Meski begitu, tetap saja kalimat singkat itu tidak menyurutkan niat banyak orang untuk mengumpulkan harta bendanya sebanyak-banyaknya. Banyak dan masih kurang banyak. Entah itu dari latar belakang pekerjaan dokter, psikolog, direktur, pegawai BUMN, PNS, karyawan swasta , buruh, hingga pengangguran berlomba-lomba mengumpulkan harta benda. Bak gadis belia yang ranum, daya pikatnya menjangkau hampir seluruh ragam individu.

Sifat dasar manusia yang tak pernah puas membuat manusia menjadi tampak seperti srigala buas. Bahkan tak jarang praktek homo homini lupus dilakukan hanya untuk sekedar memuaskan nafsu dahaga. Sikut kanan kiri demi memuluskan ambisinya. Sudah memiliki sebuah rumah, tambah satu lagi untuk sekedar investasi. Sudah memiliki sebuah mobil, kemudian membeli satu unit lagi untuk digunakan anak. Sudah punya kos-kosan, dibangun lagi di lokasi berbeda. Segudang rencana disusun untuk menambah pundi-pundi rupiah. Tidak ada yang salah dengan cara-cara ini.

Persoalan menjadi semakin menjadi bila si pewaris tak menanamkan nilai kejujuran saat mewariskan hartanya pada ahli warisnya. Tak jarang ahli waris "main belakang" entah dengan alasan apa yang buntutnya menimbulkan kisruh di antara pewaris. Memang, sudah menjadi hak pewaris seutuhnya untuk membagi harta bendanya sesuai aturan ajaran agama yang dianut. Di sisi lain, tentu pewaris memiliki alasan tertentu untuk membagi tiap-tiap warisannya berdasarkan subjektivitas dan objektivitas yang dimilikinya.

Saling iri sudah menjadi hal yang lazim dalam hidup manusia. Seolah membenarkan ungkapan rumput tetangga lebih hijau. Menimbang-nimbang jumlah yang diperoleh saudara sendiri. Mengkalikan pendapatan yang diperoleh abang, kakak, maupun adik atau yang lainnya atas harta warisan yang dijual bersama. Miris memang, namun tampaknya hal ini nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Yang patut diingat, secara umum warisan bukan hasil lelah jerih payah kita. Warisan merupakan hasil karya para pendahulu yang seyogyanya patut kita lestarikan. Memperoleh harta warisan dengan sepenggal ketidakjujuran pun memiliki dampak tersendiri terutama bagi si pewaris maupun ahli waris. Entah mereka menyadari atau tidak.

Uang bisa habis, rumah dan mobil bisa dijual, tanah bisa digadai namun karakter yang kuat tak pernah terkikis oleh zaman. Mulailah mewariskan warisan yang sesungguhnya pada anak cucu kita. Bekali anak dengan pendidikan terbaik, karakter diri, kejujuran, kemandirian, tanggung jawab, serta kerja keras. Asah keterampilan yang dimiliki anak agar menjadi modal untuk bertahan dalam persaingan. Warisan ini tidak akan habis dimakan usia. Warisan berupa materi bisa bertambah jika dikelola dengan bijak, namun sebaliknya bisa habis karena dikelola dengan tidak bijak oleh ahli warisnya. Siapa yang tak butuh materi?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya