Takhayul Solusi Bangsa Maju

Mahasiswa UIN SGD Bandung
Takhayul Solusi Bangsa Maju 02/05/2021 50 view Opini Mingguan flickr.com

Jika ingin cepat kaya jagalah lilin. Ungkapan tersebut memang benar adanya di jaman modern ini. Aktivitas jaga lilin memang menjadi tren tersendiri dalam mencari uang dan memutarkan uang untuk mendapatkan keuntungan. Lilin disini bukan lilin biasa. Lilin yang istimewa yang mana pergerakan lilin ini sangat liar. Mati saja lilinnya anda akan panik bukan kepalang. Maka berhati-hatilah bagi kalian yang aktivitas kerjanya trading, baik itu Forex, Cripto, atau saham karena sama-sama jaga lilin atau dalam bahasa inggris candle stick. Bisa jadi ketika anda sukses tetangga akan menunduh anda sedang jaga lilin pesugihan atau anda dituduh pelihara Babi ngepet.

Ribut-ribut masalah Babi ngepet jadi teringat beberapa hari yang lalu. Ada kasus yang ramai bukan kepalang tertangkapnya seekor babi yang disinyalir adalah babi jadi-jadian lokasinya di Depok Sawangan. Usut punya usut katanya, warga menangkap babi jadi-jadian tersebut dengan cara bertelanjang agar si babi takut dengan pentungan. Ehh selang satu hari kemudian alhamdulilah babi tersebut hanya setingan. Walapun demikian banyak orang yang percaya dan tertipu sebelum kasus setingan ini terbongkar, mengapa demikian? Ya.. mungkin kepercayaan ini masih banyak dianut oleh sebagian orang Indonesia.

Buktinya orang Indonesia sangat suka menonton konten-konten berbau hal ghaib, takhayul dan hal serupa lainya. Hal ini dapat dilihat bagaimana ramainya chanel youtube mistis Indonesia. Walapun kebanyak konten setingan dan hanya editan sebagian penonton menggangapnya konten itu benar.

Miris di jaman modernitas ini, konsumsi masyarakat masih sangat terbelakang. Ya namanya juga takhayul asal katanya khayal yang berarti apa yang tergambar pada seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi. Takhayul merupakan mitos, sesuatu yang tidak nyata. Adanya dalam khayalan sangat tidak rasional. Setiap masyarakat pada jamannya memiliki mitos-mitos atau takhayul, ini karena mitos sempat menjadi dasar untuk menjawab sebuah masalah bahkan Yunani negeri tempat lahirnya para filsuf juga pernah mengalami hal begitu.

Dan hadirnya filsafat di awal-awal peradaban Yunani mereka menyerang dan menelanjangi hal-hal yang berbau mitos, khurafat dan takhayul. Bahkan ini mirip dengan hadirnya agama Islam. Walapun dalam Islam kebenaran tidak seluruhnya harus dibuktikan secara rasional dan empiris tetapi setidaknya memiliki landasan syariah (Qur'an dan Hadist).

Rasional dan empiris merupakan kekhasan modernitas itu sendiri yang mana manusia mampu mendayagunakan akal dan pikirannya mampu mengeksplorasi dan mengekploitasi alam dengan akal dan kemampuan fisiknya. Sebagaimana ungkapan dari filsuf Rene Descrates ‘’Aku berpikir maka aku ada” sangat modernitas, bukan? Barat membuang jauh-jauh mitos ini sejak lamanya dan mereka bisa wal hasil kemajuan yang didapat.

Walapun negeri ini sedang gencar-gencarnya meniru barat, contoh ikut cara berpakaiannya, industrialisasi sampai ke desa-desa tapi tetap saja. Warung dukun tetap ramai, makam pesugihan tetap ramai, hingga bamboo petuk dihargainya sampai dengan satu milyaran. Ini semua memang karena percaya yang namanya takhayul. Lalu apa sih yang kurang? Yang membuat bangsa ini tertinggal. Karena kurang apa bagi bangsa ini untuk tidak mempercayai takhayul 90% masyarakat Indonesia muslim yang mana dalam Islam disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam alquran surat al-Ahqaf ayat 5-6. ٰ yang artinya “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang beribadah kepada sembahan-sembahan selain Allah SWT yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apa bila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka”.

Jelas melihat ayat di atas bahwa agama memiliki fungsi edukatif terhadap hal yang berbau takhayul yang jelas dilarang dalam agama. Lalu kurang apa bangsa ini untuk tidak mempercayai takhayul. Ternyata takhayul sengaja menjadi konsumsi publik di negeri ini. Bukan salah kita sebagai orang yang mempercayai takhayul kita hanya mencontoh petinggi negara. Ya contohnya ketika dunia siaga terhadap corona mantan menkes kita pernah berbicara “Bahwa corona tak masuk Indonesia karena Doa” kemudian “Harun Masiku susah ditangkap karena tak menggunakan hape” terus menteri perekonomian “ Corona enggak masuk ke Indonesia karena izinya susah” dan ternyata merekalah yang mengajarkan dan memproduksi cara berpikir yang khayal tanpa dasar. Mungkin orang-orang ini yang disebut politik sontoloyo oleh pak Jokowi.

Pada akhirnya sebagai rakyat biasa kita ikuti saja anjuran mereka. Toh kita sama-sama suka produk khayal. Dan solusi Bangsa agar menjadi bangsa yang maju dengan cepat. Ya dengan cara berkhayal… Selamat menikmati khayalan, yang penting halalan toyiban.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya