Demokrasi Kita Sedang Tidak Demam Sanjungan

Mahasiswa
Demokrasi Kita Sedang Tidak Demam Sanjungan 21/02/2020 1323 view Politik Pixabay.com

Hari-hari belakangan ini, atmosfer demokrasi kita ramai diguyur oleh aroma sanjungan dan pujian. Sanjungan tersebut tidak lain adalah respon publik terhadap kepuasan kinerja pemerintah. Sebut saja beberapa faktor yang memacu kepuasan publik seperti, kontrol pemerintah dalam menolak kepulangan dari mantan anggota NIIS (Negara Islam, Irak dan Suriah), penangkapan terhadap para pelaku berdirinya kerajaan abal-abal yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia seperti Kerajaan Agung Sejagad dan Sunda Empire.

Selain itu, faktor sanjungan juga datang dari kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah dalam meningkatkan nilai dan kualitas ekonomi serta kesehatan masyarakat.

Dari hasil capaian IDI (Indeks Demokrasi Indonesia) ditemukan bahwa perkembangan demokrasi mengalami peningkatan sejak tahun 2009. Keefektifan pembangunan politik itu sejalan dengan perbaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang naik 4,86 poin dalam kurun 2010-2018. Angka kemiskinan berhasil dipangkas 3,67 persen (2010-2018). Perbaikan kualitas hidup masyarakat dan penurunan kemiskinan diikuti pula peningkatan kebahagiaan penduduk. Secara nasional, indeks kebahagiaan naik 2,41 poin pada 2014-2017. (Bdk. Kompas 17 Februari 2020 hlm. 7)

Hasil capaian yang sudah terjadi dan barangkali sedang dinikmati sekarang oleh semua masyarakat Indonesia adalah sebuah bentuk kepedulian besar dari otoritas negara. Itu berarti, tidak ada salahnya apabila kita juga menyempatkan diri untuk memberi apresiasi kepada mereka (baca: pemerintah).

Namun, patut disadari bahwa di tengah menumpuknya fenomena pujian tersebut masih terdapat gap yang merintangi pertumbuhan demokrasi kita. Beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, sebaiknya dilihat sebagai sebuah umpan balik terhadap kondisi kelebaman demokrasi. Demokrasi yang sejatinya memperjuangkan kepentingan rakyat (bonum communae) nyatanya sudah turut menumbangkan mimpi, meruntuhkan niat dan berganti kepada glorifikasi keinginan dari segelintir orang.

Sekadar mengusut fenomena akhir-akhir ini terutama tentang persoalan yang mengguyur rumah demokrasi kita, saya menemukan bahwa demokrasi kita justru sedang darurat.

Beberapa temuan kasus yang cukup familiar seperti kasus korupsi yang menggoda dan merajalela, jargon buzzer yang semakin mengusik, intoleransi yang merebak antaragama, bangkitnya kerajaan-kerajaan abal-abal (Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagad), situasi dilematis atas kepulangan Warga Negara Indonesia eks anggota NIIS, kekerasan terhadap manusia hingga berujung pada pembengkakan sikap ultranasionalis di beberapa bagian wilayah Indonesia dan yang terakhir bangkitnya fenomena doxing yang berujung pada keterancaman dan pembungkaman suara kritis.

Kasus yang sudah terbeber tanpa disadari sering mengalami pengulangan atau repetisi. Berhadapan dengan kondisi ini menurut saya, kita sudah memasuki fase enggan belajar dari realitas. Sederhana saja persoalannya bahwa kita ada hanya sebagai kumpulan manusia saja tanpa banyak mendombrak situasi sosial kita. Ortega y Gasset benar bahwa “zaman kita menderita sakit bahwa hanya ada terlalu sedikit manusia dan terlalu banyak orang”.

Belajar dari kondisi demokrasi bangsa kita, justru saya menemukan dua katup kejanggalan dan gap yang silang sengkarut. Pertama, sikap optimisme terhadap demokrasi. Sikap ini memuat konsekuensi logis bahwa demokrasi tetap sanggup menyediakan yang terbaik bagi masa depan. Anggapan ini memberi peluang bagi setiap orang untuk merawat dan memperjuangkan marwah demokrasi.

Sebaliknya sikap kedua selalu bersifat pesimis terhadap masa depan demokrasi. Pemakluman terhadap pesimisme ini tentu berpaling kepada realitas akut yang sering menghujani bangsa kita. Kenyataan ini menyodorkan sebuah problem antara yang mau dan tidak atau antara yang enggan dan berkeinginan untuk memajukan tatanan demokrasi.

Sikap dari pihak pertama menuntun kita untuk mengacungkan jempol bahwa ambisi untuk menghidupi demokrasi merupakan mimpi bersama. Sementara itu, pihak kedua memaksa kita untuk melihat demokrasi bukan hanya sebagai ‘ritus’ sembahan publik semata-mata yang harus disanjung-sanjung tetapi menyadarkan setiap orang untuk tetap mewaspadai ancaman yang turut merintangi arus demokrasi itu sendiri.

Lantas dari keterpecahan sikap ini mana yang perlu kita ambil dan kita hidupi sebagai masyarakat demokratis? Dari sikap yang sudah diambil ini, ke mana kita hendak melangkah?

Menurut saya, sikap yang perlu diambil alih oleh manusia Indonesia berhadapan dengan dua kenyataan ini adalah sikap optimisme terhadap masa depan demokrasi. Sikap ini perlu dan mendesak untuk diambil sebab bagi saya awal mula kebangkitan gagasan atas pembengkakan pesimisme publik terhadap demokrasi justru lahir dari kekurangpercayaan terhadap masa depan demokrasi.

Oleh karena itu, demi terwujudnya sikap ini seseorang mesti berani untuk tidak berkooptasi dalam jaringan pembusukkan marwah demokrasi. Sehingga kita tidak hanya hadir sebagai kumpulan para pemuja demokrasi tetapi hadir sebagai agen yang mampu memberikan kontribusi terhadap keharmonisan publik. Dengan pengenaan baju optimisme maka kita akan sanggup mengkritisi, memperbaiki, dan meminimalisasi tindakan yang tidak demokratis.

Sampai pada pengambilan sikap seperti ini kita semua tentu haqqul yakin bahwa api demokrasi tidak mati untuk meninggalkan jejak (trace) apresiasi saja tetapi aspek pengorbanan diri dari semua warga yang sedang hidup dan tumbuh di dalamnya.

Oleh karena itu, dengan kehadiran demokrasi yang dibarengi oleh perkembangan zaman yang semakin meledak seharusnya spiritualitas kita sebagai manusia Indonesia tidak boleh pudar. Demokrasi yang baik sejatinya datang dari cara kita menjadi manusia pancasilais yang hidup dengan terus melakoni ideologi pancasila.

Dengan itu, literasi kebangsaan harap tetap diperteguh sebagai solusi masif agar kita tidak hanya menjadi penonton pasif yang sekadar memberi apresiasi tetapi bekerja bersama pemerintah. Sekali lagi demokrasi kita sedang tidak demam sanjungan!

Vinsen Derosari adalah Mahasiswa STFK Ledalero

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya