Subjek: Redefinisi, Dilema dan Paradoksnya

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Subjek: Redefinisi, Dilema dan Paradoksnya 10/01/2021 213 view Lainnya Pinterest

Hal yang kiranya menjadikan manusia dominan di bumi ini-untuk tidak mengatakan berkuasa-adalah ilmu pengetahuan. Sekitar tiga abad sebelum masehi Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang berpikir. Tentu ilmu pengetahuan dibidani dan kemudian dilahirkan dari manusia yang berpikir.

Salah satu pengetahuan yang cukup memuaskan manusia hari ini adalah sains, yang manfaat realnya bisa dirasakan dalam bentuk teknologi. Kemudahan muncul di sana-sini akibat adanya teknologi beserta kemajuannya. Namun seperti yang kita sadari bersama, kemajuan ini bergandengan juga dengan dampak buruknya.

Individu terisolasi akibat gadget dan memilih untuk intens berinteraksi di dunia maya. Meningginya pola konsumerisme akibat adanya online shop, karena inidividu cukup diam di tempat lalu barang pesanannya datang beberapa hari kemudian. Belum lagi menghadapi citraan-citraan produk yang mengairahkan untuk dibeli.

Pengetahuan sebagai penyebab lahirnya teknologi pun tak lepas dari peluang yang mengancam individu. Secara tidak sadar kita sering kali dijejali pengetahuan yang sebetulnya ada kepentingan di balik tirai-tirai pengetahuan itu.

Sekilas Tentang Baudrillard dan Foucault

Subjek sebagai suatu entitas sadar yang merujuk kepada ‘aku’, yang di dalamnya hadir segala kompleksitas pengalaman, perasaan, kesadaran, pengetahuan.

Subjek yang kompleks ini seharusnya hadir dari permenungan yang panjang, dari kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreativitas. Rene Descartes pernah mengeluarkan adagium yang terkenal dalam dunia filsafat yaitu “aku berpikir maka aku ada’, adagium yang muncul dari proses penyangsian segala sesuatu hingga sampai tiba pada kesimpulan bahwa satu-satunya yang tidak bisa ia sangsikan atau yang ada hanyalah ia yang sedang menyangsikan sesuatu. Dan kini proses itu bisa dilakukan secara singkat tanpa langkah-langkah kesadaran diri, kehendak bebas dan kreativitas.

Jean Baudrillard seorang filsuf pascastrukturalis yang membahas potret kehidupan masyarakat kontomporer secara mendalam. Ia menggagas sebuah teori tentang dunia simulakra. Simulakra adalah instrumen yang merubah hal abstrak menjadi kongkret dan begitu pun sebaliknya. Di dalamnya muncul kumpulan simbol yang mereprsentatifkan sesuatu dan malah yang dianggap lebih penting adalah simbolnya daripada yang dipresentasikan. Dunia simulakra mudah sekali ditemukan misalnya di tv, video game, komputer.

Tidak berhenti sebatas pada hal-hal yang disebutkan di atas, lebih jauh ia berkeliaran di balik arus komoditas yang tidak terbendung dalam bentuk manipulasi tanda. Contohnya dalam komoditas yang begitu kreatif untuk menarik hasrat konsumen dengan mengandalkan simbol-simbol. Ketika suatu produk memiliki tampilan yang menarik, mempunyai brand yang lebih terkenal, secara tidak langsung itu akan merangsang bawah sadar agar membelinya.

Belum lagi di dalam dunia simulakra menghadirkan hiperealitas atau sesuatu yang melebihi realitas. Hiprealitas ini tercontoh dalam iklan parfum, di iklan tersebut ditunjukan ketika seseorang memakai parfum itu, maka seluruh wanita akan mengejarnya.

Dari paparan mengenai simulakra dan hiperealitas sebetulnya ingin menunjukan betapa manusia akhirnya mudah sekali terkena tipu daya komoditas yang mementingkan simbol atau merk, mudah sekali terjebak di dalam televisi dan video game dibanding berinteraksi dengan sesama manusia ril. Bahkan menurut Baudrillard kedudukan sosial seseorang ditentukan oleh pilihan seleranya atau disebut distingsi. Ini terbukti ketika kita mengalami rasa malu untuk bergaul dengan mereka yang pilihan seleranya tinggi, entah dari segi musik, harga makanan dan minuman atau merk baju.

Setelah dari Baudrillard kita akan beranjak menyinggung sedikit pemikiran filsuf pasca strukturalis juga yaitu Michael Foucault. Menurutnya, dalam pengetahuan terdapat relasi kekuasaan, relasi yang menentukan mana yang baik dan buruk, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Sehingga pada akhirnya setiap periode sejarah tertentu memiliki standar kebenarannya sendiri, atau masyarakat pada periode sejarah tertentu memiliki cara pandang yang khas.

Kekuasaan ini mengontrol dalam bentuk yang sublim, melalui wacana atau sebuah ide yang terus menerus dikomunikasikan. Dalam kaitannya dengan kondisi simulakra tadi misalkan, apa yang kiranya mendorong kita agar membeli produk mengutamakan merk dibanding nilai gunanya? Jika jawabannya karna muncul rasa takut dianggap kurang up to date, maka secara tidak langsung kita telah dihegemoni oleh wacana itu. Semacam wacana agar selalu mengikuti trend yang dibentuk oleh sebagian kecil pemilik modal.

Kekuasaan dalam pikiran Foucault tidak dipahami sebagai kekuasaan yang memusat, kekuasaan ini lebih menyebar, menormalisir. Contoh lain, sering kali lingkungan mendikte kita agar mempunyai pekerjaan yang mapan, atau bahagia itu harus memiliki rumah mewah, memiliki mobil, dan kita mudah sekali terpegaruh oleh wacana-wacana semacam itu. Atau negara memiliki definisi mengenai mana warga negara yang baik mana yang tidak, itu merupakan sebentuk wacana.

Redifinisi, Dilema dan Paradoks Subjek

Setelah sedikit membahas mengenai pemikiran dua filsuf tersebut, penjelasan tadi bisa menjadi gambaran bagaimana manusia mudah sekali terseret atau dikendalikan oleh realitas ilusif di luar dirinya. Subjek otonom yang selama ini diagungkan oleh abad pencerahan nyatanya tak lebih dari produk kebudayaan bujuk rayu, sebatas subjek yang pandai melepaskan hasrat pada komoditas yang mengalir dengan deras dan silih berganti dengan cepat tanpa kontrol.

Subjek akhirnya didefinisikan oleh sebatas apa yang ia pakai, yang ia konsumsi, dan apa seleranya. Adagium dalam filsafat pun bisa menjadi “aku mengonsumsi maka aku ada”.

Membeli barang sebatas pada nilai simbol yang dimilikinya dibanding nilai guna, dan malah memiliki ketakutan ketika barang yang dimilikinya sudah ketinggalan trend. Ketika Iphone mengeluarkan seri terbarunya, bergegaslah ia membeli seri terbaru padahal handphone lamanya masih bisa dioperasikan.

Tak berhenti di situ, ia harus berhadapan dengan realitas objek yang mengaturnya cara berpikir dan bertindak, memang wacana tidak selalu berkonatasi buruk namun boleh jadi menunjukan subjek yang hilang ditelan wacana-wacana itu. Namun bukan berarti subjek hilang begitu saja dalam relasi objek-objek komoditas atau wacana tadi. Memang ini menciptakan dilema tersendiri, karena di satu sisi kita sebagai manusia tetap memiliki kemampuan untuk merealisasikan sesuai apa yang kita kehendaki.

Maka dari itu, hal yang paling memungkinkan untuk dilakukan sebagai subjek adalah menerima suatu keadaan paradoks sebagai subjek yang bebas sekaligus tidak, yang membentuk sekaligus dibentuk. Untuk terus menjaga tegangan tersebut dalam sebuah paradoks, jatuh pada sisi yang menghilangkan subjek adalah hal yang tidak diinginkan, namun realitas mendorong ke arah sana. Menjadi subjek yang murni otonom seratus persen juga sangat kecil kemungkinannya, karena simulakra dan wacana-wacana hadir merasuk secara tidak disadari.

Selain menjaga tegangan paradoks tersebut, ini menjadi momen untuk mengasah tingkat kritisisme kita dan menjadi momen kontemplasi sejauh mana kehendak bebas kita berbuat dan mengontrol kita, bukan oleh realitas di luar dirinya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya