Selamat Jalan Artidjo, Algojonya Para Koruptor

Admin The Columnist
Selamat Jalan Artidjo, Algojonya Para Koruptor 01/03/2021 132 view Catatan Redaksi Yuli Isnadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Yuli Isnadi membahas mengenai berpulangnya Artidjo Alkostar. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

Indonesia berduka. Beberapa jam yang lalu salah satu pejuang keadilan terbaik yang dimiliki negeri ini meninggal dunia. Ia adalah Artidjo Alkostar, algojonya para koruptor. Yang kata, laku, dan keputusannya bercampur menjadi satu tarikan nafas: tegakkan keadilan.

Tentu banyak hal yang bisa diingat dari sosok kurus dan bersahaja ini. Reputasinya menangani kasus super krusial tidak perlu diragukan lagi. Perkara mantan presiden Soeharto pernah ditanganinya pada tahun 2000. Ini bukanlah perkara main-main. Siapa yang tak gentar ketika harus bertugas mengadili orang terkuat Indonesia hanya beberapa saat ia dipaksa turun. 

Di satu sisi loyalis Soeharto masih cukup banyak. Beberapa dari mereka masih mengendalikan aspek politik di Indonesia. Sedangkan di sisi lain lanskap politik Indonesia sedang berubah mencari keseimbangan baru. Membuat keputusan yang adil bukanlah perkara mudah bagi seorang hakim pada masa-masa itu. Namun Artidjo mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Reputasinya menolak suap juga sama. Tak satu percobaan suap pun yang mampu melubangi benteng kokoh seorang Artidjo. 

Suatu ketika seorang suruhan pihak yang perkaranya akan diadili Artidjo datang menemuinya. Tawaran uang dalam jumlah besar disodorkan. Meski hakim anggota lain dalam perkara tersebut sudah terlebih dahulu menerima suap dan setuju membuat keputusan lebih ringan dari seharusnya, tapi bukanlah Artidjo jika tunduk tersungkur pada tawaran itu. "...detik ini Anda keluar, kalau tidak kursi Anda saya terjang atau saya suruh tangkap.", sergahnya mantap.

Bukan karena tawaran suap yang datang terbilang kecil. Suap tak bertepi pernah ia terima. Seorang suruhan pihak yg perkaranya akan diputus Artidjo pernah menawari cek kosong. Syaratnya sederhana saja waktu itu. Silahkan diisi angka berapa pun pada cek kosong itu. Sebagai gantinya, putusan terhadap perkara yang sedang ditangani Artidjo bisa diatur sesuai maunya si pesuap.

Tapi Artidjo adalah Artidjo. Ia tetap sama. Tawaran itu ia tolak mentah-mentah.

Reputasi Artidjo semakin menonjol ketika ia berhadapan dengan kasus-kasus korupsi. Sejumlah nama besar telah diputusnya. Bahkan putusan yang dibuat terbilang berat. Sesuai dengan idealismenya melawan korupsi.

Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, pernah merasakan bagaimana tajamnya palu Artidjo. Luthfi terjerat kasus impor daging sapi. Artidjo menambah masa hukuman Luthfi dari 16 tahun menjadi 18 tahun, disertai pula pencabutan hak politik. Pada waktu itu, inilah rekor hukuman terberat untuk seorang politisi di kasus korupsi.

Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, juga tahu bagaimana ketegasan Artidjo. Anas Urbaningrum terjerat kasus pencucian uang. Dan Artidjolah hakim yang memperberat hukuman Anas, semula seberat 8 tahun menjadi 14 tahun.

Bahkan Artidjo juga ikut berperan dalam penjatuhan hukuman berat bagi Akil Mochtar, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang menyembunyikan uang suap di balik tembok ruang karoke. Artidjo menghadiahi hukuman penjara seumur hidup! Sebuah hukuman yang tidak main-main.

Sejauh ini, sudah lebih sembilan belas ribu kasus yang ditangani Artidjo. Dan sepanjang belasan ribu kasus itu pula idealisme Artidjo menyala. Tak ada ampun bagi terdakwa, tak ada kompromi bagi koruptor.

Namun apa yang kita temui hari ini amat suram. Artidjo sudah tiada. Suka tidak suka, inilah kenyataannya.

Ia pergi justru di saat Indonesia membutuhkan dirinya. Artidjo memang sudah tua dan tidak mampu bertugas penuh seperti dulu. Namun sosoknyalah yang menjadi salah satu panutan bagi para penegak hukum yang masih memiliki idealis di negeri ini. Ia selalu dijadikan teladan bagi generasi sesudahnya dalam menegakkan hukum.

Maka meninggalnya seolah membawa pergi salah satu sumber dukungan moral pemberantasan korupsi. Generasi kini sungguh merasa kehilangan besar.

Padahal upaya penegakkan hukum di Indonesia masih memiliki banyak persoalan. Terutama di bidang korupsi. Jumlah pejabat yang ditangkap KPK belum jua menyusut. Bahkan semakin menggila. Bagaimana tak dikatakan gila jika dana bantuan buat orang-orang melarat selama pandemilah yang dijadikan sasaran korupsi.

Tak cuma itu saja persoalan hukum di Indonesia. Oknum aparat tak hanya masih terlibat main mata dengan koruptor kakap seperti Djoko Tjandra. Tetapi aparat penegak hukum itu sendiri kini dapat menjadi target kekerasan, seperti yang dialami Novel Baswedan.

Bila aparat tersuap oleh para koruptor, maka itu terdengar masuk akal. Transaksi antara kuasa yang dimiliki aparat dan uang yang dimiliki koruptor memang bisa dipertukarkan. Tapi bila aparat menjadi mangsa keberingasan pelaku kejahatan, ini yang masih sulit diterima nalar.

Inilah yang sedang terjadi kini. Dan itu semua hanyalah persoalan yang tampak di permukaan. Permasalahan rumit yang tersembunyi dari perhatian publik sudah barang tentu lebih mengerikan lagi.

Namun apa hendak di kata. Semua yang pernah hidup, pasti akan mati. Semua perjumpaan, mesti mengenal perpisahan.

Artidjo telah pergi. Semua harus menerima kenyataan itu. Dan sekarang tugas kita semua adalah mengingat. Bahwa dulu pada masanya pernah hidup salah seorang hakim terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Ia idealis, bersahaja, dan berkomitmen dalam penegakkan keadilan. Ialah Artidjo Alkostar, algojonya para koruptor.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya