Pancasila dan Pembentukan Karakter Orang Muda Katolik (OMK)

Penambal Kata
Pancasila dan Pembentukan Karakter Orang Muda Katolik (OMK) 03/11/2022 69 view Pendidikan Kegiatan outbound OMK Paroki Gembala Baik Batu-Malang

Nilai-nilai dalam pancasila sebelum dirumuskan secara eksplisit sebagai nilai-nilai hakiki dalam zaman pergerakan nasional, pada awalnya adalah warisan budaya yang secara implisit berakar dan bersumber dalam kultur masyarakat. Nilai-nilai ini menjadi tuntunan bagi bangsa Indonesia dalam berpikir dan bertindak atau telah menjadi falsafah bagi masyarakat Indonesia, tak terkecuali dalam diri kaum muda, sebagai generasi penerus bangsa. Berakarnya nilai-nilai ini membuat masyarakat Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang bermoral kendatipun masih ada kepincangan dalam berperilaku.

Berhadapan dengan situasi bangsa kita yang sekarang ini sering dirong-rong oleh isu munculnya ideologi-ideologi yang bertentangan dengan falsafah negara, maupun bertentangan dengan ajaran agama, maka Orang Muda Katolik (OMK) sebagai bagian dari generasi penerus bangsa ini diajak untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Pancasila. Jika dalam lembaga pendidikan formal saat ini, pemerintah semakin menggaungkan pendidikan karakter melalui projek profil pelajar Pancasila, semangat yang sama juga bisa digemakan dalam diri OMK.

Pancasila Sebagai Pembentuk Karakter Orang Muda Katolik

Pancasila merupakan hasil kesepakatan bersama seluruh bangsa Indonesia untuk hidup dalam satu negara kesatuan Republik Indonesia. Karena Pancasila merumuskan nilai-nilai dasar manusiawi, maka ia dapat dipandang sebagai definiag characteristics yang memberi pedoman hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kelima sila dari Pancasila dengan jelas mencantumkan nilai-nilai perikemanusian dan persatuan serta keadilan sosial yang diyakini secara universal. Namun asas permusyawaratan dan ketuhanan menampilkan corak pandangan hidup yang khas bagi kebudayaan Indonesia, yakni corak relisius-sosial.

Bagi bangsa Indonesia, Pancasila sangat penting karena merupakan pandangan hidup bangsa yang telah diakui bersama sebagai dasar filsafah negara Indonesia. Pancasila sebagai dasar falsafah negara (philosofische grandslog) dalam pengertian yang bersifat etis dan filosofi mempunyai fungsi sebagai pengatur tingkah laku pribadi dan cara-cara dalam mencari kebenaran.

Indonesia sebagai negara Pancasila berperan untuk memperjuangkan dan menegakan martabat manusia. Hal sama ini juga diperjuangkan oleh Gereja. Dalam statuta Konverensi Wali Gereja Indonesia (KWI) yang disahkan pada bulan November 1987, khususnya dalam pasal 3 dikatakan bahwa: “Dalam terang iman Katolik, Konverensi Wali Gereja Indonesia berasaskan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”. Hal itu berarti bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang luhur seperti yang termuat dalam Pancasila juga terdapat dalam ajaran Gereja. Dalam terang iman Katolik, Gereja menerima Pancasila. Gereja Katolik sangat menghargai Pancasila bukan karena pertimbangan-pertimbangan taktis melainkan nilai-nilai luhur Pancasila itu sendiri.

Pengamalan Pancasila di dalam kehidupan umat Katolik dapat dihayati sebagai suatu perwujudan iman kristiani dalam konteks masyarakat Indonesia. Dengan kata lain bahwa ketika kita menghayati nilai-nilai luhur dari Pancasila berarti kita sudah menghayati ajaran Gereja, demikian pula sebaliknya karena Gereja dan Pancasila mempunyai unsur kesamaan dalam menata atau membentuk manusia kepada kebaikan. Secara keseluruhan maupun ditinjau dari setiap sila, Pancasila mencanangkan nilai-nilai dasar hidup manusiawi sejalan dengan nilai yang dikemukakan oleh ajaran dan pandangan Gereja Katolik. Dari setiap sila yang ada kita dapat melihat bagaimana hubungan antara nilai-nilai Pancasila dengan ajaran Gereja.

Sila pertama, nampak sebagai sila yang sangat penting bagi umat beragama. Sila ini mengajarkan kepada warganya untuk beriman kepada Tuhan yang satu dan menjadi sumber hidup bagi semua orang. Demikian halnya, Gereja Katolik mengajarkan kepada umatnya untuk percaya kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya serta mencintai sesama manusia.

Sila kedua, mencanangkan agar manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makluk Tuhan. Hal ini juga ditemukan dalam Kitab Suci maupun dalam dokumen-dokumen resmi Gereja khususnya Konsili Vatikan II. Misalnya dalam Gaudium et Spes, 29 “Semua cara diskriminasi terhadap hak-hak asasi, bertentangan dengan rencana Allah”.

Sila ketiga, mengamanatkan kepada seluruh bangsa agar menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Konsili Vatikan II menghimbau: “Hendaknya merupakan tugas suci bagi semua orang untuk memandang hubungan-hubungan sosial antara kewajiban utama manusia zaman ini dan melaksanakannya” (Gaudium et Spes, 30).

Sila keempat, menempatkan manusia Indonesia sebagai warga negara yang sama dalam kedudukan, hak dan kewajibannya. Karena itu tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain. Secara implisit Konsili Vatikan II mengemukakan pedoman yang isinya tidak jauh berbeda, yakni “dibutuhkan wewenang yang mengarahkan semua warga kepada kepentingan umum bukan dengan mekanis atau main kuasa tetapi terutama sebagai kekuatan moral yang bertumpu pada kebebasan dan pada kesadaran akan tugas dan beban yang diterima” (Gaudium et Spes, 74).

Sila kelima, menyadarkan kita akan hak dan kewajiban yang sama demi menciptakan keadilan sosial dan kehidupan masyarakat Indonesia. Supaya maksud ini dapat tercapai maka kita dituntut untuk bersikap adil terhadap sesama dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain. Amanat Kristus dengan tegas mengajak kita untuk membawa kabar gembira kepada kaum miskin (Luk 4:8). Sebagai umat kristen kita harus berani mengecam ketidakadilan dan melawan penindasan yang seringkali dilakukan terhadap kaum miskin.

Konsep-konsep tentang kebenaran inilah yang akan membantu kaum muda dalam membangun paradigma tentang dunia, manusia, kerja, relasi antar sesama dan masih banyak aspek lainnya. Tatkala falsafahnya tentang pancasila melekat dalam perspektifnya maka dengan sendirinya pola-pola kepribadiannya akan mudah termanifestasi.

Peran Serta Orang Muda Katolik dalam Masyarakat Pancasila

Orang Muda Katolik di satu pihak merupakan warga Gereja (umat Katolik), namun dalam pribadi yang sama ia juga adalah seorang warga negara. Dikatakan menjadi warga Gereja sejauh mereka mengungkapkan hubungannya dengan Allah lewat Yesus Kristus. Sedangkan menjadi warga negara sejauh mereka menghayati otonominya di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Gereja mengharapkan kepada setiap umatnya (OMK) untuk berperan serta dalam membangun masyarakat Pancasila yang sesuai dengan kemampuan yang ada serta kesempatan yang ada, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Gereja berada di dunia dan serta merta berhadapan dengan otoritas negara. Gereja yang otonom mempunyai umat yang sekaligus juga sebagai warga negara.

Sudah puluhan tahun, ideologi Pancasila yang melandasi tumbuh dan berkembangnya negara kita tidak bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani di mana Pancasila juga menjunjung tinggi martabat manusia. Maka OMK sebagai generasi penerus bangsa dan Gereja, didorong untuk tidak terpengaruh dengan masuknya ideologi-ideologi lain yang dapat memecah-belah persatuan NKRI. Bahkan mejadi tugas atau kewajiban kita bersama untuk memerangi ideologi-ideologi yang bertentangan dengan nilai Pancasila.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya