Potret Kerukunan Nusa Flobamora Dalam Bingkai Nusantara

Potret Kerukunan Nusa Flobamora Dalam Bingkai Nusantara 05/02/2021 97 view Agama Dokumen pribadi

Setiap tanggal 3 Januari, Kementerian Agama Republik Indonesia merayakan Hari Amal Bhakti. Moment ini diperingati sebagai hari lahirnya Kementerian Agama Republik Indonesia. Pada tahun 2021, Hari Amal Bhakti Kementerian Agama RI dirayakan ke 75 dengan tema “Indonesia Rukun".

Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan dan menjamin kemerdekaan beragama. Halmana diatur dalam UUD 1954 pasal 29 yang menegaskan bahwa “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” (pasal 1) dan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu” (pasal 2).

Ini berarti bahwa semua warga negara berhak memilih agama sesuai keyakinannya tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan berhak untuk menjalankan kegiatan keagamaan dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun. Dan Kementerian Agama hadir untuk memenuhi hak warga negara dalam menjalankan kemerdekaan beragama tersebut.

Lahirnya Kementerian Agama Republik Indonesia juga punya alasan lain. Bahwa peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting. Sejak zaman pra kemerdekaan, peran agama lewat tokoh-tokoh agama dalam perjuangan merebut kemerdekaan sangat besar. Harus diakui bahwa kemerdekaan yang kita raih tidak terlepas dari peran agama(wan).

Di masa kemerdekaan peran agama sangat penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai entitas yang mengajarkan kebaikan, agama selalu membawa pesan damai. Misi agama adalah menyebarkan kerukunan dan perdamaian bagi umat manusia. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

Potret Buram Kerukunan Hidup Umat Beragama di Indonesia

Walau kebebasan beragama dijamin oleh negara dan diperkuat oleh kehadiran Kementerian Agama RI kini berusia 75 tahun, namun dalam realitasnya masih menyisakan sejumlah problem. Masih ada warga negara yang mengalami diskriminasi dan persekusi dan tidak bebas menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat ada sekitar 488 kasus pelanggaran kebebasan beribadah dan berkeyakinan selama empat tahun pemerintahan Jokowi-JK. Tindakan pelanggaran ini dilakukan oleh individu dan ormas dengan motif yang mendasarinya adalah agama dan politik.

Beberapa kasus bisa diangkat, seperti penyerangan gereja St. Lidwina tanggal 11 Februari 2018 ketika jemaat sedang mengikuti misa yang dipimpin Romo Edmund Prier, SJ; penyerangan, perusakan dan pengusiran terhadap penganut Ahmadiyah di Lombok Timur pada 19-20 Mei 2018; perusakan dua wihara dan lima kelenteng di Medan tanggal 29 Juli 2016.

Sementara itu pemerintah Jokowi dalam periode pertama kepemimpinannya bersama JK, mengakui bahwa selama kurun waktu 2015-2017 Indek Kerukunan Beragam di Indonesia mengalami penurunan. Pada tahun 2015, Indek Kerukunan Beragama mencapai 75,36 persen, lalu pada tahun 2016 meningkat sedikit menjadi 75,47 persen, dan menurun menjadi 72,2 persen pada tahun 2017 (tempo.com.,20/10/2018).

Data di atas mengambarkan potret buram kerukunan hidup beragama di Indonesia dan hal ini menunjukkan bahwa negara gagal dalam menjamin kebebasan beragama setiap warga negara sesuai amanat konstitusi.

Potret Kerukunan Nusa Flobamora

Walau secara nasional terdapat noktah hitam kebebasan beragama, namun di daerah tertentu kehidupan umat beragama sangat harmonis. Karena itu bertepatan dengan Hari Amal Bhakti, ijinkan saya untuk memotret kerukunan hidup umat beragama di Nusa Tenggara Timur. Karena NTT sering dijadikan barometer kerukunan hidup beragama di Indonesia. Nusa Flobamora bagai oase di tengah kegersangan hidup beragama di padang Nusantara.

Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi di Indonesia timur dengan banyak keberagaman. Provinsi yang terdiri dari beberapa pulau ini memiliki keberagaman dalam hal agama, budaya, adat istiadat, bahasa, suku. Keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan merupakan hal yang tidak bisa dihindari.

Seperti taman yang tampak indah karena banyaknya bunga, kehidupan akan menjadi indah oleh karena keberagaman. Itulah potret kehidupan nusa Flobamora. Walau memiliki keberagaman, masyarakat tetap hidup rukun dan damai. Konflik sosial karena keberagaman tidak pernah terjadi di nusa Flobamora.

NTT sering dikatakan sebagai Nusa Paling Toleran. Survei yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2018, menunjukkan bahwa masyarakat NTT memiliki kerukunan hidup umat beragama paling tinggi. Berdasarkan survei ini, NTT dinobatkan sebagai provinsi paling toleran di Indonesia.

Secara faktual, kehidupan di nusa Flobamora sangat toleran. Di seluruh wilayah Flobamora, masyarakat hidup rukun, aman dan damai. Toleransi bukanlah narasi semu. Semangat toleransi benar-benar membumi karena masyarakat sangat menghargai perbedaan. Perbedaan bukanlah penghalang untuk merajut persaudaraan. Justru sebaliknya perbedaan dijadikan sebagai benang untuk menyulam persaudaraan.

Potret kerukunan di nusa Flobamora ini hemat saya berkat dua hal berikut. Pertama, agama. Kehadiran agama di Flobamora benar-benar membawa pesan damai. Dalam hari-hari besar keagamaan, tidak hanya umat beragama tersebut saja yang terlibat tetapi juga melibatkan umat beragama lain. Misalnya, setiap tahun dalam perayaan Semana Santa di Larantuka, remaja mesjid ikut serta dalam menjaga keamanan perayaan tersebut. Di sinilah munculnya peran agama dalam menjaga kerukunan di nusa Flobamora.

Kedua, budaya atau adat istiadat. Selain agama, masyarakat Flobamora tetap menjaga budaya dan adat istiadat yang merupakan warisan dari nenek moyang. Kalau agama merupakan hasil impor dari luar, budaya dan adat istiadat lahir dari rahim Flobamora. Inilah ikatan yang menguatkan persaudaraan dan kekeluargaan di tanah Flobamora.

Potret kerukunan yang kita banggakan ini harus terus dirawat. Karena itu saya mengusulkan dua hal penting. Pertama, dialog antar umat beragama perlu terus digalakkan. Kegiatan-kegiatan keagamaan dan atau sosial dilibatkan umat lintas agama.

Kedua, perkuat peran lembaga adat atau budaya. Lembaga adat di desa atau kampung harus diberi peran lebih karena merekalah yang berada di akar rumput, dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu selain tokoh agama, tokoh adat di kampung juga harus dilibatkan dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Akhirnya, bagi putra-putri Flobamora, mari kita terus merawat dan menjaga taman Flobamora yang indah ini dengan memupuk persatuan, kesatuan dan kerukunan antar sesama anak Flobamora. Dengan demikian, kehidupan nusa Flobamora yang rukun, aman dan damai ini tetap menjadi potret indah dalam bingkai “retak” kerukunan hidup bangsa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya