Susur Sungai dan Pertaruhan Nyawa Siswa

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Susur Sungai dan Pertaruhan Nyawa Siswa 30/10/2021 168 view Pendidikan detikNews

Program ekstrakurikuler siswa di sekolah kerap berkaitan dengan risiko keselamatan. Hal ini (kembali) terlihat pada kegiatan susur sungai Madrasah Tsanawiyah MTs Harapan Baru Ciamis, Jawa Barat di Sungai Cileueur yang meninggalkan duka dan pilu mendalam (Republika.co.id, 6/10/2021). Sebanyak 150 siswa mengikuti kegiatan tersebut, 21 di antaranya tenggelam, sementara 11 tewas. Kejadian ini patut menjadi peringatan keras agar semua pihak bertindak hati-hati dan menimbang tata kelola risiko dalam berkegiatan di luar maupun di dalam ruangan, terlebih yang menyertakan banyak peserta.

Pasalnya, para siswa yang semestinya mendapatkan ilmu, pengetahuan, dan keterampilan dalam Pramuka malah mengalami nasib nahas. Insiden maut susur sungai di Ciamis tersebut mengingatkan hal yang sama, dengan momen kegiatan yang juga serupa, di Yogyakarta pada awal tahun lalu yang menelan korban 10 siswa SMPN 1 Turi, Sleman. Di titik ini, kejadian serupa yang telah menimbulkan korban jiwa tidak mampu menjadi catatan penting untuk pembelajaran dan antisipasi risiko bersama sejauh ini.

Tindakan antisipatif rasanya masih menjadi perkara serius dan menimbulkan pertanyaan dalam konteks disiplin berkegiatan siswa. Dengan menyusuri sungai, sudahkah dicek kedalaman sungai, kondisi trek, simulasi kebencanaan, sarana keselamatan, dan sebagainya? Dalam konteks susunan acara, apakah hanya sungai, dengan segala risiko tak terprediksinya, yang bisa dijadikan media untuk berkegiatan pramuka? Rasanya, masih banyak pertanyaan terkait lainnya yang bisa diajukan.

Secara umum risiko dipahami sebagai akibat buruk dari sebuah kejadian atau rencana. Karena sifat risiko yang tidak pasti, risiko berkecenderungan mengakibatkan kerugian. Risiko tentunya tidak bisa diatur-atur karena di luar kemampuan manusia, namun meminimalisir konteks, dampak, dan skala risiko tetap bisa dilakukan. Sayangnya, dalam kasus susur sungai MTs Harapan Baru Ciamis tersebut tidak terlihat upaya untuk memahami dan memprediksi risiko.

Beraktivitas dan berkegiatan di alam terbuka tentu menumbuhkan semangat tersendiri. Namun, kondisi alam kerap berupa hal yang tidak dapat diprediksi. Dari semula diandaikan sebagai hal yang sangat dikenali dan berupa kebiasaan, kondisi reaktif alam bisa berubah dengan cepat. Dengan demikian, salah satu unsur dari ketidakpastian itu adalah alam.

Alam sering kali tidak memberi tanda-tanda yang cukup mampu ditangkap indera manusia tentang bencana yang akan dimuntahkannya. Namun, manusia diberi peluang untuk belajar dari peristiwa yang telah terjadi sebelumnya dengan mewujudkannya dalam bentuk manajemen risiko. Dengan manajemen risiko, potensi kerugian materiil dan nonmateriil dapat dikurangi.

Aktifitas secara masif dalam pramuka seperti susur sungai niscaya banyak ditemui di berbagai lembaga pendidikan lain. Pramuka memang menekankan kerja tim. Di dalamnya cenderung terdapat banyak siswa dengan kolektifitas kebersamaan yang intens, sebutlah hiking misalnya. Pramuka juga mendorong siswa memiliki keberanian dan memupuk jiwa “ksatria”. Susahnya, makna terluas dari berani dan ksatria kadang berdekatan dengan risiko dan bahaya yang menyertai dan tidak diprediksi.

Artinya, tanpa berharap kejadian serupa terulang, tetap terbuka risiko terjadinya kembali peristiwa tersebut di tempat lain. Dibutuhkan pemahaman yang memadai mengenai tata kelola kegiatan siswa pada lembaga Pendidikan Islam yang berbasis manajemen risiko.

Pramuka dan Pelajar Pancasila

Kegiatan susur sungai yang berubah menjadi insiden maut tersebut merupakan kegiatan Pramuka. Perangkat regulasi terkait hal ini adalah Permendikbud Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan Sebagai Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam afirmasi regulasi ini disebutkan bahwa kegiatan Pramuka wajib dijalankan di sekolah/madrasah pada jalur luar kurikulum.

Selain itu, regulasi tersebut juga menyebutkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler wajib dijalankan di lingkungan madrasah (intramural) dan di luar madrasah (ekstramural). Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan sebagai upaya memperkuat proses pembentukan karakter bangsa yang berbudi pekerti luhur sesuai dengan nilai dan moral Pancasila.

Dalam konteks perkembangan terkini, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka menjadi bagian penting dalam upaya mendorong visi dan misi selaku Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama, yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Pramuka, melalui beragam aktivitas dan praktik baik yang diajalankan di dalamnya, merefleksikan beragam ciri Pelajar Pancasila tersebut.

Kegiatan ekstrakurikuler adalah program pendidikan yang alokasi waktunya tidak ditetapkan dalam kurikulum. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan perangkat operasional (suplemen dan komplemen) kurikulum, yang perlu disusun dan dituangkan dalam rencana kerja tahunan atau kalender pendidikan satuan pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler menjembatani kebutuhan perkembangan peserta didik yang berbeda; seperti perbedaan rasa akan nilai moral dan sikap, kemampuan, dan kreativitas. Melalui partisipasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler, peserta didik dapat belajar dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dengan orang lain, serta menemukan dan mengembangkan potensinya.

Minim Pemahaman Risiko

Regulasi Permendikbud Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan Sebagai Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Menengah dimaksudkan sebagai rujukan normatif dan programatik semua unsur pemangku kepentingan pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan satuan pendidikan. Sebagai arahan dan pedoman pelaksanaan kegiatan, regulasi ini sudah mencakup banyak hal. Sayangnya, tidak satupun afirmasi yang menyebut risiko di dalamnya. Dengan sendirinya, pentingnya manajemen risiko kegiatan ekstrakulikuler yang ekstramular terabaikan.

Namun demikian, absennya manajemen risiko dalam hirarki dan konten regulasi yang menjadi pedoman bersama tersebut menyebabkan madrasah ikut-ikutan abai dalam mengukur skala risiko. Akibatnya, bencana dan insiden yang mestinya bisa dihindari dengan logika keselamatan tidak terhindarkan.

Madrasah tidak bisa hanya mendasarkan alasan pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai kegiatan rutin yang sudah dijalankan bertahun dan menganggap tragedi hanyalah insiden. Jika dikonstruksi sebagai dalih, alasan naif seperti ini sungguh tidak menghargai jatuhnya korban jiwa, luka, dan trauma pada siswa.

Kegiatan ekstrakurikuler siswa beragam sesuai kebutuhan dan keputusan madrasah. Di luar kegiatan pramuka, sangat mungkin madrasah mengembangkan kegiatan yang melibatkan banyak siswa, berada di luar ruangan, dan berdekatan dengan banyak risiko. Jika kegiatan pramuka, yang merupakan ekstrakurikuler wajib dengan perhatian luas saja tidak memiliki wawasan manajemen risiko, bagaimana dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya?

Oleh karenanya, dibutuhkan pemahaman dan edukasi lebih lanjut tentang manajemen risiko dalam berkegiatan di madrasah agar terhindar dari kejadian buruk yang berulang.

Kejadian susur sungai ini jangan sampai membuat siswa dan masyarakat menjadi jerih dan mengabaikan sungai. Sungai memiliki jaringan sistem yang merentang mulai dari kualitas air dan biota yang hidup di dalamnya hingga ekologi pada sempadannya.

Dengan demikian, mengenalkan sungai pada siswa bermanfaat untuk “menitipkan” masa depan lingkungan kepada mereka. Sungai memiliki dukungan ekosistem yang kuat terhadap lingkungan yang dilaluinya, hingga sungai perlu dikenali mulai dari sumber airnya, sifat sungai, tingkat pencemaran, dan sebagainya.

Jika kualitas lingkungan dan disiplin kebersihan masyarakat buruk, maka buruk pula kualitas sungainya. Padahal, pada pundak pendidikan bergantung harapan besar pola dan kebiasaan hidup sehat dan menjunjung disiplin kebersihan.

Insiden tewasnya siswa dalam susur sungai adalah sebuah kecerobohan, karena dilaksanakan tanpa menghitung dan meminimalkan risiko yang akan terjadi. Namun, kejadian tersebut eloknya bukan untuk menjauhkan diri dari sungai. Keberhasilan kegiatan susur sungai sebaiknya bukan diukur dari keberanian menerjang arus dan bahaya sungai, namun pada pemahaman terhadap kualitas sungai dan pemanfaatannya untuk lingkungan dan warga sekitar.

Dalam praktik susur sungai, sikap berani yang ditanamankan pada Pelajar Pancasila seharusnya mewujud pada keberanian dan kesediaan untuk menjunjung dan menjaga lingkungan, serta membangun disiplin kebiasaan dan pola hidup pelestarian lingkungan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya