Degradasi Kesantunan Dalam Bermedia Sosial

Ibu Pekerja
Degradasi Kesantunan Dalam Bermedia Sosial 08/03/2021 344 view Opini Mingguan www.brilio.net

Orang Indonesia selalu bikin ramai. Perhatikan saja ketika ada pertandingan bulutangkis antar negara, penonton Indonesia paling heboh. Yel-yel yang dilontarkan bisa mengalihkan perhatian atlet lawan. Begitu juga di media sosial, penonton di sini lebih dikenal dengan istilah netizen. Yang membedakannya hanyalah “ruang” dalam melontarkan kata-kata. Hanya dengan satu status atau satu gambar, bisa mengakibatkan pertengkaran antar netizen itu sendiri. Sedangkan si pemilik status bisa jadi tidak membacanya satu persatu.

Ketika Microsoft menerbitkan hasil surveinya di Februari 2021 mengenai tingkat kesopanan netizen atau pengguna internet yang menyatakan bahwa netizen Indonesia meraih peringkat paling akhir dari segi kesopanan, menyatakan bahwa netizen Indonesia merupakan netizen yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Masyarakat Indonesia pun kembali heboh. Ramai-ramai dengan kompaknya mengomentari akun Microsoft di Instagram, hingga orang-orang pintar di balik akun perusahaan besar itu ciut dan menutup kolom komentarnya.

Tentu saja hasil survei ini mengejutkan semua pihak, karena selama ini bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun. Setidaknya itulah komentar para wisatawan asing yang datang ke Indonesia. Santunnya penduduk dan indahnya alam Indonesia membuat semua orang yang datang ke Indonesia menjadi nyaman dan betah.

Survei tersebut diikuti oleh 32 negara yang mendudukan Indonesia di peringkat ke 29 dari 32 negara dari segi kesopanan. Secara garis besar, Indonesia berada di posisi paling akhir mengenai kesopanan online di kawasan Asia Tenggara. Adapun aspek kesopanan online tersebut dinilai dari 3 hal, yaitu paparan kabar hoaks, ujaran kebencian, penipuan atau diskriminasi yang dialami di dunia maya.

Melihat dari rentang waktu survei yang dilakukan, yaitu bulan April sampai dengan Mei 2020, banyak kejadian di Indonesia yang menjadi peluang dalam penyebaran kabar bohong atau hoaks. Munculnya isu keikutsertaan anak dan menantu Presiden Indonesia dalam Pilkada di Solo dan Medan serta kebijakan PSBB dalam meminimalkan dampak pandemi Covid-19 yang dianggap sekelompok orang sebagai lockdown menimbulkan kerisauan masyarakat dalam beraktifitas.

Ketidakmampuan menyaring informasi yang beredar, mengakibatkan masyarakat termakan isu yang belum tentu kebenarannya. Mereka menerima informasi lalu menyebarkannya. Terlebih lagi jika di akhir informasi terdapat kata-kata “sebarkan dan bla…bla…bla…” atau “sebarkan ke 5 WAG anda”. Ketika isu tersebut menyebar, muncullah klarifikasi dari pihak terkait bahwa berita tersebut bohong. Namun, biasanya klarifikasi seperti ini menyebar lebih lambat dibandingkan dengan berita bohong yang sudah meluas kemana-mana.

Media sosial adalah tempat umum atau publik yang menjadi tempat tumbuh suburnya kasus perundungan secara verbal untuk siapa saja. Tak terkecuali bagi pejabat negara. Akun pejabat negara, baik itu yang dikelola sendiri maupun di bawah manajemennya tak luput dari komentar-komentar negatif netizen. Contohnya saja, ketika banjir besar di Jakarta baru-baru ini, akun Gubernur Jakarta Anies Baswedan ramai diserang netizen. Bahkan orang yang tidak berdomisili di Jakarta pun ikut menyerang.

Di masa pandemi ini, ketika beberapa kebijakan pembatasan aktivitas diterapkan, masyarakat cenderung lebih banyak menggunakan waktunya untuk berselancar di dunia maya khususnya media sosial. Gawai pintar memiliki berbagai aplikasi yang memungkinkan satu orang bisa memiliki beberapa akun yang berbeda untuk satu platform media sosial. Sebut saja aplikasi TwinApp. Aplikasi tersebut memungkinkan dua akun Instagram digunakan dalam satu gawai. Akibatnya, ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab membuat akun palsu yang bisa digunakan untuk meninggalkan jejak komentar di status seseorang tanpa menjelaskan siapa mereka sebenarnya.

Ketika sebuah status telah dilemparkan ke ranah publik, maka pemilik status tersebut harus sudah siap dengan segala konsekuensinya. Komentar baik ataupun buruk harus diterima. Oleh karena itu, jika kita belum siap menerima serangan komentar pedas dari netizen, matikan saja kolom komentar. Walaupun mematikan kolom komentar itu ibarat kita berbicara di depan orang banyak, tapi hanya dilihat dengan tatapan kosong.

Seperti kata-kata dalam sebuah quote bijak, "kita hanya punya dua tangan, sehingga kita tidak mampu untuk menutup semua mulut di luar sana. Tetapi, kita bisa menggunakan dua tangan untuk menutup telinga dan fokus dengan apa yang kita kerjakan".

Mengaktifkan privat akun juga bisa menjadi cara lain untuk menahan komentar-komentar dari orang yang tidak dikenal. Namun, bagi orang-orang yang aktif bermedia sosial, jumlah follower dan “centang biru” diujung akun merupakan tolok ukur ketenaran mereka.

Kembali ke hasil survei yang menghebohkan tadi, hasil tersebut tidak bisa dikatakan mewakili netizen Indonesia. Hasil survei hanya berdasarkan jawaban yang diberikan oleh responden. Jumlah responden yang diambil (sebanyak 503 responden) tidak bisa dianggap mewakili sebuah populasi. Semakin banyak sampel yang diambil, semakin mampu ia mewakili sebuah populasi.

Namun ada baiknya jika hasil survei tersebut dijadikan pelajaran penting bagi netizen di Indonesia untuk mencoba menjadi lebih bijak dalam bersosial media, lebih bijak dalam menggunakan perangkat digital sebagai alat untuk berkomunikasi dan mencari informasi, serta lebih bijak dalam menyebarkan informasi. Saring dulu baru sharing. Percepatan perbaikan UU ITE yang dianggap pasal karet mengenai penghinaan, penyebaran berita bohong dan pencemaran nama baik di media sosial diharapkan menjadi lebih jelas penerapannya sehingga bisa dijadikan salah satu cara untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku kejahatan di dunia maya. Sehingga, terciptanya ruang digital yang nyaman, ramah dan beretika dapat diwujudkan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya