Keniscayaan Digital Learning

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Keniscayaan Digital Learning 16/05/2020 825 view Pendidikan pixabay.com

Di masa pandemi Covid-19, boleh dikatakan seluruh sekolah di Indonesia mengubah model pembelajaran. Pembelajaran konvensional lewat tatap muka di dalam ruangan kelas dihentikan untuk sementara waktu. Sebagai gantinya, sistem belajar dalam jaringan (daring) atau jarak jauh digunakan sembari menunggu pandemi berakhir.

Pada konteks berbeda, wabah ini menjadi surga duniawi bagi para founder platform digital seperti Google Classroom, Quipper, Whatsapp, Zoom, dan Webex—untuk sebatas memberi contoh. Betapa tidak, media-media inilah yang laris manis digunakan banyak institusi pendidikan untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Sebetulnya, tanpa virus corona sekalipun, pendidikan di Indonesia secara menyeluruh memang harus menuju fase KBM berbasis teknologi. Hanya saja, pandemi Covid-19 menjadikan tren itu hadir lebih cepat. Wabah ini memang sebuah musibah. Tapi, saya meyakini wejangan lawas Selalu ada hikmah di balik setiap bencana. Jika wabah ini tidak ada, mungkin pendidikan kita akan tetap berada di zona nyaman dan cenderung mengulang penyakit klasik yang terpelihara sejak lama: resistan pada perubahan!

Lihatlah ketika guru-guru ‘dipaksa’ bergulat dengan teknologi demi pembelajaran daring. Meski belum menyeluruh dan pelaksanaanya cenderung carut-marut, setidak-tidaknya para guru mulai familier dengan aplikasi-aplikasi belajar digital. Ini tidak boleh disepelekan. Sebab, boleh jadi disparitas pemahaman soal teknologi dan penggunaan internet antara guru dan murid menjadi salah satu alasan mengapa digitalisasi pendidikan di Indonesia belum kunjung terwujud. Laporan Cambridge International pada 2018 menyebut bahwa pelajar Indonesia merupakan salah satu pengguna teknologi tertinggi di dunia. Dengan kata lain, murid-murid kita sebetulnya sudah siap.

Maka, sekali lagi, kita boleh bersyukur bahwa pandemi ini ibarat cambuk yang akan membuat guru-guru berbenah. Sudah bertahun-tahun lamanya negara-negara maju menerapkan metode belajar digital. Jika tidak percaya, sila kunjungi platform belajar www.coursera.org atau www.futurlearn.com. Di sana Anda akan menemukan sederet sekolah dan universitas top asal negara-negara maju yang menawarkan pembelajaran jarak jauh. Ada yang gratis dan ada yang berayar. Itu sebabnya mereka tidak tergagap-gagap ketika harus belajar dan mengajar dari rumah akibat wabah ini.

Artinya, pembelajaran digital adalah dinamika perubahan zaman yang membuat kita tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Sebab, seperti kata filsuf Yunani Heraclitus “Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan.” Jika kita memilih tidak mengikuti perubahan, kita akan terlindas oleh roda perubahan itu.

Blended Learning

Pembelajaran jarak jauh yang saat ini tengah berlangsung tidak boleh dipandang sebagai pengganti kelas konvensional. Sebab jika pandangan seperti itu dibiarkan, saat wabah ini berakhir, pola-pola belajar dan mengajar usang akan cenderung dipertahankan. Ceramah tunggal, interaksi kelas yang relatif didominasi oleh guru, sistem CBSA(Catat Buku Sampai Abis) dan segala metode sejenis harus ditinggalkan. Atau, setidaknya-tidaknya jangan dijadikan sebagai metode primer dalam mengajar. Cara-cara seperti itu tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.

KBM konvensional dan digital harus saling melengkapi karena keduanya punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Contoh sederhana, dalam pembelajaran tatap muka, guru-guru bisa dengan cepat memberikan feedback atau tanggapan atas pertanyaan dari para peserta didik sehingga mereka tidak perlu menunggu lebih lama. Sementara dalam pembelajaran daring, penjelasan dari guru yang lazimnya direkam dalam bentuk audio atau video bisa lebih mudah dicerna sebab murid-murid bisa memutar berulang-ulang sampai paham.

Pada sistem tatap muka, mengulang-ulang penjelasan guru sesuai keinginan hampir mustahil untuk dilakukan karena dibatasi oleh waktu dan banyaknya peserta didik dalam kelas. Dengan demikian, transisi pembelajaran ke model daring atau jarak jauh ini harus diyakini sebagai paradigma permanen.

Dan yang tidak kalah penting adalah pandemi Covid-19 seolah membawa kita kembali ke gagasan Tri Pusat Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara. Konsep ini menitikberatkan peran tiga sentra: keluarga, sekolah dan masyarakat dalam menopang keberhasilan pendidikan.

Di tengah-tengah wabah ini, komunikasi antara sekolah dan orang tua relatif lebih terjalin. Orang tua menjadi perpanjangan tangan guru-guru dalam memonitor pembelajaran anak-anak di rumah. Tugas yang sederhana tapi tidak mudah. Masyarakat pun berperan dalam mengonstruksi pembelajaran softskills. Lihat saja bagaimana solidaritas kemanusiaan kita bermunculan saat melihat orang-orang di sekitar mengalami kesulitan. Pemberian bantuan kebutuhan pokok, santunan uang tunai dan pembagian masker gratis sebagai karakter altruisme kita merupakan pembelajaran nyata yang bisa menjadi teladan bagi para peserta didik.

Memberi Akses Menyeluruh

Ketika guru dan murid sudah mulai siap dengan digitalisasi pendidikan, maka tugas pemerintah adalah memastikan dukungan sarana dan prasarana serta akses internet. Tanpa dukungan pemerintah, pendidikan berbasis teknologi akan menjadi timpang.

Momen ini sebetulnya menjadi saat yang tepat bagi Mendikbud Nadiem Makarim untuk menularkan keberhasilannya ketika menghadirkan Gojek sebagai salah satu perusahaan startup yang paling berhasil di Indonesia. Artinya, Kemendikbud ditantang untuk menghadirkan platform digital yang bisa mengakomodir kebutuhan belajar murid sekaligus sarana meningkatkan kompetensi guru di bidang teknologi. Selama ini, jika ada pelatihan dari pemerintah, guru-guru sasaran harus meninggalkan kelas dalam waktu yang cukup lama. Ini sangat mengganggu kontinuitas pembelajaran dan merugikan anak didik.

Pentingnya keberadaan akses menuju pendidikan digital ini mengingatkan saya pada kisah Profesor Sugata Mitra di India. Di tahun 1999, berangkat dari rasa penasarannya pada kemampuan anak-anak miskin yang dianggapnya setara dengan kemampuan anak-anak golongan kaya dalam hal menggunakan komputer, Profesor Sugatra Mitra membuat eksperimen Hole in the Wall. Ia melubangi tembok kampusnya yang berdekatan dengan pemukiman kumuh. Di sana dia meletakkan sebuah komputer dan papan ketik. Hasilnya benar-benar menakjubkan. Tanpa pendampingan pengajar dan pembelajaran formal, anak-anak di daerah kumuh itu mampu menggunakan komputer. Dan, menariknya, hasil yang sama ia peroleh ketika percobaan itu berpindah ke daerah-daerah miskin lain di India.

Eksperimen Profesor Sugata Mitra itu memberi kita pelajaran yang amat berharga. Dengan ketersediaan akses, manusia mampu menerapkan konsep swaajar dan belajar secara independen. Apabila pemerintah mampu meracik kebijakan dan menghadirkan fasilitas yang mendukung pembelajaran berbasis digital serta memberi akses secara merata dan gratis kepada setiap warga sekolah, digitalisasi pendidikan di Indonesia bukanlah sebuah kemustahilan. Semoga.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya