Stigma Sosial Janda dan Patriarki
Apa yang terlintas di pikiran Anda jika mendengar kata “Janda?” Perempuan penggoda? Perempuan tidak benar? Atau malah perempuan menggoda?
Menurut KBBI Janda merupakan wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai atau pun karena ditinggal mati suaminya. Dengan kata lain setiap orang yang sudah berpisah dengan suaminya disebut sebagai janda. Dalam realita kehidupan, status ini menjelma sebagai ujian berat untuk dihadapi. Bagaimana tidak, seorang janda harus hidup berjuang sendiri untuk kehidupannya sekaligus harus menghadapi stigma yang didapat dari masyarakat.
Seorang janda yang terbiasa hidup mandiri mungkin tidak akan terlalu keberatan untuk menghidupi dirinya sendiri. Namun, berbeda halnya dengan janda yang semula mengandalkan perekonomian dari suaminya. Keadaan ini tentu saja merupakan tantangan yang berat terutama bagi janda yang telah memiliki anak. Mereka harus berupaya ekstra untuk menghidupi dirinya dan anaknya karena sudah tidak memiliki partner dalam rumah tangga. Tidak jarang perempuan-perempuan ini melakukan pekerjaan yang berat dengan risiko tinggi demi bertahan hidup.
Namun, terlepas dari seorang janda telah mandiri secara finansial atau tidak, mereka masih harus menghadapi ujian berat berupa stigma negatif yang melekat pada status tersebut. Status janda sering dianggap sebagai bukti dari kegagalan dan ketidakbecusan seorang perempuan dalam mempertahankan rumah tangganya. Perempuan yang bercerai seringkali dianggap sebagai perempuan yang tidak becus dalam melayani suami. Sehingga seringkali menjadi pemakluman di tengah masyarakat bagi seorang suami mengajukan perceraian.
Dalam kasus perceraian karena perselingkuhan misalnya, pihak perempuan seringkali mendapat lebih banyak hukuman sosial. Seorang perempuan yang bercerai karena suaminya berselingkuh akan dianggap sebagai perempuan yang kurang baik dalam melayani suami, maka menjadi hal yang wajar jika suaminya berselingkuh. Namun, beda halnya jika perceraian disebabkan oleh perselingkuhan yang dilakukan oleh pihak istri, anggapan yang lazim terdengar adalah wanita itu merupakan perempuan murahan dan kurang ajar terhadap suaminya.
Bagaimanapun, tentu saja perselingkuhan bukanlah hal yang patut untuk dilakukan. Hanya saja perbedaan respon masyarakat terhadap kasus perselingkuhan itu sudah jelas mengandung ketidakadilan. Harusnya mereka yang melakukan perselingkuhan mendapatkan perlakuan yang sama. Disadari atau tidak, ketidakadilan ini sebenarnya tidak terlepas dari budaya patriarki yang masih mengakar begitu kuat di tengah masyarakat.
Menurut KBBI patriarki memiliki arti perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Perilaku yang telah membudaya dalam masyarakat ini menganggap Eksistensi perempuan hanya sebagai makhluk pelengkap bagi laki-laki. Dengan kata lain, Perempuan dianggap sebagai makhluk nomor dua atau subordinat yang berfungsi sebagai pelengkap bagi kaum laki-laki yang memiliki kedudukan yang jauh lebih baik yaitu sebagai pemimpin perempuan.
Hidup sebagai perempuan dalam cengkeraman budaya ini tidak pernah mudah. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, sehingga sering mendapatkan beragam bentuk ketidakadilan, diskriminasi, atau bahkan kekerasan.
Kenyataan terlahir sebagai seorang perempuan ditambah lagi dengan menyandang status sebagai janda. Maka ini adalah seperti menghadapi ujian yang berlapis. Bagaimana tidak, hidup sebagai perempuan saja sudah menanggung begitu banyak tantangan, ditambah dengan berbagai stigma yang melekat jika menjadi seorang janda yang seringkali menjadi bahan gunjingan, olok-olokan, hinaan, hingga dijadikan objek seksual.
Seorang janda seringkali dilabeli sebagai wanita penggoda yang siap untuk mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain. Selain itu, janda sering dijadikan sebagai objek seksual baik dalam taraf perilaku maupun verbal. Ungkapan seperti “Janda lebih menggoda” adalah salah satu diantaranya. Maka tidak heran, banyak orang yang menganggap bahwa janda adalah status yang hina dan terlalu menakutkan.
Dalam sejarah keislaman, terdapat kisah yang menunjukkan sebaliknya. Seorang janda justru digambarkan menempati posisi sentral terutama dalam bidang keagamaan. Hal ini terlihat dari kisah pernikahan Nabi Muhammad dengan seorang Khadijah yang merupakan seorang janda. Khadijah justru menjadi wanita pilihan Allah untuk menjadi teman perjuangan Rasul-Nya dalam memperjuangkan agama. Para istri rasulullah selain Aisyah ra juga merupakan janda-janda yang memiliki peran besar dalam kegiatan dakwah. Semua hal itu membuktikan bahwa memang benar derajat manusia tidak dipandang dari status, ras, kedudukan, tetapi dipandang dari ketakwaan kepada Tuhan.
Melalui hal tersebut bisa kita simpulkan, seorang janda tetaplah manusia terhormat yang masih memiliki potensi dan peran dalam segala aspek kehidupan. Sudah saatnya seorang janda dipandang lebih terhormat. Lagi pula, tidak ada orang yang ingin pernikahannya berakhir dengan perceraian. Namun, hal itu bukan berarti perceraian tidak boleh dilakukan. Seringkali perceraian justru adalah pilihan yang terbaik untuk menghindari luka atau bencana yang lebih buruk lagi.
Bagaimanapun, segala bentuk ketidakadilan dan diskriminasi yang diterima oleh seorang janda adalah suatu bentuk kejahatan kemanusiaan.
Artikel Lainnya
-
28704/07/2025
-
20430/05/2025
-
138106/12/2020
-
Akhir Cerita Rekonsiliasi Pasca Pilpres
175829/12/2020 -
Konsep Guru Ideal Dalam Pandangan Ibnu Miskawaih
65428/08/2024 -
Authoritarian Turn dan Pembusukan Demokrasi
101619/02/2024
